SOLO Great Sale (SGS) yang diselenggarakan 1-31 Oktober diharapkan menjadi momentum pemulihan kondisi perekonomian di eks Karesidenan Surakarta.
SGS kali ini mengusung tema “Memanfaatkan Potensi Ekonomi Digital untuk Solo Melompat Lebih Jauh”. Pemilihan tema ini berdasarkan fakta bahwa di masa pandemi COVID 19, aktivitas bisnis di eks Karesidenan Surakarta terjaga dari penurunan yang lebih dalam karena digitalisasi dalam proses bisnis, termasuk di dalamnya pemasaran dan transaksi digital.
Masa pandemi yang berlangsung hampir 2 tahun memukul aktivitas bisnis di kawasan ini. Perekonomian di Kota Surakarta 2020 lalu mengalami kontraksi -1,74 persen.
Kontribusi utama penyebab kontraksi pertumbuhan ekonomi Kota Solo 2020, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Surakarta adalah lapangan usaha transportasi dan pergudangan yang mengalami pertumbuhan -62,69 persen, lapangan usaha penyediaan makan dan minum yang tumbuh -15,67 persen dan lapangan usaha jasa lainnya yang tumbuh -14,32 persen.
Lapangan usaha lain yang mengalami pertumbuhan negatif cukup besar adalah lapangan usaha jasa perusahaan sebesar negatif 8,53 persen, lapangan usaha pertambangan dan penggalian sebesar negatif 6,15 persen, lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar negatif 5,18 persen dan lapangan usaha industri pengolahan sebesar negatif 4,01 persen.
Pandemi Covid-19 ternyata belum berakhir di 2021, bahkan penyebaran varian Delta menyebabkan jumlah penularan dan pasien yang meninggal mengalami peningkatan.
SGS diselenggarakan pada saat PPKM mulai turun level. Momentum ini diharapkan bisa mendorong kesuksesan SGS. Pertanyaannya, apakah SGS yang ditargetkan menghasilkan transaksi senilai Rp 800 miliar bisa berdampak positif menggerakkan perekonomian Kota Solo?
Rantai Pasok Bisnis Ritel
Bisnis ritel atau perdagangan eceran adalah bisnis yang konsumennya adalah end customer atau konsumen akhir (Levy et al., 2012). Bisnis ritel dalam distribusi barang dan jasa mempunyai peran penting dalam perekonomian, karena bisnis ini mempunyai informasi tentang jumlah permintaan dan karakteristik konsumen (Peterson dan Balasubramanian, 2002).
Peran ritel yang menjadikan bisnis ini adalah indikator yang paling mudah menggambarkan tingkat konsumsi masyarakat. Penurunan penjualan ritel bisa diartikan ada masalah dalam perekonomian karena bisa diartikan terjadi penurunan daya beli masyarakat.
SGS merupakan kegiatan promosi harga dari bisnis ritel dengan strategi utama pemberian diskon besar-besaran hampir semua produk. Promosi harga dengan pemberian diskon adalah strategi utama bisnis ritel selain lokasi yang strategis (Levy et al., 2004;Arnold dan Luthra, 2000).
Hal ini dilakukan pada momentum yang tepat karena pada awal tahun biasanya siklus bisnis berada dalam kondisi permintaan hanya sedikit. Artinya SGS merupakan sebuah usaha untuk menciptakan permintaan. Namun demikian dalam bisnis harapan para pebisnis adalah permintaan terhadap produk terus konsisten tinggi sepanjang tahun.
Bisnis ritel bisa menjadi penggerak atau lokomotif pertumbuhan ekonomi hanya terjadi jika sektor industri pengolahan dan komoditas primer adalah pemasok utama atau memiliki keterkaitan dengan bisnis ritel. Atau dengan kata lain produk atau komoditas yang dijual adalah produk dalam negeri atau mempunyai kandungan lokal tinggi.
Dalam kondisi seperti ini, industri ritel benar-benar menjadi industri yang strategis bagi perekonomian karena perannya sebagai ujung tombak rantai distribusi komoditas dan produk yang bermanfaat bagi masyarakat.
Pada kenyataannya tidaklah demikian. Membanjirnya produk impor di dalam bisnis ritel Indonesia secara khusus juga di Solo menyebabkan bisnis ritel hanya menjadi kepanjangan tangan dari industri pengolahan global dan multi nasional.
Potensi Ekonomi Digital
SGS 2021 adalah momentum pemulihan ekonomi sekaligus mengukur potensi ekonomi digital di kawasan eks Karesidenan Surakarta. Ekonomi digital dalam event ini diwujudkan dengan integrasi bisnis para tenant dengan lokapasar serta penggunaan transaksi digital.
Harapannya ada kemudahan dalam proses transaksi serta perluasan dampak komunikasi pemasaran sehingga target transaksi bisa tercapai. Harapan lainnya adalah integrasi lokapasar dan para pelaku bisnis lokal dalam memperkuat produk dan merek lokal. Dalam jangka panjang, hal ini tidak hanya mempercepat pemulihan ekonomi di eks Karesidenan Surakarta, tapi juga menjamin kualitas pertumbuhan ekonomi di kawasan ini. (*) Editor : Damianus Bram