Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Kartini Digital: Jejak Perempuan ‘Aisyiyah Menembus Batas Zaman

Tri wahyu Cahyono • Rabu, 23 April 2025 | 13:00 WIB
Dwi Haryanti, dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Dwi Haryanti, dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Oleh: Dwi Haryanti*)

SETIAP tanggal 21 April, bangsa Indonesia mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini, seorang pelopor emansipasi perempuan yang mengangkat pentingnya pendidikan dan kesetaraan dalam bingkai nilai-nilai luhur.

Namun, Kartini tak hanya hidup dalam sejarah masa lalu.

Semangatnya menjelma dalam sosok-sosok perempuan masa kini yang terus bergerak di berbagai bidang. Termasuk melalui gerakan perempuan Islam seperti ‘Aisyiyah.

‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Islam tertua di Indonesia yang berdiri sejak ‘Aisyiyah didirikan pada 27 Rajab 1335 H/19 Mei 1917 dalam perhelatan akbar yang sangat meriah bertepatan dengan momen Isra Mi’raj Nabi Muhammad.

Embrio berdirinya ‘Aisyiyah telah dimulai sejak diadakannya perkumpulan Sapa Tresna di 1914.

Yaitu perkumpulan gadis-gadis terdidik di sekitar Kauman, Yogyakarta (Syifa, web suara Muhammadiyah).

Aisyiyah telah menjadi motor penggerak dalam pemberdayaan perempuan di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Di era digital, peran itu tak surut—justru semakin kokoh dan relevan.

Aisyiyah: Menyemai Semangat Kartini dalam Bingkai Islam

Sejak awal kemunculannya, Aisyiyah sudah berani mengambil peran di ruang publik.

Sosok Nyai Ahmad Dahlan, pendiri Aisyiyah, adalah Kartini dalam wajah Islam: perempuan yang tak hanya mendirikan sekolah dan majelis ilmu untuk perempuan.

Tetapi juga menjadi inspirasi perubahan sosial di tengah keterbatasan zaman.

Semangat itu kini diteruskan oleh pemimpin-pemimpin Aisyiyah masa kini.

Dalam Muktamar ke-48 Aisyiyah di Surakarta, Ketua Umum PP Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini Siti Noordjannah Djohantini menekankan urgensi kehadiran perempuan berkemajuan di tengah situasi dunia yang penuh tantangan.

Mulai dari konflik, kekerasan, diskriminasi, hingga persoalan sosial ekonomi yang juga menimpa kaum perempuan.

Dalam pidato pembukaan Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang digelar di GOR Manahan, Solo, Sabtu (19/11/2022), ia menyampaikan bahwa selama lebih dari satu abad, Aisyiyah telah digerakkan oleh sosok-sosok perempuan dengan wawasan luas, ketulusan, komitmen kuat, dan pengabdian yang konsisten.

Menurutnya, perempuan berkemajuan tidak hanya memiliki pemikiran visioner dan kemampuan intelektual.

Tetapi juga menjadi kekuatan utama dalam menjalankan dakwah yang berdampak luas bagi kemajuan masyarakat dan bangsa.

Program Strategis: Dari Komunitas ke Dunia Internasional

Komitmen kuat itu diwujudkan dalam beragam program strategis oleh ‘Aisyiyah.

Misalnya, pada tahun 2024, Aisyiyah bekerja sama dengan Kementerian Koperasi dan UKM RI untuk mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan, terutama pelaku usaha kecil dan mikro.

“MoU ini penting karena ada keselarasan antara Aisyiyah dan pemerintah dalam membina perempuan agar mandiri secara ekonomi,” ujar Salmah Orbayinah, Ketua Umum PP Aisyiyah hasil muktamar 48 (muhammadiyah.or.id).

Dalam forum Sidang Komisi Perempuan PBB ke-68 (CSW 68) yang berlangsung di New York pada 11–22 Maret 2024, organisasi perempuan Islam ‘Aisyiyah berkesempatan membagikan pengalaman dan pandangannya mengenai upaya peningkatan kesejahteraan perempuan marginal.

Perwakilan ‘Aisyiyah, yaitu Sekretaris Umum Tri Hastuti Nur Rochimah dan Ketua PP Masyitoh Chusnan, hadir bersama KOWANI dalam pertemuan tahunan terbesar PBB yang membahas kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

Tri menekankan bahwa kemiskinan merupakan akar dari banyak ketidakadilan yang dialami perempuan dan anak perempuan, termasuk tingginya angka perkawinan usia dini.

Dalam salah satu sesi diskusi yang diselenggarakan oleh KOWANI, ia menyoroti pentingnya mendukung kelompok perempuan paling terpinggirkan di Indonesia, terutama para petani dan nelayan.

Sebagai bentuk nyata komitmen Aisyiyah terhadap pemberdayaan perempuan berbasis komunitas (suaramuhammadiyah.id).

Aisyiyah dan Digitalisasi Gerakan

Era digital tidak membuat Aisyiyah tertinggal. Mereka meluncurkan berbagai inisiatif yang menyasar perempuan di berbagai daerah, seperti gerakan perempuan mengaji digital, Aisyiyah Care, dan Pelatihan UMKM digital.

Gerakan Perempuan Mengaji Digital, bertujuan meningkatkan literasi agama dan literasi digital secara bersamaan.

Gerakan Perempuan Mengaji Digital adalah program inovatif dari ‘Aisyiyah yang menggabungkan literasi keagamaan dengan literasi digital untuk memperkuat peran perempuan dalam dakwah dan pemberdayaan.

Melalui kajian online rutin, perempuan diajak untuk memahami ajaran Islam yang moderat dan kontekstual, sambil dibekali keterampilan dasar penggunaan teknologi agar mampu mengakses dan menyebarkan pengetahuan secara mandiri.

Program ini juga menciptakan ruang belajar yang inklusif dan adaptif terhadap perkembangan zaman, terutama bagi perempuan di daerah yang sulit dijangkau secara fisik.

Dengan dukungan pelatihan media digital dan penguatan jaringan dakwah virtual, ‘Aisyiyah mendorong lahirnya perempuan muslim yang religius, melek teknologi, serta aktif berkontribusi dalam pembangunan masyarakat melalui ruang digital.

Melalui pengajian daring dan pelatihan teknologi, program ini membuka akses bagi perempuan—terutama di tingkat akar rumput—untuk memahami ajaran Islam secara mendalam sekaligus terampil memanfaatkan media digital sebagai sarana belajar dan berbagi ilmu.

Tujuan utama gerakan ini adalah memperluas jangkauan dakwah, meningkatkan pemahaman keagamaan perempuan, dan membekali mereka dengan keterampilan digital agar lebih mandiri dan aktif di ruang publik.

Kelebihannya terletak pada kemampuannya menjangkau peserta lintas daerah, fleksibel dalam waktu dan tempat.

Serta mendorong perempuan menjadi pelaku utama dalam transformasi sosial berbasis nilai-nilai Islam berkemajuan.

Aisyiyah Care merupakan program layanan kesehatan komunitas yang dikembangkan oleh organisasi perempuan Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, sebagai bentuk nyata dakwah sosial yang berpihak pada perempuan dan keluarga.

Program ini memberikan edukasi, pendampingan, serta layanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif, terutama terkait kesehatan ibu, anak, dan reproduksi perempuan.

Dengan pendekatan berbasis nilai Islam berkemajuan, Aisyiyah Care hadir untuk memperluas akses perempuan terhadap layanan kesehatan yang adil, berkualitas, dan berkelanjutan.

Tujuan Aisyiyah Care adalah memberdayakan perempuan agar memiliki pengetahuan, kesadaran, dan peran aktif dalam menjaga kesehatan diri dan lingkungan.

Dampaknya terasa dalam peningkatan kualitas hidup perempuan, penurunan angka kematian ibu dan anak, serta penguatan posisi perempuan sebagai penggerak perubahan sosial.

Semangat ini sejalan dengan cita-cita besar R.A. Kartini yang memperjuangkan pendidikan, kesehatan, dan kemajuan perempuan.

Aisyiyah Care melanjutkan warisan perjuangan Kartini dalam konteks kekinian—mewujudkan perempuan sehat, cerdas, dan berdaya sebagai pilar utama kemajuan bangsa.

Pelatihan UMKM Digital, mendampingi pelaku usaha perempuan dalam pemasaran daring dan branding halal.

Pelatihan UMKM Digital merupakan program pemberdayaan ekonomi yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah untuk membekali perempuan pelaku usaha kecil dan menengah dengan keterampilan digital.

Program ini mencakup pelatihan penggunaan platform digital untuk promosi, pemasaran, manajemen keuangan, hingga pemanfaatan media sosial dan e-commerce guna memperluas jangkauan usaha.

Dengan pendekatan yang kontekstual dan berbasis komunitas, pelatihan ini membantu perempuan agar tidak tertinggal dalam era ekonomi digital.

Tujuan utama program ini adalah meningkatkan kapasitas dan daya saing pelaku UMKM perempuan, khususnya di wilayah-wilayah yang selama ini kurang terjangkau oleh pelatihan formal.

Dampaknya sangat nyata: perempuan menjadi lebih mandiri secara ekonomi, memiliki akses pasar yang lebih luas, dan mampu mengelola usaha secara profesional.

Semangat ini sejalan dengan perjuangan R.A. Kartini dalam memperjuangkan kemandirian dan kemajuan perempuan.

Jika Kartini mengangkat pentingnya pendidikan dan pemberdayaan di zamannya, maka pelatihan UMKM Digital hari ini adalah bentuk konkret meneruskan perjuangan itu.

Mendorong perempuan untuk bangkit, melek teknologi, dan menjadi pelaku aktif dalam pembangunan ekonomi bangsa.

Langkah tersebut bukan hanya modernisasi, tetapi bentuk nyata keberlanjutan semangat Kartini: memberdayakan perempuan dengan ilmu dan alat yang relevan dengan zamannya.

Pendidikan: Pilar Aisyiyah Sejak Awal

Pendidikan di Muhammadiyah dan Aisyiyah dimulai dari TK ABA (Aisyiyah Bustanul Athfal) merupakan lembaga pendidikan anak usia dini yang digagas oleh ‘Aisyiyah, organisasi perempuan di lingkungan Muhammadiyah.

Sebagai bentuk kontribusi nyata dalam mencerdaskan generasi bangsa sejak usia dini.

Lembaga ini memadukan prinsip pendidikan Islam dengan pendekatan yang ramah anak, serta menekankan pembentukan karakter sebagai fondasi utama.

TK ABA dikenal sebagai pelopor pendidikan dini berbasis komunitas keagamaan di Indonesia, yang menumbuhkan kecerdasan intelektual, emosional, sosial, dan spiritual anak melalui kegiatan belajar yang menyeluruh dan kontekstual.

Tujuan utama dari TK ABA adalah mencetak generasi muda yang cerdas, beretika, mandiri, dan memiliki semangat belajar tinggi sejak kecil.

Dengan suasana pembelajaran yang hangat, inklusif, dan penuh keceriaan, TK ABA juga menjadi tempat yang aman dan kondusif bagi anak-anak untuk berkembang dalam lingkungan yang menanamkan nilai-nilai moral dan toleransi.

Saat ini, kurang lebih ada 20.000 TK ABA di berbagai penjuru Indonesia, menjadikannya sebagai jaringan PAUD terbesar yang dikelola oleh perempuan.

Walaupun banyak yang telah berkembang secara modern, masih ada tantangan yang perlu dihadapi, seperti ketersediaan fasilitas belajar yang memadai dan pelatihan guru untuk adaptasi teknologi di era digital.

Keberadaan TK ABA mencerminkan kesinambungan semangat R.A. Kartini dalam memperjuangkan hak pendidikan bagi perempuan dan anak-anak sebagai landasan utama kemajuan bangsa.

Jika Kartini pada zamannya menyuarakan pentingnya akses pendidikan melalui surat-suratnya, maka TK ABA hadir sebagai perwujudan semangat itu di era modern—menyediakan pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari berbagai latar belakang.

Para perempuan ‘Aisyiyah yang mengelola, mengajar, dan berjuang di TK ABA adalah Kartini masa kini yang terus menyalakan semangat perubahan, membentuk generasi unggul dengan dedikasi, cinta, dan pengabdian dari akar rumput masyarakat.

Selain itu, Aisyiyah juga mengelola universitas, sekolah kebidanan, hingga rumah sakit yang seluruhnya memadukan nilai keislaman dan profesionalisme modern.

Dalam semangat ini, pendidikan bukan hanya soal akademik, tetapi juga tentang membentuk perempuan sebagai pemimpin keluarga, komunitas, dan bangsa.

Kartini-Kartini Berhijab yang Mencerahkan Peradaban

Hal ini menggambarkan bagaimana perempuan Muslim, yang mengenakan hijab, dapat memainkan peran signifikan dalam kemajuan sosial dan peradaban.

Melalui perjuangan mereka dalam pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan, perempuan berhijab membuktikan bahwa kemajuan tidak terhambat oleh norma agama dan budaya.

Kartini-Kartini masa kini, seperti yang diwakili oleh Aisyiyah, terus melanjutkan semangat R.A. Kartini dalam memperjuangkan hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang setara, berperan aktif dalam masyarakat, dan memperjuangkan kesejahteraan umat.

Contoh nyata dari peran perempuan Aisyiyah dalam mencerahkan peradaban adalah melalui program-program pemberdayaan perempuan dan pendidikan anak usia dini yang mereka kelola program TK ABA (Aisyiyah Bustanul Athfal).

Yang telah mencetak ribuan anak Indonesia dengan pengetahuan dasar agama dan moral, serta keterampilan sosial yang kuat.

Selain itu, program Gerakan Perempuan Mengaji Digital, yang mengajarkan perempuan untuk mengakses ilmu agama dan mengembangkan keterampilan digital, memungkinkan mereka berpartisipasi dalam percakapan global dan memperjuangkan hak mereka.

Dengan semangat berhijab yang tidak menghalangi mereka untuk berkiprah, perempuan Aisyiyah terus menjadi agen perubahan yang mencerahkan peradaban, mewujudkan perjuangan Kartini dalam bentuk yang lebih luas dan modern.

Kartini tidak pernah mendefinisikan emansipasi secara sempit.

Maka, dalam tubuh Aisyiyah, semangat Kartini tumbuh dengan wajah yang khas: perempuan berhijab, aktif di ranah publik, cakap teknologi, sekaligus berakar kuat dalam nilai-nilai Islam.

Mereka adalah pendidik, pelaku UMKM, aktivis kesehatan, dan pemimpin komunitas.

Mereka tak menuntut sorotan, tapi bekerja dalam senyap membangun perubahan.

Sebagaimana pesan Kartini yang begitu visioner: “Dan sungguh, kami bukan pemimpi.
Kami percaya bahwa segala sesuatu yang baik, betapapun tampaknya tak mungkin, akan tercapai pada akhirnya.”

Hari ini, keyakinan itu hidup dalam langkah-langkah perempuan Aisyiyah.

Kartini tidak pergi, beliau menjelma dalam ribuan langkah kecil yang terus menyalakan harapan dan kemajuan bangsa. (*)

*) Dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Surakarta

 

Editor : Tri wahyu Cahyono
#Kartini #Dwi Haryanti #aisyiyah #UMS #dosen #pendidikan bahasa inggris