Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Gambaran Radiologis Tuberkulosis Otak (1)

Damianus Bram • Jumat, 18 November 2022 | 05:08 WIB
Dr dr Widiastuti Sp Rad(K) TR, selaku Staf  Pengajar Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta
Dr dr Widiastuti Sp Rad(K) TR, selaku Staf Pengajar Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta
Oleh Dr dr Widiastuti Sp Rad(K) TR, selaku Staf  Pengajar Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta

PADA edisi kali ini akan dikupas terkait penyakit tuberkulosis yang mengenai beberapa organ tubuh dengan pendekatan deteksi melalui berbagai modalitas  radiologis. Tulisan ini akan disajikan secara berseri.

Tuberkulosis (TBC) merupakan suatu penyakit infeksi  yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis (MT). Tuberkulosis masih menjadi problem dalam dunia kesehatan di negara berkembang dan endemis TBC  seperti Indonesia. Secara umum, terdapat dua manifestasi klinis dari tuberkulosis, yaitu TBC paru dan TBC ekstra/ diluar organ paru

Kuman tersebut pertama kali  ditemukan oleh  Robert Koch pada 24 Maret 1882, sehingga  setiap tanggal tersebut ditetapkan sebagai  Hari TBC Sedunia. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran  masyarakat akan ancaman kesakitan dan kematian yang ditimbulkan.

Menurut WHO (World Health Organization) pada 2020, sekitar 1,1 juta anak dan remaja di bawah usia 15 tahun terinfeksi TBC, dan 226 ribu  orang meninggal karena penyakit tersebut.

Tuberkulosis paru merupakan bentuk infeksi yang paling sering dijumpai. Sedangkan angka kejadian TBC ekstra paru, termasuk pada sistem saraf pusat, diperkirakan sekitar 15 persen dari total kasus infeksi TBC. Manifestasi  paling sering dari TBC sistem saraf pusat adalah meningitis (radang selaput pelindung otak)   dan tuberkuloma.

Tuberkuloma  otak merupakan suatu infeksi granulomatosa yang disebabkan oleh MT. Granulomatosa adalah peradangan khronis dengan pola tertentu dan banyak ditemukan pada infeksi maupun non infeksi. Penyebaran penyakit TBC otak terjadi melalui aliran darah, dipermudah oleh  kondisi immunocompromise  (melemah nya  sistem imun). Misalnya  penderita kanker,  HIV-AID (Human Immunodeficiency Virus-Acquired Immunodeficiency), kehamilan, diabetes melitus, khemoterapi, pada  anak  dan usia lanjut yang rentan dengan infeksi.

Menurut Kementerian Kesehatan, kasus TBC otak sebenarnya cukup jarang, angka kejadiannya hanya sekitar satu persen dari total kasus TBC. Namun, penyakit ini perlu diwaspadai karena merupakan jenis TBC paling parah, yang membuat lebih dari separuh penderitanya mengalami disabilitas  saraf dan meninggal dunia. Tuberkuloma dapat ditemukan berdiri sendiri atau bersamaan dengan meningitis tuberkulosis. Tuberkuloma dapat ditemukan pada 4-39% kasus meningitis tuberkulosis.

Gejala TBC otak  yang paling sering terjadi yaitu ketidak seimbangan fungsi syaraf otak, sakit kepala, demam, berat badan turun ,  kesadaran menurun, muntah, kejang, kaku kuduk, kelumpuhan anggota gerak. Pada negara berkembang dan endemis TBC, angka kejadian tuberkuloma diperkirakan mencapai 33 persen.

Pemeriksaan radiologis yang digunakan  untuk mendeteksi kelainan tersebut antara lain dengan computed tomography  (CT) scan. Pada pemeriksaan radiologis, tuberkuloma sering menyerupai gambaran tumor otak, maka diagnosa pasti baru dapat ditegakkan berdasarkan pemeriksaan histopatologi dan mikrobiologi paska operasi.

Photo
Photo


Keterangan gambar:

Gambar A: gambaran normal  CT Scan kepala

Gambar B: tuberkuloma sesudah pemberian kontras, tampak lesi berbentuk cincin dengan area hipodens/kehitaman di tengah, dengan dinding yang menyerap kontras disertai  area yang sembab disekeliling nya

Gambar C: tampak lesi berbentuk nodul yang menyerap kontras, kadang disertai sembab/edemadi sekitarnya
        Sebagai penutup, waspadai  penyakit tuberkulosis. Mohon segera ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti tersebut diatas. Anjuran lakukan cek kesehatan secara rutin oleh karena pencegahan lebih utama dibanding pengobatan. (*) Editor : Damianus Bram
#Gambaran Radiologis Tuberkulosis Otak #Staf Pengajar Radiologi Fakultas Kedokteran UNS #dr Widiastuti #dr Widiastuti Sp Rad