OLEH: Prof. Dr. Anam Sutopo, Dekan FKIP UMS
RADARSOLO.COM - Guru adalah pilar utama dalam mencerdaskan bangsa.
Lebih dari sekadar menyampaikan materi di kelas, guru mengemban tugas mulia sebagai fasilitator, motivator, dan pembentuk karakter.
Di tengah pesatnya perkembangan zaman, peran guru berevolusi menjadi arsitek masa depan yang menyiapkan generasi penerus yang kritis dan adaptif.
Namun, tidak semua guru bisa menjelma menjadi sosok yang dirindukan muridnya. Kerinduan adalah ikatan emosional yang muncul secara alami.
Baca Juga: Local Indigenous Knowledge: Ketika Pengetahuan Lokal Masuk ke Sistem Teknologi Cerdas
Murid biasanya lebih merindukan guru yang tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga hadir dengan ketulusan, mampu mendengarkan, bersikap adil, dan menjadi teladan hidup yang baik.
Sebaliknya, guru yang bersikap otoriter, sering meremehkan, atau kaku, cenderung diingat sebagai sosok yang dihindari. Maka, setiap guru pasti meninggalkan kesan tersendiri bagi perjalanan hidup muridnya.
Baca Juga: Melemahnya Kurs Rupiah: Gejala Teknis atau Fundamental?
Guru yang dirindukan bukan sekadar pintar mengajar, melainkan sosok yang menyentuh hati. Kehadirannya selalu dinanti di dalam kelas.
Sebab ia tak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga pendengar, motivator, sekaligus teladan bagi setiap siswanya.
Jadi, setiap murid pasti memiliki pengalaman unik selama masa studi di sekolah. Guru yang dirindukan, tentu memiliki karakteristik utama yang membuatnya selalu dikenang dan dirindukan murid-muridnya.
Karakteritik yang dimaksud, yakni memiliki pembawaan hangat dan ramah, menjadi pendengar yang baik dan penuh empati, mengajar sepenuh hati dengan cara menarik, senantiasa menghadirkan rasa adil dan penuh keteladanan, serta menjadi inspirator kehidupan.
Guru dengan pembawaan yang hangat dan ramah selalu dirindukan muridnya. Sebab ia selalu menyapa murid-murid dengan senyuman tulus dan menciptakan suasana kelas menyenangkan.
Guru seperti ini sangat membuang jauh-jauh kesan kaku atau menakutkan. Sehingga murid tidak segan bertanya dan berani mengemukakan pendapat.
Guru yang menjadi pendengar baik dan penuh empati bagi murid-murid, juga sangat dirindukan. Sebab setiap hari murid-murid selalu ingin curhat, dekat, dan melepas kehausan ilmu maupun rasa penasaran akan peradapan kehidupan.
Baca Juga: AI Bukan Pengganti Guru, Melainkan Teman Baru di Ruang Kelas
Guru seperti ini tak lebih dari sekadar menuntut siswa untuk memahami materi, namun mampu memahami kondisi psikologis muridnya.
Guru seperti ini pasti meluangkan waktu untuk mendengarkan keluh kesah muridnya tanpa menghakim.
Bahkan memberikan jalan terang sebagai solusi. Saat murid melakukan kesalahan, selalu hadir bertindak sebagai pembimbing yang sabar, ikhlas, dan pengayom, bukan penghukum.
Guru yang mengajar dengan hati akan bergaya dengan cara menarik. Guru seperti ini tidak terpaku pada metode konvensional yang membosankan.
Ia selalu berinovasi lewat teachingtainment yang segar, cerita yang inspiratif, maupun penggunaan media interaktif yang dekat dengan dunia murid.
Proses pendidikan bukanlah sesuatu yang instan. Hanya dengan ketulusan, kelembutan, dan keikhlasan, guru akan berhasil mendidik siswanya menjadi pribadi yang cerdas dan berakhlaqul karimah.
Di sinilah pentingnya mengajar dengan hati. Diperlukan jiwa guru yang bisa mendidik muridnya dengan ikhlas, tidak semata-mata mengharapkan gaji ataupun pujian.
Tanggung jawab yang besar ini betul-betul dilaksanakan sepenuh hati. Keikhlasan inilah yang akan memudahkan siswa dalam menerima ilmu dan nasihat dari guru. Apa pun yang berasal dari hatim, akan diterima dengan nyaman oleh hati yang tenang.
Seorang guru yang mengajar dengan hati, akan menyampaikan keilmuan dengan ikhlas serta mengedepankan sikap bersahabat, menyenangkan, empati, konsisten terhadap komitmen, antusias, membangun team work, ramah, santun, dan sabar.
Mendidik dengan hati akan memberikan keyakinan bahwa setiap murid mampu berprestasi, bisa berkreasi, dan piawai dalam berkomunikasi.
Baca Juga: Bahasa Inggris, Pentingkah?
Guru yang dirindukan akan selalu menghadirkan rasa adil dan penuh keteladanan. Murid sangat menghargai guru yang memperlakukan dirinya secara setara, tanpa pilih kasih maupun membanding-bandingkan.
Guru juga menjadi panutan yang baik (digugu dan ditiru) melalui sikap, kedisiplinan, dan tutur kata sehari-hari.
Guru yang menjadi inspirator kehidupan juga dirindukan murid-muridnya. Bukan hanya materi pelajaran yang diingat siswa, melainkan nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan.
Guru yang dirindukan mampu menyulut semangat, menumbuhkan rasa percaya diri, serta mendorong muridnya untuk berani bermimpi dan berusaha mewujudkannya.
Guru yang selalu dirindukan murid, bukan selalu karena nilai, tapi karena sikap dan ketulusan. Murid mungkin lupa nilai pelajaran, tetapi tidak pernah lupa bagaimana guru memperlakukan mereka.
Sikap sabar, menghargai, dan mau mendengar membuat murid merasa aman untuk belajar. Ketulusan guru terlihat dari perhatian kecil yang konsisten, bukan dari kata-kata besar.
Pada akhirnya, ilmu bisa didapatkan dari mana saja, namun sentuhan manusiawi dan ketulusan seorang guru tidak akan pernah tergantikan. Kehadiran mereka meninggalkan jejak kebaikan yang akan selalu membekas di hati para murid sepanjang hayat. (*)
Editor : fery ardi susanto