DEMAM tifoid atau lebih banyak dikenal masyarakat sebagai penyakit tifus masih menjadi masalah kesehatan global. Menurut WHO demam tifoid menyebabkan kematian sebanyak 128.000 – 161.000 di tahun 2019 (WHO, 2020). Di Indonesia sendiri angka kejadiannya masih cukup tinggi yaitu 500 kasus per 100.000 penduduk dengan angka kematian mencapai 5% (Kemenkes, 2006).
Pengobatan dengan antibiotik merupakan penanganan utama untuk mengatasi demam tifoid. Namun, banyak masyarakat yang memilih menggunakan cacing tanah (Lumbricus rubellus) untuk membantu mengobati demam tifoid. Cacing tanah (Lumbricus rubellus) mempunyai kandungan aktif protein yang cukup tinggi yaitu berkisar antara 58–71% pada cacing yang sudah dikeringkan (Sun dan Jiang, 2017). Pada saat ini di pasaran banyak dijumpai obat tradisional yang menggunakan cacing tanah ini sebagai bahan bakunya. Beberapa industri obat tradisional mengolah cacing tanah ini dan mengemasnya dalam sediaan kapsul yang diproduksi secara massal.
Kandungan protein pada sediaan obat tradisional berbahan baku cacing ini sangat dipengaruhi oleh proses produksinya. Kondisi pH maupun temperatur selama proses pengolahan maupun pH berpengaruh pada kualitas maupun kadar proteinnya, sehingga memungkinkan adanya perbedaan kandungan protein antar produk. Selain itu proses pengolahan yang tidak tepat dapat menurunkan kandungan proteinnya. Untuk itu diperlukan suatu teknologi tepat guna untuk menjamin mutu produk obat berbahan baku cacing sehingga mempunyai efek yang sesuai dengan tujuan penggunaannya.
Tim pengabdian Universitas Muhammadiyah Surakarta telah melakukan serangkaian kegiatan pengabdian melalui program Pengabdian Masyarakat Penerapan Teknologi Tepat Guna (P2TTG) bekerja sama dengan CV Berkah Alam sebagai mitra pengabdian. CV Berkah Alam yang beralamat di Sragen merupakan produsen berbagai obat tradisional salah satunya adalah ®VERMUS yang berbahan utama cacing tanah. Pengabdian ini bertujuan untuk alih teknologi dalam pengolahan bahan baku cacing dan standardisasi kandungannya untuk peningkatan kualitas produk.
Program pengabdian ini dilaksanakan mulai Desember 2021 selama enam bulan. Program ini diketuai oleh apt. Wahyu Utami, M.Si., Ph.D yang beranggota apt. Ahmad Fauzi, M.Farm dan Denny Vitasari, M.Eng.Sc., Ph.D dan beberapa mahasiswa sebagai wujud kepedulian perguruan tinggi untuk membantu menyelesaikan permasalahan terkait produksi dan standardisasi produk obat tradisional berbahan baku cacing tanah. Tim melaksanakan serangkaian penelitian terkait pengolahan cacing tanah dan standardisasi kandungan proteinnya kemudian mengembangkan dan menerapkannya untuk meningkatkan efisiensi produksi dan kualitas produk. Penelitian dan pengembangan yang dilakukan meliputi optimasi ekstraksi protein dari sampel kapsul cacing, terkait dengan waktu dan suhu optimum untuk mendapatkan kandungan protein paling tinggi. Selanjutnya validasi metode analisis protein dalam sampel kapsul cacing untuk memastikan bahwa metode analisis yang digunakan valid, akurat dan teliti untuk mengukur kandungan protein dalam sampel. Selanjutnya akan dilakukan pelatihan pengolahan bahan baku cacing yang efisien untuk mendapatkan kandungan protein yang maksimal serta standardisasi proses produksinya. Luaran dari pengabdian ini diharapkan salah satunya adalah standardisasi dan efisiensi dalam produksi kapsul cacing ®VERMUS.
Diharapkan dari pengabdian ini selain mampu menangani masalah produksi terkait standardisasi obat tradisional khususnya obat tradisional berbahan dasar cacing tanah, juga mampu meningkatkan kualitas obat tradisional yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pengobatan dan kesejahteraan masyarakat. (*)
Sumber Referensi:
WHO, “Typhoid and other invasive salmonellosis (Vaccine-Preventable Diseases),” pp. 1–13, 2020.
Kemenkes, “Pedoman Pengendalian Demam Tifoid,” Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 364. p. 41, 2006.
- Sun and H. Jiang, “Nutritive Evaluation of Earthworms as Human Food,” Futur. Foods, 2017, doi: 10.5772/intechopen.70271.