RADARSOLO.COM - Aktivitas vulkanik Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah kembali mengalami peningkatan.
Gunung berapi teraktif di Indonesia ini terpantau kembali memuntahkan Awan Panas Guguran (APG) serta rentetan lava pijar dengan jarak luncur mencapai 2 kilometer ke arah barat daya.
Meskipun intensitas guguran terekam cukup signifikan, pihak berwenang memastikan situasi di sekitar kawasan lereng Merapi masih relatif aman dan terkendali.
Baca Juga: Awan Panas Guguran Merapi Meluncur 2 Kilometer, Warga Diminta Jauhi Daerah Bahaya
Lantas, bagaimana status teknis terkini serta kawasan mana saja yang masuk dalam zona bahaya?
Kronologi Luncuran Awan Panas dan Lava Pijar
- Insiden Awan Panas Guguran (Jumat Malam, 28/8/2026):
Gunung Merapi menyemburkan awan panas guguran pada pukul 21.22 WIB dengan durasi semburan selama 117 detik.
Material luncuran mengarah ke hulu Kali Sat/Kali Putih sejauh 2 km.
Sempat terdeteksi empat titik vegetasi yang terbakar di lereng puncak melalui CCTV, namun kobaran api mengecil dan padam total pada pukul 22.00 WIB.
- Guguran Lava Pijar Beruntun (Sabtu Pagi, 29/8/2026):
Hingga Sabtu pagi pukul 07.45 WIB, Merapi kembali memuntahkan lava pijar sebanyak 5 kali guguran dengan jarak jangkauan maksimal 2.000 meter (2 km) ke sektor barat daya (Kali Sat/Putih).
"Teramati 5 kali guguran lava ke arah Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter," demikian laporan magma.esdm.go.id.
Selain itu, instrumen kegempaan mencatat 34 kali gempa guguran serta 13 kali gempa fase banyak/hybrid.
Baca Juga: Cek Pencairan Bansos PKH-BPNT Tahap 3, Masihkah Berlanjut di September 2026? Pantau Jadwal Lengkapny
Kendati terjadi peningkatan intensitas guguran material, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Magelang mengonfirmasi tidak ada sebaran hujan abu yang berdampak ke permukiman warga di wilayah Srumbung, Dukun, maupun Sawangan.
Status Terkini Bertahan di Level 3 (Siaga)
Hingga saat ini, BPPTKG menegaskan status Gunung Merapi masih bertahan di Level 3 (Siaga).
Tingkat aktivitas Siaga ini menandakan bahwa potensi ancaman vulkanik terus berlanjut di sekitar area pusat erupsi, namun dampaknya diperkirakan belum meluas hingga ke kawasan permukiman di luar zona radius bahaya yang ditetapkan.
Baca Juga: Viral Kronologi Bambang Setiawan Tewas saat Demo Ricuh di Pejompangan, Siapa Pelaku Pengeroyokan?
Secara pengamatan visual pada Sabtu (29/8), kondisi puncak gunung terpantau cukup jelas, asap kawah tidak teramati, dan kondisi cuaca di sekitarnya cenderung cerah hingga mendung dengan tekanan udara serta suhu yang stabil.
Pemetaan Zona Bahaya dan Imbauan BPPTKG
Untuk mengantisipasi potensi bahaya susulan, BPPTKG telah merilis peta pemetaan wilayah rawan bencana yang wajib dihindari oleh warga maupun wisatawan:
- Sektor Selatan - Barat Daya:
Potensi guguran lava dan awan panas meliputi alur Sungai Boyong (hingga jarak maksimal 5 km), serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (hingga jarak maksimal 7 km).
Baca Juga: Siapa Bambang Setiawan dan Teka-Teki Pengeroyoknya?Pedagang Cermin yang Tewas saat Ricuh Pejompangan
- Sektor Tenggara:
Meliputi alur Sungai Woro (hingga jarak maksimal 3 km) dan Sungai Gendol (hingga jarak maksimal 5 km).
Ancaman Letusan Eksplosif
Apabila terjadi lontaran material vulkanik dari letusan eksplosif, radius bahaya berada dalam jarak 3 km dari puncak gunung.
Masyarakat yang bermukim di sepanjang alur sungai yang berhulu di Merapi diimbau untuk tetap tenang.
Serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman banjir lahar dingin terutama saat terjadi hujan deras, serta mengantisipasi potensi gangguan debu atau abu vulkanik.
Editor : Syahaamah Fikria