Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Sekolah-Sekolah Swasta di Solo yang Tetap Bertahan meski Kembang-kempis (1)

Damianus Bram • Rabu, 3 Agustus 2022 | 15:00 WIB
OPTIMISTIS BERTAHAN: Siswa SMP Advent Surakarta sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar. (SEPTIAN REFVINDA/RADAR SOLO)
OPTIMISTIS BERTAHAN: Siswa SMP Advent Surakarta sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar. (SEPTIAN REFVINDA/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Sejumlah sekolah swasta di Kota Solo dalam keadaan kembang kempis. Ibarat pepatah hidup segan mati pun tidak mau karena setiap tahun jumlah siswa terus menurun. Namun, sebagian dari mereka memilih tetap bertahan dengan segala cara.

SEPTIAN REFVINDA, Solo, Radar Solo

Sebuah papan nama sekolah usang dimakan zaman tetap terpasang. Begitu masuk ke ruang kelas yang digunakan siswa kondisinya juga sangat sederhana. Tak ada laboratorium komputer atau laboratorium lainnya.

Jika biasanya ruang kelas dilengkapi dengan puluhan meja dan kursi yang kokoh, kondisi ini berbeda di ruang kelas SMP PGRI 1 Surakarta. Sebagian besar meja kursi kayu yang digunakan sudah terlihat lapuk dan berdebu. Warna cat dinding mulai memudar. Beberapa atap sekolah juga sudah tampak rusak dan berlubang dimakan usia. Namun, semangat belajar siswa membuat ruang kelas terlihat hidup.

Beragam cara dilakukan pengelola sekolah agar tetap beroperasi, meski setiap tahun siswa yang mendaftar ke sekolah ini semakin turun. Kepala sekolah dan guru di sekolah ini pun rela turun langsung memotivasi siswa. Setiap menjelang ujian akhir, para guru rela mendatangi rumah siswa satu persatu agar siswa dapat mengikuti ujian.

“Saat ujian itu, kami sering ke rumah siswa untuk membangunkan siswa atau sekadar mengingatkan agar mengikuti ujian,” ujar Widi, salah seorang guru SMP PGRI 1 Surakarta ditemui Jawa Pos Radar Solo.

Kepala SMP PGRI 1 Surakarta Dedy Haryono mengatakan, sekolahnya pernah berada di masa jaya. Saat itu siswanya tembus ratusan. Namun, seiring berjalannya waktu dengan munculnya regulasi baru, sekolahnya semakin kesulitan mendapatkan siswa.

Dedy menilai, pemangku kebijakan seringkali menutup mata terhadap keberadaan sekolah swasta yang kondisinya kembang kempis. Kalau sekolah swasta itu bagus, favorit, terkenal, lebih akan diperhatikan. Tetapi sekolah swasta yang sederhana cenderung diabaikan.

“Kami akan tetap melayani meski hanya ada satu atau dua siswa yang bersekolah di sini. Jika kami mati, akan dibawa ke mana anak-anak ini? Negeri tidak menerima karena zonasi, swasta yang besar tidak kuat membayar. Ya sudah mau bagaimana lagi, yang jelas kami tetap sesuai tujuan untuk mencerdaskan anak bangsa,” ujarnya

Sekolah negeri selalu menjadi pilihan karena memang dana pemerintah telah mampu meningkatkan kualitas, sarana dan prasarana pendidikan. Sementara sekolah swasta menjadi pilihan kedua atau sekolah cadangan ketika kesempatan sekolah di negeri benar-benar telah pupus. Pemerintah sendiri nampak seperti menganaktirikan sekolah swasta. Kalaupun ada bantuan dari pemerintah untuk sekolah swasta, itu pun sifatnya sekadarnya.

Akibatnya, sekolah swasta harus berusaha sendiri untuk mendapatkan biaya operasional sekolah dan menggaji para guru. Sumber dana bagi sekolah swasta adalah sumbangan pendidikan serta SPP dari murid. Ketika sekolah swasta tahun demi tahun semakin merosot siswanya karena kehilangan peminat, maka  sekolah tutup tinggal menunggu waktu saja.

Hal serupa juga dirasakan SMP Advent Surakarta. Meski siswanya minim, sekolah ini tetap optimistis untuk berkembang dan bergerak ikut memajukan pendidikan di Kota Solo. Berbagai upaya dilakukan untuk menarik siswa. Mulai dari menggunakan biaya dan kendaran pribadi, kepala sekolah dan guru SMP Advent Surakarta rela turun langsung sosialisasi dari satu SD ke SD yang lain.

Para siswa juga terus didorong untuk mengikuti berbagi lomba demi mengasah kompetensi sekaligus menunjukkan kepada masyarakat bahwa sekolah memiliki nilai plus lainnya.

“Sebisa mungkin akan tetap kami upayakan, meski semakin sulit untuk tetap eksis bertahan. Sosialisasi melalui sosial media maupun secara langsung sudah kami lakukan, tapi memang kondisinya semakin sulit,” ujar Kepala SMP Advent Surakarta Donny Irawan.

Diakui Donny, sekolahnya juga sedikit mengalami kesulitan dalam pengelolaan dana operasional sekolah. Untuk menyiasasti itu maka pengelolaan dana sangat diperketat untuk berbagai kegiatan sekolah. Selain itu juga mendapatkan bantuan dana dari gereja dan donatur lainnya.

Bantuan tersebut dinilai Donny sangat bermanfaat dan berpengaruh untuk perkembangan sekolah. Meski memiliki siswa yang minim, fasilitas sekolah untuk kenyamanan siswa tetap menjadi prioritas. Setiap kelas telah dilengkapi dengan AC demi memberikan kenyaman siswa saat belajar. Salah satu upaya yang akan dilakukan untuk menarik siswa, sekolah juga akan membangun gedung baru empat lantai.

“Harapan kami memang ada bantuan dari pemerintah secara langsung kepada sekolah swasta yang kecil. Bukan berarti sekolah kecil dibiarkan tutup dan mati. Mau bagaimana pun kami juga memiliki peran besar untuk mencerdaskan anak bangsa. Sebagai bukti siswa kami juga sering menjuarai lomba tingkat kota. Jadi, senadyan cilik tapi mentes,” tuturnya. (*)  Editor : Damianus Bram
#SMP PGRI 1 Surakarta #Sekolah Swasta di Solo #Kekurangan Siswa Sekolah Swasta #SMP Advent Surakarta #sekolah swasta