Oleh: Dr. Minsih, M.Pd.*)
FENOMENA The Great Resignation yang terjadi secara global, kini turut menimpa generasi muda Indonesia.
Tren meningkatnya jumlah pekerja yang mengundurkan diri dari pekerjaannya, terutama dari Generasi Z karena merasa tidak mampu menghadapi tekanan di dunia kerja menjadi sebuah permasalahan serius yang patut mendapat perhatian khusus.
Meskipun generasi ini dikenal dengan inovasi, literasi digital yang tinggi, dan kreativitas, banyak dunia kerja mengeluhkan berbagai permasalahan terkait mentalitas, ketahanan kerja, dan profesionalisme mereka di tempat kerja.
Tanpa penanganan yang baik, kondisi ini akan semakin memburuk di tengah perkembangan teknologi dan media sosial.
Yang turut membentuk pola pikir bahwa segala sesuatu harus diperoleh dengan cepat dan dengan cara yang instan yang mengakibatkan generasi muda kurang sabar dalam menghadapi proses panjang dan sulit.
Menghadapi hal tersebut, kiranya bekal kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional saja tampaknya tidak cukup.
Banyak pendidik dan psikolog pendidikan menyoroti bahwa salah satu penyebab utama fenomena ini adalah rendahnya Adversity Quotient (AQ).
Yaitu kemampuan seseorang dalam menghadapi kesulitan, mengelola kegagalan, dan bertahan dalam tekanan.
Generasi muda saat ini cenderung lebih cepat menyerah ketika menghadapi tantangan.
Baik dalam akademik, sosial, dunia professional, maupun kehidupan secara umum.
Ironinya, tanpa disadari, gejala menurunnya daya juang generasi muda justru terjadi pada ruang pendidikan dan keluarga yang merupakan lingkungan utama pembentuk karakter seseorang.
Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis dari Dana Zakat, Bolehkah?
Dalam konteks pendidikan, paling tidak terdapat dua hal yang perlu dievaluasi terkait praktek pendidikan selama ini.
Pertama, pendidikan akademik yang terlalu berorientasi pada hasil, bukan proses.
Dunia pendidikan kita sering kali lebih menitikberatkan pada nilai akademik dan keberhasilan instan.
Bukan pada proses belajar yang membangun ketahanan mental.
Sistem pendidikan yang menuntut hasil tinggi tanpa memberikan ruang bagi kegagalan justru membuat pelajar menjadi takut gagal, mengalami kecemasan tinggi dan kurang memiliki daya tahan dalam menghadapi tekanan akademik.
Kurangnya eksposur terhadap tantangan di usia muda membuat mereka kurang terlatih dalam mengembangkan strategi coping yang efektif saat menghadapi tekanan.
Akibatnya dalam jangka waktu yang Panjang, mereka mudah menyerah ketika menghadapi tantangan nyata dalam kehidupan.
Sudah saatnya lembaga pendidikan merancang program pendidikan yang fokus pada pembangunan ketahanan mental dan daya juang melalui penerapan growth mindset education yang mengajarkan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar.
Selain itu pula perlu dikembangkan simulasi tantangan dan problem-based learning dengan memberikan tugas berbasis tantangan yang mengharuskan siswa berpikir kritis, mencoba solusi, dan menghadapi kegagalan dengan konstruktif.
Kedua, minimnya pendidikan karakter dan soft skills. Secara umum pendidikan kita masih berorientasi pada hard skills yang fokus pada pengembangan kemampuan akademik dan teknis.
Namun kurang menekankan pada hal yang bersifat soft skills seperti pengelolaan emosi, penguatan daya juang dan membangun ketahanan mental.
Kemampuan bertahan dalam tekanan dan menghadapi tantangan merupakan keterampilan yang semakin penting di era modern.
Oleh karenanya, lembaga pendidikan diharapkan mendesain program pembelajaran karakter yang mendorong keberanian, ketekunan, dan tanggung jawab.
Baca Juga: Refleksi Pembangunan Kota Surakarta Berbasis Sosial dan Budaya
Kegiatan outbound dan pelatihan survival bisa menjadi salah satu contoh kegiatan di alam terbuka yang mengajarkan keberanian dan ketahanan mental.
Kegiatan yang bersifat kompetisi dalam berbagai aktivitas pendidikan dapat dimanfaatkan dalam membentuk karakter dan daya juang siswa.
Selanjutnya faktor keluarga juga berkontribusi pada penurunan daya tahan anak dalam menghadapi masalah.
Pola asuh orang tua yang terlalu protektif yang cenderung melindungi anak secara berlebihan dari kesulitan mengakibatkan anak tidak terbiasa menghadapi tantangan secara mandiri.
Selain itu, budaya instan yang dikembangkan oleh orang tua yang tidak sabar membimbing anak dalam proses jatuh bangun menghadapi permasalahan pada akhirnya turut melemahkan ketahanan mental dan daya juang anak di kemudian hari.
Di sini perubahan paradigma pola asuh orang tua menjadi sangat penting.
Dari terlalu protektif berubah menjadi memberikan tantangan yang terukur, dimana anak belajar bagaimana mengatasi kegagalan dan bangkit kembali.
Dari orang tua mengambil penuh tanggung jawab menjadi mengajarkan tanggung jawab.
Dimana anak perlu memahami bahwa mereka memiliki kendali atas banyak aspek kehidupan dan harus mengambil tanggung jawab atas pilihan dan tindakan mereka.
Pada akhirnya, membangun adversity quotient sejak dini merupakan investasi berharga jangka panjang dalam membentuk generasi muda yang tangguh, resilien, dan siap menghadapi masa depan.
Keluarga, dunia pendidikan dan masyarakat memiliki peran krusial dalam menanamkan nilai-nilai ketahanan, keberanian menghadapi kegagalan, dan kemampuan mengatasi tantangan pada generasi muda.
Dengan adversity quotient yang kuat, generasi muda tidak hanya mampu bertahan di tengah perubahan zaman, tetapi juga terus berkembang, berinovasi, dan meraih kesuksesan dalam berbagai aspek kehidupan. (*)
*) Dosen FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta
Editor : Tri wahyu Cahyono