RYAN AGUSTIONO, Solo, Radar Solo
SENI letterpress printing adalah sebutan untuk teknik cetak dalam seni grafis. Termasuk di dalamnya teknik cukil kayu. Di mana bagian matriks (plat atau papan) yang akan mencetak warna adalah pada permukaan aslinya. Bagian yang tak berwarna adalah bagian yang dicukil tersebut.
Seni cetak tinggi atau cetak relief ini tergolong teknik tertua dalam bidang seni grafis. Karya seni grafis dengan teknik ini punya karakter dan sentuhan khas. Menonjolkan visualisasi yang sangat kuat.
Di Kota Bengawan, ada seorang seniman yang konsisten di jalur ini. Dia adalah Sigit Purnomo Adi, dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Di tengah kesibukan mengajar online, dia menyempatkan waktu membuat lukisan cetak relief. Dikerjakan di kediamannya di Dusun Kebakan, Desa Sapen, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo.
“Seniman harus sigap mengatasi problematika di tengah pandemi Covid-19. Meski pekerjaan terdampak, namun harus punya solusi dan mencari jalan keluar,” ucap Sigit saat ditemui di kediamannya, kemarin (6/10).
Jarang digeluti, seni cetak tinggi sejatinya cukup banyak peminat. Terutama kalangan mahasiswa. Mengingat selama pengerjaan, tidak membutuhkan media, alat, dan bahan-bahan yang menguras kantong. Justru bisa didapat di mana pun dan kapan pun.
“Paling penting lagi, cetak tinggi punya karakter yang khas. Susah ditiru karena kharakteristik cukilnya. Selain dijadikan karya seni grafis, juga bisa diaplikasikan menjadi karya desain di atas kaos oblong, tote bag, slayer, poster, dan lain-lain,” imbuhnya.
Keunggulan lain dari seni cetak tinggi, yakni bisa digunakan berkali-kali untuk mencetak ke beberapa media. Berbeda dengan seni lukis yang hanya dilakukan sekali. Bahan dan media yang digunakan mudah didapat di sekitar rumah.
Selama ini, Sigit memanfaatkan sampah bekas rumah tangga atau barang tak terpakai. Yakni tripleks bekas, plastik bekas, kertas bekas, kain bekas, kayu bekas, termasuk daun yang sudah mengering.
“Pewarnaan, saya menggunakan tinta berbasis air dan minyak. Hanya modal Rp 500 ribu saja. Karya saya bisa laku hingga Rp 10 juta-Rp 15 juta. Bahan karya craft lebih murah, sekitar Rp 50 ribu-Rp 150 ribu. Kemudian paint art sekitar Rp 3 juta-Rp 5 juta,” ungkapnya.
Sasaran karya seni Sigit lebih ke hiasan untuk interior ruangan. Pangsa pasarnya bahkan merambah luar negeri. “Banyak diminati masyarakat umum sampai turis yang benar-benar penggila desain interior unik dan menarik,” timpalnya.
Tak dipungkiri, cukup sulit memasarkan karya seni cetak tinggi. Namun, Sigit tak patah arang. Dia getol merambah pameran seni, workshop, event, hinga dari mulut ke mulut.
Supaya seni teknik cetak tinggi tetap eksis, Sigit coba menuangkannya ke dalam buku. Judulnya Cetak Tinggi dan Pengaplikasiannya. Dia garap bersama dua seniman lainnya, Nurina Susanti dan Nursina Rasyidin Panggabean.
“Sudah banyak karya yang saya buat dan ikut pameran. Ada seni grafis, teknik cukil kayu, karya seni kanvas dan kertas, instalasi, papper cut, sampai craft,” ujarnya. (*/fer/bun/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra