Tren Anak SD Naik Sepeda Listrik, Seru atau Justru Berisiko?

Annas Rohmanda Purbaningrum • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 07:40 WIB
Anak-anak SD Ramai Menggunakan Sepeda Listrik. (AI Generated)
Anak-anak SD Ramai Menggunakan Sepeda Listrik. (AI Generated)

RADARSOLO.COM - Belakangan ini makin sering melihat anak-anak naik sepeda Listrik? Ada yang keliling kompleks, pergi ke rumah teman, sampai berangkat atau pulang sekolah. Bentuknya yang lucu dan cara pakainya yang simpel bikin sepeda listrik jadi salah satu kendaraan yang menarik perhatian anak-anak.

Buat anak SD, naik sepeda listrik memang kelihatan seru. Tinggal putar gas, nggak perlu capek mengayuh, lalu bisa jalan-jalan bareng teman. Apalagi kalau beberapa teman di lingkungan rumah juga sudah punya, rasanya makin pengin ikut-ikutan.

Tapi, ada satu hal yang jangan sampai dilupakan, sepeda listrik tetap kendaraan bukan sekadar mainan.

Baca Juga: Pop Mart Hadirkan Kolaborasi Karakter DIMOO dengan Disney Pixar, Tampilkan Tokoh Ikonik dalam Versi Menggemaskan

Memang, kecepatannya tidak sekencang motor, kecepatan maksimalnya hanya 25 kilometer per jam. Akan tetapi, bagi anak yang masih duduk di bangku SD, kecepatan segitu tetap bisa berbahaya kalau digunakan tanpa pengawasan.

Masalahnya bukan cuma soal bisa atau tidak mengendarai sepeda listrik. Anak juga perlu mampu membaca kondisi di sekitarnya. Misalnya, tahu kapan harus mengerem ketika ada orang menyeberang, tidak asal berbelok, dan bisa memperkirakan jarak dengan kendaraan lain.

Hal-hal seperti itu mungkin terdengar sederhana bagi orang dewasa tetapi belum tentu mudah dilakukan anak-anak. Apalagi kalau mereka mengendarainya sambil bercanda atau terlalu asyik bersama teman.

Risikonya tentu makin besar kalau sepeda listrik dibawa ke jalan yang ramai. Anak yang sudah lancar mengendarai sepeda listrik di halaman rumah atau kompleks belum tentu siap menghadapi kendaraan dari berbagai arah.

Baca Juga: Mengapa Sebagian Anak Perempuan Tidak Menyukai Warna Pink? Ternyata Ada Penjelasan Ilmiahnya

Aturannya pun sebenarnya sudah jelas. Sepeda listrik digunakan di lajur khusus atau kawasan tertentu, seperti kawasan permukiman, kawasan wisata, area perkantoran, dan area lain yang memang diperbolehkan. Jadi, bukan berarti setelah punya sepeda listrik anak bisa bebas membawanya ke mana-mana seperti naik motor.

Di sinilah peran orang tua menjadi penting. Kalau anak ingin punya atau menggunakan sepeda listrik, jangan cuma memastikan anak sudah bisa mengendarainya. Orang tua juga perlu melihat apakah anak sudah cukup siap untuk menggunakannya dengan aman.

Kalau masih kecil, sebaiknya penggunaan sepeda listrik tetap didampingi. Pilih area yang relatif aman dan sesuai aturan, jauhkan dari jalan raya yang ramai, dan jangan lupa gunakan helm serta perlengkapan keselamatan lainnya.

Anak juga perlu diberi pemahaman sederhana bahwa sepeda listrik bukan mainan yang bisa digunakan sesuka hati. Ajarkan kapan harus mengurangi kecepatan, menggunakan rem, berhenti, dan memperhatikan orang lain di sekitar.

Baca Juga: Anak-Anak Naik Sepeda Listrik Jadi Perhatian Polisi saat Operasi Keselamatan Candi 2026 di Sukoharjo

Yang sering terlupakan, bisa mengendarai sepeda listrik belum tentu berarti sudah siap mengendarainya sendirian. Anak mungkin sudah jago menjaga keseimbangan tetapi kemampuan mengambil keputusan ketika menghadapi situasi tak terduga masih terus berkembang.

Apakah anak SD naik sepeda listrik itu seru atau berisiko? Jawabannya bisa dua-duanya. Seru kalau digunakan di tempat yang tepat dan dengan pengawasan. Berisiko kalau anak dibiarkan berkendara tanpa aturan dan pengawasan yang cukup.

Editor : Kabun Triyatno
sd risiko anak sepeda listrik pengawasan