ANTONIUS CHRISTIAN, Solo, Radar Solo
KETIKA Jawa Pos Radar Solo menyambangi lokasi pembuatan peti mati berbahan rotan ini, para pekerja sedang sibuk. Ada yang memilih bahan baku sebelum rotan dianyam. Ada yang sedang sibuk menganyam membentuk peti mati. Terlihat pula beberapa tenaga melakukan finishing. Natianingsih, pemilik usaha juga tak kalah sibuk mengecek kualitas barang sebelum dikirim.
Ya, menjaga kualitas barang memang menjadi hal yang penting. Sebab, meski asli buatan dalam negeri, peti-peti jenazah ini tidak dijual di Indonesia saja. Namun, akan dikirim ke negara-negara Eropa, sepeti Jerman, Inggris, Belanda, dan lainnya.
Natianingsih memilih menjual hasil produksinya ke luar negeri selain jumlah permintaan sangat banyak, harga jual peti mati rotan ini juga lebih terjangkau di kantong mereka. “Pernah saya jual dalam negeri, tapi tidak ada yang minat. Kemudian saya coba pasarkan ke luar negeri responsnya sangat baik," katanya.
“Untuk satu peti mati kami jual antara Rp 2juta - Rp 3 juta. Ya tergantung kerumitan anyaman sama finishing-nya. Ada juga yang order anyaman tertentu. Kalau itu harganya beda, tergantung deal harganya berapa,” jelas Natianingsih.
Karena dijual di luar negeri, ukuran peti mati ini menyesuaikan tinggi rata-rata orang Eropa. Yakni berukuran 170 sentimeter sampai 2 meter. Untuk pembuatan satu peti mati rotan mulai dari pemilahan bahan, penganyaman, hingga finishing membutuhkan waktu sekitar dua hari.
Natianingsih memiliki puluhan pegawai yang membantunya untuk menyelesaikan produksi peti mati rotan tersebut. Saat pandemi Covid-19 ini, diakui Natianingsih, secara langsung memberikan keuntungan bagi usaha dia. Bahkan, pada awal Covid-19 merebak, permintaan peti mati rotan buatanya meroket hingga 50 persen. Bahkan, terbanyak dia pernah mengirim sembilan kontainer berisi peti ke luar negeri.
“Mereka pesan banyak itu untuk stok katanya. Takut kalau nanti Indonesia di-lockdown, tidak bisa mengambil barang dari saya. Dulu saya buat untuk stok. Tapi sekarang buat untuk memenuhi pesanan,” urainya.
Meski permintaan terus berdatangan, namun bukan berarti usaha ini tak ada kendala. Persediaan bahan baku saat ini semakin langka. Pasalnya, produsen bahan baku rotan mentah lebih memilih langsung ekspor, daripada menjual kepada perajin seperti Natianingsih.
“Kalau masalah kesulitan bahan baku, bukan cuma saya yang mengalami, tapi perajin lain juga merasakan hal yang sama. Coba saja tanyakan ke pengusaha lain di sekitar sini. Pasti keluhannya sama, bahan untuk diolah langka,” paparnya.
Dia, misalnya. Untuk mendapatkan bahan baku harus didatangkan dari Surabaya. Sebab itu, dia berharap pemerintah memperhatikan nasib perajin rotan. "Harus ada aturan ketat soal regulasi ekspor rotan mentah ke luar negeri. Agar perajin seperti kami ini masih bisa produksi,” ujarnya. (*/bun/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra