Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Haji Viral

Tri wahyu Cahyono • Rabu, 28 Mei 2025 - 13:00 WIB
Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi, dosen FEB Universitas Muhammadiyah Surakarta
Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi, dosen FEB Universitas Muhammadiyah Surakarta

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi*)

RADARSOLO.COM-Haji 2025 diyakini sebagai haji yang cukup berat karena pertimbangan cuaca ekstrim di Arab Saudi yang diprediksi panas bisa mencapai 52 derajat celcius.

Meski ada hikmah di balik haji akbar 2025 karena wukuf akan terjadi pada hari Jumat.

Haji musim panas di Arab diprediksi terakhir karena haji 2026 adalah musim semi.

Fakta ini terjadi karena perhitungan kalender Islam menggeser tanggal haji 10 hari lebih awal setiap tahun.

Dari tahun 2026 - 2033, musim haji akan musim semi lalu musim haji akan beralih ke siklus musim dingin (2034 – 2041).

Ibadah haji kembali ke musim panas di tahun 2042-2051.

Pembelajaran dari haji 2024 terjadi 2.760 kasus terdampak panas cuaca ekstrim.

Fakta ini menjadi warning bagi jamaah untuk tidak memaksakan pelaksanaan ibadah dengan melakukan kegiatan yang kurang penting terutama di siang hari.

Kemenag juga menyarankan jamaah fokus kepada ibadah intinya. Yaitu: Armuzna (Arafah, Muzdalifah dan Mina).

Ibadah sunah lain, termasuk ziarah dipertimbangkan dan disesuaikan dengan kemampuan fisik. Terutama untuk antisipasi kelelahan-dehidrasi.

Terkait ini, maskapai sudah mempersiapkan semua proses pemberangkatan 2 Mei – 1 Juni dan pemulangan 10 Juni -11 Juli 2025.

Baca Juga: Cegah Stunting Sejak Pra-Nikah: Saatnya Serius Dampingi Calon Pengantin

Perbandingan haji 2024 kloter pertama 12 Mei 2024 dari Bandara Soekarno Hatta Cengkareng dan penerbangan terakhir 10 Juni 2024.

Manajemen

Di tahun ini, penerbangan haji memakai maskapai Garuda Indonesia, Saudi Airline dan Lion Air melalui 13 bandara.

Yaitu: Banda Aceh, Banjarmasin, Balikpapan, Makassar, Medan, Padang, Batam, Palembang, Jakarta, Solo, Kertajati, Surabaya, dan Lombok.

Perbandingan haji 2024 melibatkan 2 maskapai: Garuda dan Saudia Airlines (Garuda menerbangkan 109.072 jamaah untuk 294 kloter dan Saudia Airlines menerbangkan 106.993 jamaah untuk 260 kloter karena ibadah haji tahun 2024 dibagi pada 554 kloter lewat sejumlah embarkasi sehingga tiap hari ada 18 - 19 penerbangan).

Pelaksanaan ibadah haji 2025 ini diyakini sebagai terbesar karena data Kemenag bahwa jumlah jamaah haji tahun 2025 adalah 221.000 jemaah (203.320 orang jemaah haji reguler, sisanya 17.680 non-reguler).

Haji 2025 didominasi ibu rumah tangga (57 ribu jemaah), lalu 41 ribu PNS, 46 ribu swasta, 20 ribu orang petani dan 11 ribu pedagang, pensiunan 8.315, pelajar-mahasiswa 6.218, pegawai BUMN 3.500 orang, TNI/Polri 2.400 dan lain-lain 1.655.

Perbandingan jamaah haji di 2024 sebanyak 241.000 orang terdiri 213.320 jamaah haji reguler dan 27.680 jamaah haji khusus.

Manajemen haji pada dasarnya tidak hanya mempertimbangkan kuota tapi juga aspek pentingnya adalah usia jamaah.

Selain itu, ada juga faktor keamanan dan kesehatan. Hal ini menjadi catatan penting terkait faktor kesehatan, terutama fakta usia jamaah rerata di atas 50 tahun dengan risiko kesehatan cukup tinggi.

Fakta ini yang menjadi argumen keluarnya kebijakan istitha'ah (istilah dalam Islam yang merujuk kondisi - kemampuan seseorang melaksanakan ibadah haji).

Argumen inilah maka istitha'ah penting karena menjadi salah satu syarat utama kewajiban beribadah haji.

Yang harus juga dipahami istitha'ah artinya mencakup beberapa aspek yang harus dipenuhi.

Baca Juga: Dampak Solo Raya Great Sale di Bidang Perhotelan

Misalnya memiliki finansial cukup untuk biaya perjalanan haji dan keluarga yang ditinggalkan, memahami cara haji dan kesehatan mental dan fisik yang memadai.

Antrian

Selain pertimbangan di atas, fakta lain yang tidak bisa diabaikan adalah masa tunggu di setiap daerah yang berbeda dan juga besaran biaya haji yang terus naik setiap tahunnya.

Betapa tidak, dengan kenaikan dapat dipastikan pelunasan akan semakin berat.

Apalagi kini semua ekonomi bisnis terdampak. Jadi, bukan tidak mungkin imbas kenaikan biaya memicu sentimen pelunasan dan masa tunggu yang semakin lama sehingga ini justru berdampak sistemik terhadap semuanya, termasuk tentunya antrian yang semakin lama.

Besaran dana haji harus dimanfaatkan maksimal sehingga potensi nilai manfaat bisa kembali ke jamaah, termasuk manfaat untuk menurunkan besaran dana haji.

Mengacu besaran dana haji, waktu tunggu dan kompleksitas manajemennya maka jamaah diharap mampu memaksimalkan ibadahnya secara baik dan benar, bukan justru pamer selfie di unggah ke medsos.

Bahkan, ada cibiran terkait perilaku jamaah haji asal Indonesia yang cenderung lebay dan pamer ibadah di medsos. Jangan sia-siakan pahala haji dengan hal lain yang tidak penting, apalagi sekedar pamer selfie melalui medsos demi viral sekejap. (*)

*) Dosen di FEB Universitas Muhammadiyah Solo

 

Editor : Tri wahyu Cahyono
#Dosen FEB #edy purwo saputro #haji viral #universitas muhammadiyah surakarta #UMS #musim semi