KOMUNIKASI publik yang efektif adalah hal yang krusial dalam menghadapi pandemi. Riset-riset terdahulu menunjukkan terdapat beberapa alasan yang menyebabkan kurang berhasilnya komunikasi publik terkait dengan penyakit menular. Antara lain ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah dan ketidakmampuan untuk menyesuaikan informasi terhadap beberapa jenis publik yang ada.
Tingkat kepercayaan yang rendah dapat menyebabkan masyarakat menjadi tidak patuh akan anjuran kesehatan. Sehingga menyebabkan penularan penyakit tidak mudah untuk dikendalikan. Pengambilan keputusan mengenai perilaku kesehatan dalam masa pandemi juga didasari rasa percaya terhadap juru bicara resmi yang ditunjuk.
Pemerintah Indonesia menunjuk dr. Achmad Yurianto selaku Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerien Kesehatan sebagai juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Penunjukan dr. Yuri tentu saja bukan tanpa alasan, pria alumni Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tersebut telah mempunyai segudang pengalaman sebagai dokter di lingkungan militer sebelum bergabung dengan Kementerian Kesehatan.
Segala kontribusi dr. Yuri terhadap perkembangan informasi Covid-19 dalam perjalanannya ternyata tidak terlepas dari kontroversi. Hal yang menjadi perhatian adalah ketika beliau menyebutkan istilah si kaya dan si miskin. Pernyataan ini kemudian menjadi viral karena banyak masyarakat merasa tidak sependapat atau tersinggung dengan pernyataan tersebut. Mau tidak mau, hal ini mempunyai imbas terhadap citra beliau sebagai juru bicara pemerintah.
Hingga pada tanggal 8 Juni 2020, terdapat hal berbeda ketika dr. Yuri tidak tampil seorang diri, melainkan didampingi oleh dr. Reisa Broto Asmoro. Saat itu dr. Reisa tampil sebagai tim komunikasi publik Gugus Tugas Covid-19. Hal ini kemudian dibenarkan oleh juru bicara Presiden, Fadjroel Rachman. Ia menyampaikan bahwa dr. Reisa secara resmi menjadi juru bicara tim Gugus Tugas Covid-19 yang bertugas memberikan informasi dan edukasi kepada publik.
Tampilan yang menarik merupakan hal yang paling banyak diperbincangkan oleh netizen. Publik telah banyak mengenalnya ketika menjadi pembawa acara dalam dr. Oz Indonesia. Hal ini lah yang membuat kehadirannya menjadi pusat perhatian, karena memang sebelumnya dr. Reisa sudah familiar di publik dengan citra selebriti sekaligus influencer kesehatan.
Dalam era digital saat ini yang lekat dengan adanya internet dan media sosial, peran influencer cukup dominan dalam berbagai kegiatan campaign. Kelebihan influencer ini adalah mereka mempunyai audiens yang luas dan tidak jarang mereka adalah acuan seseorang dalam berpikir dan bahkan dalam mengambil keputusan. Bidang ilmu komunikasi menyebut istilah ini sebagai opinion leader. Peran opinion leader menjadi penting dalam suatu campaign karena melalui jaringan-jaringan sosialnya, ia dapat menggerakkan massa untuk mengadopsi suatu pesan perubahan yang disampaikan.
Kebijakan komunikasi pemerintah kali ini dapat dikatakan responsif. Momen mengubah “wajah” tim Gugus Tugas Covid-19 ketika pemerintah sedang melakukan kampanye tentang normal baru. Selain itu, terdapat faktor lain yang dapat mendukung kebijakan ini menjadi sesuatu yang berarti, yaitu publik mulai bosan dengan format pemerintah dalam menyampaikan informasi.
Diharapkan kehadiran dr. Reisa dapat kembali mengambil perhatian publik untuk menyampaikan pesan-pesan penting mengenai adaptasi perilaku kesehatan dalam masa normal baru. Selain itu, dengan adanya simbol komunikasi baru, peluang sampainya informasi kepada segmen publik baru yang sebelumnya tidak tersentuh juga terbuka lebar. Hasil akhir yang diharapkan bahwa seluruh segmen publik teredukasi mengenai protokol kesehatan yang diterapkan dalam masa normal baru sehingga sektor ekonomi dapat kembali bangkit bersamaan dengan upaya memitigasi risiko Covid-19. (*) Editor : Perdana Bayu Saputra