Mereka tampak riang menyaksikan Septian memamerkan keahliannya berpantomim. Di antaranya menarik tali, naik kereta api, dan sebagainya. Ditemani guru pendamping, murid-murid diajak praktik gerakan dasar pantomim tersebut.
“Belajar pantomim ini untuk melatih dan mengembangkan kemampuan berbahasa isyarat siswa tuli,” ujar Septian
Tidak ada kendala saat Septian mentransfer ilmunya. Sebab, berpantomim merupakan salah satu media berkomunikasi dengan penyandang tuli. Namun memang dibutuhkan kemampuan gerak khusus.
“Harus punya bahasa atau komunikasi gerak yang bagus agar para siswa lebih mudah memahami,” katanya.
Ditambahkan Septian, pada dasarnya, siswa berkebutuhan khusus memiliki imajinasi yang kuat. Dengan banyak mengasah soft skill, diharapkan kemampuan mereka berkembang dan lebih mandiri.
Kepala SLB Negeri Surakarta Erna Muslichatun Fatmawati mengatakan, belajar pantomim merupakan kegiatan rutin tahunan. Tujuannya, memotivasi para siswa mengembangkan bakatnya lewat kegiatan seni.
“Anak berkebutuhan khusus dengan hambatan wicara dan pendengaran ini dilatih dapat bercerita dengan bermain pantomime. Mulai dari latihan berekspresi dan mengatur mimik juga wajah,” paparnya.
Lewat kegiatan tersebut, imbuh Erna, siswanya diajak bergembira agar lebih bersemangat sekolah. “Seperti ekspresi senang, wajah diangkat, kalau lagi sedih, diturunkan. Orang yang melihat gerakan itu juga bisa tahu. Oh….ini gerakan sedih, ini gerakan senang. Harapannya, anak-anak termotivasi untuk terus berkompetisi,” tutur dia. (ian/wa/dam) Editor : Damianus Bram