IWAN ADI LUHUNG, Wonogiri
MASKER kain yang direkomendasikan oleh pemerintah untuk digunakan ketika beraktivitas ternyata kurang efektif apabila digunakan oleh penyandang tuli. Hal ini yang mendorong Eka Sari Utami, 24, seorang juru bahasa isyarat, dan Sutantini, 40, penyandang tuli untuk membuat masker transparan.
Siang kemarin, Jawa Pos Radar Solo menyambangi rumah Tanti, panggilan akrab Sutantini, di Dusun Blimbing RT 01 RW 09 Kelurahan Wuryorejo, Wonogiri Kota. Di ruang tamu rumahnya, ada sebuah mesin jahit yang biasa dia gunakan. Di samping mesin jahit itu, tampak tumpukan kain yang digunakan untuk bahan membuat masker dan benang warna-warni yang tertata rapi di dinding.
Ibu dua anak ini kemudian mempraktikkan cara menjahit masker transparan. Tangannya terlihat terampil membuat masker. Tak mengherankan, karena dia juga seorang penjahit yang sering menerima order jahit pakaian sebelum wabah korona menerjang.
Namun, karena kesulitan dalam berkomunikasi dengan bahasa isyarat, Jawa Pos Radar Solo meminta bantuan Eka Sari Utami, juru bahasa isyarat yang turut mendorong Tanti membuat masker transparan itu.
Dikatakan Eka, awal mula ide membuat masker transparan berasal dari postingan teman-temannya di sosial media. “Saya kan punya teman tuli banyak. Mereka mengunggah masker transparan yang dibuat oleh teman tuli di Amerika lewat story mereka masing-masing,” bebernya.
Masker transparan dibuat untuk mempermudah komunikasi penyandang tuli dengan orang lain sehingga gerak bibir pemakai masker bisa terbaca. Kompatriotnya dari Jogja pun menanyakan adakah yang ingin membuat masker tersebut. Dia kemudian mendorong Tanti untuk membuat masker transparan itu. Eka berpikir, pandemi yang berlangsung ini juga berefek kepada kehidupan Tanti. Sebab, dia biasanya menjahit pakaian pesanan seperti kebaya, setelah ada wabah ini, penghasilannya pun menurun drastis.
Dia bersama dengan Tanti pun mulai merancang pola yang tepat. Sejak mulai bereksperimen pada 8 April lalu, sudah beberapa kali desain masker berubah. Masker transparan itu dibuat dengan bahan-bahan di antaranya kain toyobo, kain furing SPTI, dan mika.
“Desainnya beberapa kali berubah, Mbak Tanti kan sebelumnya juga belum pernah menjahit masker. Kami perhitungkan juga untuk teman-teman tuli yang memakai alat bantu dengar. Akhirnya maskernya kita desain dengan tali di leher dan kepala. Bukan yang dikaitkan di telinga karena kurang nyaman untuk teman yang menggunakan alat bantu dengar,” jelas Eka.
Dengan masker ini, Eka menambahkan, teman-temannya yang lebih suka disebut penyandang tuli dibanding tunarungu ini akan lebih mudah berkomunikasi tanpa melepas maskernya. Apabila menggunakan masker kain yang biasa, gerak bibir tidak akan terbaca. Sebab, bibir tertutup oleh masker.
Awalnya, dia ingin membuat masker transparan ini untuk dibagikan kepada penyandang tuli di Wonogiri saja. Namun, ternyata ada peminat cukup banyak dari luar daerah. Bahkan, ada yang membuka donasi online untuk memesan masker khusus itu agar bisa dibagikan kepada orang-orang tuli. Satu masker transparan dibanderol Rp 7.500 untuk jasa jahit dan bahan-bahannya.
Namun apabila ada teman dengar (orang normal yang berkomunikasi dengan orang tuli atau teman tuli), masker dibanderol Rp 15 ribu. Dengan catatan mendapatkan satu masker dan menyumbangkan satu masker ke penyandang tuli.
“Yang pesan harus antre sesuai list. Sebab, kapasitas produksi hanya 10 masker setiap hari. Saya mengambil masker dan mengirimkan bahan pun paling cepat tiga hari sekali atau sepekan sekali. Kan ikut aturan pemerintah, sebisa mungkin di rumah saja,” jelasnya.
Saat ini, ada 60 orang penyandang tuli di Wonogiri yang diberi masing-masing dua masker transparan secara cuma-cuma. Penyalurannya pun menerapkan protokol kesehatan. Koordinator penyandang tuli diminta mengambil masker di rumah Eka. Setelah itu masker diambil oleh penyandang tuli lain di halaman rumah koordinator dengan menjaga jarak satu hingga satu setengah meter.
Eka mengatakan, masker tersebut bisa dicuci sehingga tak hanya sekali pakai. Bagian mika transparannya pun dengan mudah bisa dilap dengan kain. “Tujuan utama pembuatan masker transparan ini agar teman-teman tuli bisa menjaga kesehatannya juga dari Covid-19. Selain itu, mereka bisa berkomunikasi lebih mudah ketika gerak bibirnya bisa terbaca tanpa membuka tutup masker,” tandasnya. (*/bun/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra