BAGI yang lahir di era 1970 -1990 pasti tidak asing dengan kaset atau compact cassette. Yakni media penyimpan data yang umumnya berupa lagu atau suara. Seiring perkembangan zaman, pita kaset lambat laun mulai tergantikan oleh musik berformat digital seperti MP3. Sebelumnya kaset juga sempat nyaris tergeser karena kehadiran compact disc (CD) yang kualitas suaranya lebih bagus.
”Saya sejak 90an mulai suka kaset, ya karena dulu trennya kaset. Lagu-lagu pakai kaset,” kata warga Desa Tanjung Jarak RT 2 RW 1 Kecamatan Nguter, Sukoharjo ini.
Koleksi kaset pita Bimo tidak banyak seperti kolektor lainnya. Karena alasan untuk mengkoleksi bukan untuk mencari keuntungan. Melainkan karena ingin mengarsipkan sejarah. Setidaknya Bimo yang akrab dipanggil Kokor ini mempunyai lebih dari 200 kaset.
”Saya suka sejarah, termasuk benda-benda yang saya anggap nantinya akan hilang. Seperti kaset pita ini. Lalu, buku, koran, saya juga koleksi koran-koran lama. Terbukti saat ini kaset pita mulai langka. Awalnya ada CD, lalu mulai semakin tergerus oleh produk-produk digital,” katanya.
Diakui, kaset pita mulai ditinggalkan saat memasuki milenial baru 2000 an. Penikmat musik mulai beralih menggunakan data digital untuk menikmati musik yang bisa diunduh melalui internet atau hanya sekadar didengarkan di internet. Saat ini, penikmat musik mulai tidak beli kaset bahkan CD.
”Sekarang mau mendengarkan lagu-lagu jadul, lagu-lagu apa saja di internet ada,” katanya.
Koleksi Kokor juga tergolong unik. Bukan lagu-lagu populer, melainkan kaset wayang Ki Narto Sabdo, kaset pelajaran bahasa inggris, intrumen-instrumen music, lagu-lagu daerah, lagu-lagu perjuangan, drama radio dan gending-gending Jawa.
”Ya koleksi band juga ada seperti Padi dan lainnya, grup band luar negeri juga ada,” katanya.
Dari seluruh koleksinya, yang paling berkesan adalah kaset pidato Bung Karno. Meskipun hasil rekaman ulang, karena memang tidak di produksi, namun bisa mendapatkan rekaman itu pada era 90 an merupakan kebanggaan tersendiri. Setidaknya ada tiga kaset pidato Bung Karno saat Hari Lahir Pancasila, Maulid Nabi dan Jasmerah.
Sayangnya, saat itu kaset tidak diproduksi massal. Hanya orang-orang yang punya akses ke pemerintah saja yang punya rekamannya. Tapi, mendapatkan kaset itu di masa kejayaan Orde Baru adalah kebanggaan tersendiri.
”Saya dulu dapatnya di Pasar Maling, Semarang, waktu saya kuliah. Dapat kaset itu bangga sekali. Bahkan tidak beli, dikasih sama penjual kaset langganan saya. Karena beliau tahu saya penggemar Bung Karno,” bebernya. (kwl/adi) Editor : Perdana Bayu Saputra