Oleh: Sigit Haryanto*)
SALAH satu tindak tutur ekspresif yang disenangi oleh penutur bahasa di wilayah Nusantara adalah humble bragging.
Istilah itu terkait erat dengan cara seseorang menunjukkan prestasi atau kebanggaan mereka dengan cara yang tampaknya merendahkan diri.
Tetapi sebenarnya berfungsi untuk pamer. Istilah lainnya pamer terselubung atau merendah untuk meroket.
Contoh dari ungkapan itu seperti: “Akhirnya sampai juga di Solo. Capek banget habis liburan satu bulan di Australi”.
Humble bragging melibatkan dua elemen: pamer dan merendahkan diri.
Kata majemuk ini pertama kali diperkenalkan secara formal dalam studi psikologi sosial dan telah menjadi bagian dari budaya populer, terutama dalam konteks media sosial.
Di mana individu seringkali mencoba menyeimbangkan antara memamerkan prestasi dan mempertahankan citra rendah hati.
Ciri utama humble bragging adalah pernyataan yang terlihat seperti keluhan atau perendahan diri. Tetapi sebenarnya berfungsi untuk memamerkan pencapaian atau status pribadi.
Fenomena ini sering kali berakar dari keinginan untuk memperoleh pengakuan atau validasi tanpa terlihat sombong.
Humble bragging dapat berupa keluhan tentang betapa sulitnya mencapai sesuatu, sementara pada saat yang sama, pernyataan tersebut mencerminkan kebanggaan atas pencapaian tersebut.
Humble bragging sering kali dilakukan dengan cara yang halus dan tidak langsung, sehingga bisa jadi sulit untuk dikenali.
Contohnya, seseorang mungkin mengeluh tentang betapa sibuknya mereka dengan pekerjaan.
Namun di akhir pernyataan, mereka menyebutkan bahwa mereka baru saja mendapatkan promosi besar.
Teknik ini digunakan untuk menghindari kesan sombong sambil tetap menunjukkan prestasi.
Humble bragging sering terjadi di kehidupan nyata sekitar kita. Berikut adalah beberapa contoh yang sering ditemukan.
1. Komunitas tenis lapangan. Setelah selesai bermain, kadang terdengar ungkapan berikut:
“Lawan saya tadi mainnya hebat, backhand, volley, forehand, dan overhead nyaris sempurna. Saya dan partner sampai keteteran. Namun herannya kok bisa mengalahkan dengan tidak berkeringat”.
Ujaran itu mula-mula meninggikan lawan main dengan sanjungan yang tinggi dan merendahkan permainan diri sendiri, akan tetapi ending-nya si pembicara memperlihatkan sombong halusnya dengan perkataan bisa mengalahkan dengan tidak mengeluarkan banyak tenaga yang ditunjukkan dengan “tidak berkeringat”.
2. WhatsApp: "Susah sekali membuat jadwal dengan pekerjaan yang sangat padat. Untungnya, saya baru saja mendapatkan tawaran untuk bekerja di perusahaan besar yang sangat saya impikan," adalah contoh klasik dari humble bragging.
Meskipun individu ini mengeluh tentang kesibukan mereka, namun sebenarnya mereka memamerkan pencapaian besar dalam karir mereka.
Fenomena ini juga dapat terlihat pada individu yang mengeluhkan kesulitan dalam menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, tetapi kemudian mengungkapkan bahwa mereka baru saja mencapai prestasi luar biasa dalam karir mereka.
3. Instagram: Postingan seperti, "Berusaha keras untuk menurunkan berat badan setelah melahirkan, dan akhirnya bisa memakai baju lama saya lagi. Rasanya masih jauh dari sempurna, tapi lumayan lah,".
Mengungkapkan usaha keras dengan nuansa merendahkan diri, namun sebenarnya ingin menunjukkan pencapaian fisik mereka.
Ini mencerminkan kebanggaan di balik kata-kata yang tampak merendahkan. Di mana individu tersebut ingin menunjukkan usaha dan hasil kerja keras mereka sambil tetap mempertahankan citra sebagai seseorang yang bersikap rendah hati.
4. Komentar di acara keluarga: "Saya sangat lelah karena harus bekerja lembur setiap malam untuk menyelesaikan proyek penting. Tapi saya senang karena proyek ini berhasil dan klien sangat puas," menunjukkan teknik untuk menampilkan pencapaian sambil mengungkapkan kesulitan.
Individu ini mengeluh tentang kelelahan mereka tetapi kemudian membanggakan keberhasilan proyek. Ini merupakan strategi untuk menyeimbangkan antara pengakuan atas kerja keras dan pencapaian yang diraih.
5. Lingkungan Kerja: Contohnya, pernyataan seperti, "Wah, rasanya aneh bisa menang penghargaan ini padahal saya hanya berusaha mengikuti instruksi dan jadwal. Sepertinya saya beruntung saja,".
Meskipun tampak merendahkan pencapaian diri, sebenarnya memamerkan penghargaan yang diterima. Ini memperlihatkan kebanggaan tanpa secara langsung mengakuinya, dan sering kali digunakan untuk mendapatkan pengakuan tanpa menonjolkan diri secara berlebihan.
6. Cerita di Grup Teman: Pernyataan seperti, "Hasil ujian saya cukup memuaskan, walau sebenarnya saya merasa tidak terlalu siap. Hanya berharap bisa mendapat nilai bagus di semester ini," adalah cara untuk menyanjung diri sambil mengesankan kerendahan hati.
Individu ini mengungkapkan keraguan tentang persiapan mereka, tetapi sebenarnya memamerkan hasil ujian yang baik. Ini merupakan cara untuk menunjukkan prestasi tanpa terlihat terlalu percaya diri.
Humble bragging dapat memengaruhi hubungan sosial dan profesional dengan menciptakan kesan bahwa seseorang tidak tulus atau terlalu memperhatikan citra diri mereka.
Dalam interaksi sosial, humble bragging dapat menyebabkan ketidaknyamanan bagi orang lain yang merasa bahwa individu tersebut tidak benar-benar menghargai atau mengakui kesulitan yang mereka alami.
Ini juga dapat menimbulkan rasa iri atau ketidakpuasan di kalangan orang-orang di sekitar mereka yang mungkin merasa bahwa mereka tidak mendapat pengakuan yang sama.
Dalam lingkungan profesional, humble bragging dapat merusak reputasi seseorang jika dianggap sebagai bentuk manipulasi atau kepalsuan.
Orang-orang yang sering melakukan Humble bragging mungkin dipandang sebagai tidak jujur atau terlalu berorientasi pada diri sendiri, yang dapat memengaruhi hubungan kerja mereka.
Keberhasilan yang dipamerkan melalui Humble bragging mungkin juga dapat menimbulkan ketegangan atau persaingan yang tidak sehat di tempat kerja.
Untuk menghadapi humble bragging, penting untuk mengenali ciri-cirinya dan merespons dengan cara yang konstruktif.
Salah satu pendekatan adalah dengan mengalihkan topik pembicaraan ke hal-hal yang lebih inklusif dan positif.
Misalnya, jika seseorang mulai melakukan humble bragging, kita dapat mengarahkan percakapan ke topik yang melibatkan pengalaman bersama atau pencapaian tim.
Memberikan dukungan yang tulus juga dapat membantu mengurangi efek negatif dari humble bragging.
Mengakui usaha dan prestasi tanpa memberikan perhatian berlebihan pada teknik pameran yang tidak jujur dapat memperbaiki dinamika sosial.
Selain itu, penting untuk mengembangkan kesadaran diri dan empati dalam berinteraksi dengan orang lain.
Menghindari humble bragging sendiri dapat menciptakan contoh positif dan membantu membangun lingkungan sosial yang lebih jujur dan mendukung.
Dengan memfokuskan perhatian pada komunikasi yang autentik dan saling mendukung, kita dapat menciptakan hubungan yang lebih sehat dan lebih positif.
Humble bragging adalah fenomena sosial yang kompleks dan sering kali kontroversial. Dengan memahami ciri-ciri, motivasi, dan dampaknya, kita dapat berinteraksi lebih efektif dan lebih memahami motivasi orang lain dalam konteks sosial.
Penting untuk mengembangkan kesadaran diri dan empati dalam berinteraksi dengan orang lain, serta berusaha untuk mengurangi dampak negatif dari Humble bragging pada hubungan sosial.
Melalui pendekatan yang bijaksana dan penuh perhatian, kita dapat menciptakan lingkungan sosial yang lebih positif dan saling mendukung. (*)
*) Dosen FKIP-UMS
Editor : Tri Wahyu Cahyono