Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Urgensi Pendidikan Akhlak pada Generasi Alpha di Era Digital

Nur Pramudito • Selasa, 12 Agustus 2025 | 16:24 WIB
Dr. Supriyanto, M.Pd. Dosen UIN Raden Mas Said Surakarta
Dr. Supriyanto, M.Pd. Dosen UIN Raden Mas Said Surakarta

 

 

Oleh: Dr. Supriyanto, M.Pd.

RADARSOLO.COM - Di tengah arus revolusi digital yang tak terbendung, dunia mengalami pergeseran besar dalam cara hidup, berpikir, dan berinteraksi.

Generasi Alpha anak-anak yang lahir mulai tahun 2010 tumbuh dalam lanskap teknologi yang lebih canggih dibandingkan generasi sebelumnya.

Mereka tidak sekadar menjadi saksi perubahan, melainkan bagian dari perubahan itu sendiri.

Sejak usia dini, tangan-tangan mungil mereka telah terbiasa menyentuh layar ponsel pintar, berinteraksi dengan asisten virtual, hingga menjelajahi dunia maya melalui video, gim daring, dan media sosial.

Internet bukan lagi alat bantu, melainkan menjadi bagian integral dari kehidupan mereka sehari-hari seolah menjadi ruang bermain sekaligus ruang belajar yang tak berbatas.

Namun, kecanggihan teknologi yang mereka kuasai sejak dini itu tidak serta-merta menjamin kematangan emosional dan moral.

Justru di tengah banjir informasi dan derasnya arus digitalisasi, muncul kekhawatiran akan semakin pudarnya nilai-nilai akhlak dalam kehidupan mereka.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kecerdasan digital yang tinggi belum tentu sejalan dengan kepekaan moral yang kuat.

Saat dunia berlomba menciptakan teknologi tercanggih, kita perlu bertanya, siapa yang memastikan generasi ini tetap berpijak pada nilai-nilai etis dan kemanusiaan?

Siapa yang menjaga agar mereka tidak larut dalam euforia digital yang kerap kali menyingkirkan norma dan kesantunan?

Maka, pertanyaan mendesak yang harus kita ajukan adalah: siapa yang akan menjaga akhlak generasi ini di tengah banjir informasi digital?

Dunia Baru yang Menantang

Teknologi telah membentuk dunia baru yang serba instan, cepat, dan tanpa batas.

Kecanggihan algoritma media sosial kini mampu menentukan apa yang dilihat, dibaca, bahkan dipikirkan oleh anak-anak.

Dalam satu sentuhan layar, Generasi Alpha dapat mengakses informasi dari berbagai belahan dunia baik yang bermanfaat maupun yang merusak (Common, 2023).

Mereka hidup dalam kenyataan baru di mana ruang privat dan publik nyaris tidak memiliki sekat.

Akibatnya, kontrol orang tua dan guru terhadap konsumsi informasi anak menjadi semakin lemah.

Selain itu, arus globalisasi dan dominasi budaya populer barat melalui platform digital menyebabkan tergerusnya nilai-nilai lokal, termasuk nilai moral dan etika (Heryanto, 2010).

Generasi Alpha bukan hanya mengalami perubahan perilaku, tetapi juga pergeseran nilai, identitas, dan cara pandang terhadap dunia.

Generasi Alpha: Cerdas tapi Rapuh?

Menurut penelitian McCrindle Research, Generasi Alpha diperkirakan akan menjadi generasi paling terdidik, paling digital, dan paling kaya secara informasi sepanjang sejarah (McCrindle, 2010).

Namun, apakah kecerdasan digital itu sebanding dengan kedewasaan moral mereka?

Sayangnya, data menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan.

Studi terbaru dari Common Sense Media menemukan bahwa lebih dari 70% anak usia 8-12 tahun pernah terpapar konten kekerasan atau pornografi secara tidak sengaja saat menjelajah internet.

Selain itu, kasus cyberbullying di kalangan remaja meningkat drastis dalam lima tahun terakhir, menunjukkan bahwa empati sosial dan sopan santun kini semakin luntur dalam dunia maya.

Kecanggihan tanpa nilai dapat menjadi bumerang. Anak-anak yang mahir teknologi namun miskin akhlak berpotensi menjadi pribadi yang egois, manipulatif, dan kehilangan arah hidup.

Di sinilah urgensi pendidikan akhlak tidak bisa lagi ditunda.

Apa itu Pendidikan Akhlak?

Pendidikan akhlak bukan sekadar pengajaran tentang benar dan salah, melainkan proses pembentukan karakter manusia secara utuh: jasmani, rohani, intelektual, dan sosial.

Dalam konteks Islam, pendidikan akhlak menempati posisi sentral, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (H.R. Ahmad).

Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, hormat kepada orang tua, empati, dan kerja sama harus diajarkan dan ditanamkan sejak dini agar menjadi bagian dari kepribadian anak.

Namun, pendidikan akhlak tidak bisa hanya mengandalkan ceramah di sekolah. Ia membutuhkan keteladanan, lingkungan yang kondusif, serta pendekatan yang kontekstual dengan zaman.

Mengapa Pendidikan Akhlak Mendesak?

Pertama, pendidikan akhlak menjadi benteng terakhir dalam menghadapi serbuan konten digital yang nihil nilai.

Generasi Alpha dibanjiri oleh informasi yang tidak semuanya sesuai dengan nilai-nilai moral, bahkan banyak yang bersifat destruktif. Tanpa akhlak yang kokoh, anak-anak mudah terseret pada gaya hidup konsumtif, hedonis, dan permisif.

Kedua, pendidikan akhlak membangun kontrol diri (self-regulation) dalam penggunaan teknologi.

Anak yang berakhlak baik akan lebih bijak dalam memilih konten, mengatur waktu layar, serta menjaga interaksi online secara sopan dan santun.

Ketiga, pendidikan akhlak menumbuhkan empati sosial dan tanggung jawab bersama.

Di era individualisme digital, anak-anak perlu diajarkan bahwa kebebasan berekspresi di media sosial bukan berarti bebas menyakiti orang lain.

Keempat, akhlak menjadi dasar dalam membangun identitas diri yang kuat.

Generasi Alpha akan menghadapi berbagai tantangan sosial, politik, dan spiritual yang kompleks.

Tanpa fondasi akhlak, mereka akan kehilangan arah dan jati diri ( Bandura, 1977).

Strategi Pendidikan Akhlak di Era Digital

Pendidikan akhlak di era digital membutuhkan pendekatan baru yang adaptif dan kreatif. Berikut beberapa strategi yang dapat diterapkan:

1. Keteladanan Orang Tua dan Guru

Anak belajar paling efektif melalui pengamatan dan keteladanan.

Ketika orang tua dan guru mampu menunjukkan perilaku akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari, anak akan lebih mudah menirunya.

Maka, mendidik akhlak anak juga berarti memperbaiki akhlak orang dewasa di sekitarnya.

2. Pemanfaatan Media Digital yang Edukatif

Alih-alih melarang teknologi, orang tua dan pendidik perlu mengarahkan anak pada konten digital yang bernilai positif.

Banyak aplikasi, video animasi, dan permainan edukatif yang dapat digunakan untuk menanamkan nilai-nilai moral secara menyenangkan. ( Putra, 2022).

3. Kurikulum Pendidikan Karakter

Sekolah perlu menyusun kurikulum yang mengintegrasikan pendidikan karakter secara menyeluruh, bukan hanya dalam pelajaran agama atau PPKn, tetapi dalam seluruh aspek pembelajaran.

Penanaman nilai harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.

4. Literasi Digital dan Etika Siber

Anak-anak perlu diajarkan tidak hanya cara menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana bersikap etis di dunia maya.

Literasi digital yang menyangkut keamanan data, etika komunikasi online, dan kesadaran terhadap hoaks sangat penting dalam membentuk pengguna internet yang bertanggung jawab (UNESCO, 2021).

5. Pendekatan Dialogis dan Reflektif

Pendidikan akhlak harus membuka ruang dialog antara anak dan pendidik.

Anak perlu diajak berpikir, berdiskusi, dan merefleksikan nilai-nilai moral melalui studi kasus, film, atau cerita.

Cara ini lebih efektif daripada pendekatan otoritatif semata ( Noddings, 2002).

Baca Juga: Apakah Manusia Benar-benar Bebas? Menelaah Kebebasan dalam Perspektif Filsafat dan Psikologi

Penutup

Generasi Alpha adalah masa depan dunia.

Mereka adalah generasi yang akan mengambil alih tongkat estafet kepemimpinan di berbagai sektor kehidupan—sosial, ekonomi, politik, dan budaya dalam beberapa dekade mendatang.

Namun, mereka lahir dan tumbuh di dalam dunia yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya; dunia yang serba cepat, tanpa batas, dan terus berubah secara dinamis.

Dalam lingkungan yang didominasi oleh kecanggihan teknologi, mereka menghadapi tantangan yang belum pernah dialami oleh generasi manapun sebelumnya: derasnya arus informasi, paparan konten tanpa filter, disrupsi sosial akibat media digital, serta pergeseran nilai dalam ruang-ruang virtual.

Kemampuan mereka dalam mengakses dan mengoperasikan teknologi memang luar biasa.

Mereka fasih berbicara dengan mesin, mahir berselancar di dunia maya, dan terbiasa hidup dalam ritme digital yang serba instan.

Namun, semua kecanggihan ini akan menjadi kosong jika tidak dibarengi dengan kedalaman akhlak dan kematangan moral.

Di sinilah urgensi pendidikan akhlak menemukan momentumnya.

Akhlak bukan sekadar pelengkap dalam sistem pendidikan, melainkan fondasi utama yang menentukan ke arah mana teknologi akan digunakan: apakah untuk membangun atau justru merusak.

Pendidikan akhlak bukan hanya kebutuhan, tetapi telah menjadi keharusan mutlak.

Ia adalah penuntun arah dalam dunia yang semakin kabur batas antara benar dan salah.

Tanpa akhlak, kecerdasan digital akan kehilangan kompas moralnya.

Tanpa nilai, teknologi bisa berubah menjadi senjata yang menghancurkan, bukan alat yang memajukan.

Kita tidak bisa hanya berharap Generasi Alpha menjadi unggul secara akademik atau adaptif terhadap perubahan teknologi semata.

Kita harus memastikan mereka juga memiliki hati yang jernih, empati yang dalam, serta komitmen untuk menjunjung tinggi kemanusiaan.

Karena itu, mendidik akhlak Generasi Alpha adalah sebuah investasi jangka panjang—bukan hanya untuk masa depan mereka secara individu, tetapi juga untuk masa depan peradaban kita bersama.

Dunia masa depan membutuhkan generasi yang tidak hanya mampu menciptakan inovasi, tetapi juga mampu menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah gelombang digitalisasi.

Kita memerlukan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab; tidak hanya kritis, tetapi juga santun; tidak hanya inovatif, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan spiritual.

Maka, mari kita bangun kembali komitmen kolektif: di tengah segala upaya digitalisasi, transformasi teknologi, dan modernisasi pendidikan, jangan biarkan pendidikan akhlak tertinggal.

Karena hanya dengan akhlak yang kuat, Generasi Alpha akan mampu menghadapi zaman dengan kepala tegak, hati yang bersih, dan langkah yang benar.

Dengan itu, kita tidak hanya mewariskan dunia yang canggih kepada mereka, tetapi juga dunia yang lebih manusiawi dan bermartabat.(*)

Catatan Kaki / Bodynote:

 

*) Dosen UIN Raden Mas Said Surakarta

 

Editor : Nur Pramudito
#Pendidikan Akhlak #Dr Supriyanto MPd #Generasi Alpha #opini #dosen #era digital #UIN Raden Mas Said Surakarta