Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Kolaborasi Global untuk Pendidikan Inklusif: Catatan dari ICEDUALL 2025

Tri wahyu Cahyono • Rabu, 15 Oktober 2025 | 13:00 WIB

Aris Rakhmadi, S.T., M.Eng, dosen Informatika UMS, Mahasiswa S3 DIFA-UAD.
Aris Rakhmadi, S.T., M.Eng, dosen Informatika UMS, Mahasiswa S3 DIFA-UAD.


RADARSOLO.COM- Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, pendidikan menghadapi tantangan besar.

Yaitu bagaimana memastikan semua anak tanpa terkecuali mendapatkan akses yang adil dan berkualitas.

Di Solo dan kota-kota lain di Indonesia, ketimpangan akses dan kesiapan infrastruktur pendidikan masih menjadi kenyataan yang harus dihadapi.

Pertanyaan penting muncul, bagaimana sekolah dan perguruan tinggi kita dapat menjangkau semua anak secara merata di era AI ini.

Situasi ini menuntut kita untuk berpikir kreatif, mencari inovasi, dan belajar dari praktik global sehingga pendidikan inklusif tidak hanya menjadi jargon, tetapi benar-benar dapat diwujudkan di lapangan.

Kesempatan belajar langsung dari praktik global muncul ketika saya mengikuti ICEDUALL 8th (International Conference on Education for All), konferensi internasional yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Surakarta bekerja sama dengan Aklan State University di Filipina.

Sebagai peserta, saya merasakan atmosfer internasional yang berbeda, di mana peserta dari berbagai negara berbagi pengalaman, ide, dan penelitian terkait pendidikan inklusif serta pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran.

Format hybrid konferensi memungkinkan partisipasi dari berbagai negara lebih mudah dan interaksi antarpeserta lebih bermakna, sekaligus memberi saya kesempatan menangkap praktik terbaik dari perspektif global.

Pengalaman ini menegaskan bagaimana teknologi dapat mendukung pendidikan inklusif dan memperkuat kolaborasi lintas negara.

Tema utama konferensi berfokus pada pemanfaatan deep learning untuk menciptakan pendidikan yang personal dan adaptif di era kecerdasan buatan.

Beberapa presentasi menampilkan bagaimana AI dapat membantu guru menyesuaikan metode pembelajaran dengan kemampuan setiap siswa, mempermudah evaluasi, dan meningkatkan partisipasi anak-anak yang sebelumnya sulit dijangkau oleh sistem pendidikan konvensional.

Selain itu, interaksi antara peserta melalui video presentasi dan diskusi panel menekankan pentingnya kolaborasi global.

Berbagai praktik pendidikan inklusif dari negara lain memberikan inspirasi, mulai dari penggunaan teknologi sederhana hingga integrasi AI yang kompleks, sehingga pendidikan inklusif terlihat nyata dan bisa diwujudkan melalui inovasi serta kerja sama lintas negara.

Baca Juga: Mengembalikan Moralitas Pendidikan

Salah satu pelajaran penting yang saya peroleh dari ICEDUALL 8th adalah betapa krusialnya kolaborasi global dalam mengembangkan pendidikan inklusif dan adaptif.

Pertukaran ide dan pengalaman antara peserta dari berbagai negara memperlihatkan bahwa tantangan pendidikan tidak hanya bersifat lokal, tetapi dapat diatasi lebih efektif melalui kerja sama internasional.

Teknologi dan kecerdasan buatan menjadi sorotan utama, dengan beberapa presentasi menunjukkan bagaimana AI dapat membantu guru menyesuaikan metode pengajaran sesuai kemampuan setiap siswa, mempermudah evaluasi, dan meningkatkan partisipasi anak-anak yang sebelumnya sulit dijangkau.

Pendekatan seperti personalized learning ini menegaskan bahwa teknologi bukan sekadar alat, tetapi bisa menjadi penguat nyata bagi pendidikan inklusif.

Pengalaman ini relevan bagi Indonesia, termasuk di Solo, karena praktik global yang saya amati dapat diadaptasi ke konteks lokal.

Kesempatan ini memberi saya ruang untuk mempresentasikan aplikasi Kitabah, yang saya kembangkan untuk mendukung pembelajaran bahasa isyarat Al-Qur’an bagi siswa berkebutuhan khusus.

Sekaligus menjadi topik artikel yang saya tulis tentang pendidikan inklusif berbasis teknologi.

Konsep serupa dapat dikembangkan lebih luas dengan teknologi sederhana untuk meratakan akses pendidikan.

Hal ini menegaskan bahwa pembelajaran dari konferensi internasional tidak hanya berhenti sebagai teori, tetapi bisa diwujudkan dalam praktik nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.

Meski tantangan dalam mewujudkan pendidikan inklusif masih besar, pengalaman mengikuti ICEDUALL 8th menunjukkan bahwa kolaborasi global dan pemanfaatan teknologi membuka peluang nyata untuk mencapainya.

Saya berharap pengalaman ini dapat menginspirasi pembaca untuk berpikir kreatif dan menerapkan ide-ide inklusif di lingkungan pendidikan masing-masing.

Sebagai dosen UMS yang belajar dari peserta lain di tingkat internasional, catatan pengalaman ini saya bagikan agar pembaca merasakan perspektif yang autentik dan mudah diterapkan, sekaligus menyadarkan kita semua bahwa pendidikan inklusif adalah tanggung jawab bersama. (*)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#dosen informatika #pendidikan inklusif #Aris Rakhmadi #iceduall 2025 #kolaborasi global #universitas muhammadiyah surakarta #UMS