RADARSOLO.COM - Pernikahan dulu sering dianggap sebagai "langkah wajib" setelah lulus kuliah atau mulai bekerja. Saat ini, pandangan tersebut tampaknya mulai berubah. Beberapa tahun terakhir, semakin banyak anak muda yang memilih menunda menikah, bahkan ada yang memutuskan untuk tidak menikah sama sekali. Dampaknya pun mulai terlihat pada data kependudukan Indonesia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Agama, angka pernikahan di Indonesia mengalami tren penurunan dalam satu dekade terakhir. Pada 2013 tercatat lebih dari 2,21 juta peristiwa pernikahan. Angka tersebut terus menurun hingga mencapai sekitar 1,48 juta pernikahan pada 2024, yang menjadi salah satu titik terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Bingung Mau Nonton Film Apa? Ini 4 Film Animasi Pixar yang Wajib Masuk Watchlist
Memasuki 2025 memang terjadi kenaikan tipis menjadi 1.480.048 peristiwa pernikahan tetapi peningkatan tersebut hanya sekitar 1.700 pernikahan sehingga belum cukup untuk mengubah tren penurunan secara keseluruhan.
Pulau Jawa masih menjadi wilayah dengan jumlah pernikahan terbanyak karena memiliki populasi terbesar. Pada 2025, Jawa Barat mencatat sekitar 292 ribu pernikahan, disusul Jawa Timur dengan lebih dari 262 ribu pernikahan dan Jawa Tengah sekitar 225 ribu pernikahan.
Baca Juga: Mengapa Kepercayaan Publik Menjadi Kunci Kepatuhan Membayar Pajak?
Lantas, mengapa angka pernikahan terus menurun?
Salah satu penyebab terbesar adalah persoalan ekonomi. Bagi banyak generasi muda, menikah bukan lagi sekadar soal kesiapan mental, tetapi juga kesiapan finansial. Harga rumah yang semakin tinggi, biaya hidup yang terus meningkat, hingga tanggung jawab membantu keluarga sebagai sandwich generation membuat banyak orang memilih menunda pernikahan sampai merasa benar-benar mapan.
Selain itu, pendidikan dan karier kini menjadi prioritas bagi banyak anak muda. Tidak sedikit yang ingin menyelesaikan pendidikan, membangun karier, atau mengejar impian pribadi sebelum memutuskan berumah tangga. Pernikahan pun tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya tolok ukur kesuksesan seseorang.
Perubahan cara pandang terhadap pernikahan juga ikut berpengaruh. Jika dahulu menikah dianggap sebagai tahap kehidupan yang hampir pasti dijalani semua orang, kini banyak yang melihatnya sebagai pilihan pribadi. Terlebih lagi, perempuan kini memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mengenyam pendidikan tinggi, membangun karier, dan mencapai kemandirian ekonomi sehingga keputusan menikah tidak lagi didorong oleh tuntutan sosial semata.
Baca Juga: Indonesia dan Timeline Kehidupan yang Tak Tertulis
Media sosial juga turut membentuk persepsi baru. Munculnya tren seperti "marriage is scary" membuat banyak orang lebih sering melihat sisi sulit dari kehidupan pernikahan, mulai dari konflik rumah tangga, perceraian, hingga tekanan ekonomi. Meski tidak selalu mencerminkan kenyataan, paparan konten semacam ini dapat memengaruhi cara pandang seseorang terhadap pernikahan.
Menurunnya angka pernikahan juga berkaitan dengan tren penurunan angka kelahiran di Indonesia. Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis BPS menunjukkan bahwa kini Total Fertility Rate (TFR) Indonesia berada di angka 2,13 anak per perempuan. Angka ini turun jauh dibandingkan era 1970-an ketika rata-rata perempuan Indonesia melahirkan lebih dari lima anak.
Di beberapa daerah, terutama wilayah perkotaan, angka tersebut bahkan sudah berada di bawah tingkat penggantian penduduk (replacement level). DKI Jakarta memiliki TFR sekitar 1,84, sedangkan DI Yogyakarta sekitar 1,81. Sebaliknya, sejumlah provinsi di kawasan timur Indonesia masih mencatat angka kelahiran yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.
Penurunan angka kelahiran tidak hanya dipengaruhi oleh semakin banyaknya pasangan yang menunda menikah. Keberhasilan program Keluarga Berencana (KB), meningkatnya tingkat pendidikan perempuan, serta tingginya partisipasi perempuan di dunia kerja juga menjadi faktor yang mendorong keluarga memiliki jumlah anak yang lebih sedikit dibandingkan generasi sebelumnya.
Di satu sisi, penurunan angka kelahiran menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam merencanakan keluarga. Di sisi lain, tren ini juga membawa tantangan baru. Indonesia mulai memasuki fase ageing population, yaitu kondisi ketika jumlah penduduk lanjut usia terus bertambah. Berdasarkan data BPS, proporsi penduduk lansia kini telah mencapai sekitar 11,97 persen dari total populasi.
Apabila tren ini terus berlanjut dalam jangka panjang, Indonesia berpotensi menghadapi berkurangnya jumlah penduduk usia produktif yang menopang perekonomian. Kondisi tersebut dapat berdampak pada pasar tenaga kerja, sistem jaminan sosial, hingga pembiayaan layanan kesehatan bagi masyarakat lanjut usia.
Editor : Kabun Triyatno