Oleh: Muhammad Taufiq Qurrohman*)
Usus manusia adalah rumah bagi berbagai jenis mikroba, termasuk bakteri, virus, dan jamur. Komunitas mikroba tersebut dinamakan mikrobiota usus.
Mikrobiota usus mulai berkembang sebelum kelahiran dan dipengaruhi oleh diet ibu. Terdeteksi di plasenta, cairan ketuban, selaput janin, dan darah tali pusat.
Mikrobiota usus mengalami beberapa perubahan sepanjang rentang kehidupan. Dari bayi hingga dewasa, keanekaragamannya meningkat dan menjadi lebih kompleks. Pada masa dewasa, komposisi tetap stabil.
Seiring bertambahnya usia, variasi antarindividu menjadi lebih besar dan terdapat pergeseran dalam komposisi mikrobiota usus.
Pada masa lanjut usia komposisi menjadi kurang stabil dan keragaman dapat menurun, terutama pada individu yang tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang.
Komposisi mikrobiota usus sangat bervariasi antar individu akibat faktor seperti kebiasaan makan, usia, gaya hidup, obat-obatan, dan genetika.
Faktor eksternal, termasuk paparan antibiotik dan kondisi lingkungan, dapat mengubah komposisi mikrobiota usus.
Mikrobiota usus sangat kompleks dan dinamis, di mana kelangsungan hidup setiap mikroba bergantung pada interaksi konstan dengan mikroba lain dan inangnya.
Interaksi host-mikroba bersifat komensal dan simbiotik, yang sangat vital bagi kesehatan. Bakteri residen memengaruhi inang dengan memproduksi asam lemak rantai pendek dari serat makanan.
Asam lemak ini berfungsi sebagai sumber energi untuk sel epitel usus dan memicu respons anti-inflamasi.
Fungsi lainnya yaitu memperkuat lapisan pelindung usus, menjaganya tetap rapat dan kokoh agar tidak ada zat beracun yang bocor masuk ke aliran darah.
Baca Juga: Momentum Hari Guru Nasional 2025: Guru Idola bagi Murid-Muridnya
Mikrobiota juga bekerja sama dengan lapisan lendir epitel usus dalam melawan invasi patogen.
Lapisan lendir tersebut tidak hanya melindungi dari patogen tetapi juga menjadi sumber makanan yang dapat dipecah oleh bakteri spesialis.
Keberadaan mikrobiota usus memberikan manfaat luas, mencakup pencernaan serta metabolisme, sistem kekebalan tubuh, dan kesehatan otak serta keseimbangan mood.
Pada sistem pencernaan dan metabolisme, mikrobiota usus membantu mencerna serat dan zat gizi kompleks yang sebelumnya tidak dapat diolah oleh tubuh.
Proses ini menghasilkan asam lemak rantai pendek dan vitamin penting seperti vitamin B dan K.
Selain itu, mikrobiota juga memengaruhi metabolisme lemak dan gula yang berperan dalam pengaturan berat badan dan risiko penyakit metabolik.
Dalam sistem kekebalan, mikrobiota usus berperan melatih sel-sel kekebalan untuk membedakan mikroorganisme yang menguntungkan dari yang berbahaya.
Mereka mengaktifkan sebagian besar sel imun yang tinggal di usus yaitu sekitar 80% dari total sel imun tubuh.
Terkait otak dan mood, bakteri baik di usus berkomunikasi dengan otak lewat jalur yang dikenal sebagai sumbu usus-otak.
Beberapa bakteri usus mampu menghasilkan atau memicu produksi neurotransmiter, yaitu senyawa pembawa sinyal saraf.
Contohnya, serotonin yang memengaruhi mood/suasana hati. Sekitar 90% serotonin diproduksi di usus, bukan diotak.
Selain memberikan manfaat besar bagi tubuh, mikrobiota usus dapat menjadi sumber masalah kesehatan apabila keseimbanganya terganggu (disbiosis).
Alasan paling menonjol terjadinya disbiosis adalah pola makan, stres psikologis, lokasi geografis, riwayat penggunaan antibiotik berlebihan, dan paparan pestisida.
Baca Juga: Sekolah Sebagai Ladang Kepahlawanan Baru bagi Generasi Z
Sebagi contoh pola makan dengan tinggi lemak dan diet barat seperti lemak jenuh dan trans, gula sederhana, tepung olahan, sirup jagung fruktosa tinggi.
Makanan tersebut kurang serat dan polifenol yang menjadi makanan utama bakteri baik.
Selain itu dapat meningkatkan komponen pro-inflamasi yang mendorong pertumbuhan bakteri oportunistik penyebab infeksi.
Dengan demikian komposisi mikroba bergeser dan menjadi tidak seimbang.
Dalam beberapa tahun terakhir, para ilmuwan menemukan bahwa perubahan komposisi mikrobiota berkaitan dengan berbagai penyakit kronis seperti diabetes, obesitas, kanker, ataupun penyakit radang usus.
Disbiosis juga dikaitkan dengan berbagai kondisi kesehatan mental, termasuk depresi, kecemasan, autisme, skizofrenia, bipolar, dan penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson. (*)
*) Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional
Editor : Tri wahyu Cahyono