Pelaksana tugas (Plt) Kepala Cabang Dinas (Cabdin) Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah VII Jawa Tengah Suratno menjelaskan, SMK harus rajin memperbaiki pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan industri. “Sehingga lulusan SMK mudah terserap ke dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja (dudika) setelah lulus nanti,” bebernya.
Pengurus Konsorsium Pengusaha Republik Indonesia Primadi Serad menambahkan, program revitalisasi bertujuan untuk menyelaraskan kurikulum sekolah vokasi dengan kebutuhan industri. Termasuk tujuan besarnya adalah menggerakkan roda perekonomian.
“Sebenarnya bukan SMK yang butuh industri. Tetapi industri yang butuh SMK. Maka dari kolaborasi ini, kurikulum selaras dengan perkembangan industri. Agar nantinya anak-anak lulusan SMK, bisa sesuai dengan kebutuhan industri,” bebernya.
Sementara itu, penyusunan kurikulum di SMK berbeda dengan sekolah lainnya. Harus diselaraskan dengan kebutuhan dan perkembangan industri. Maka dalam proses pembelajarannya, selalu melibatkan dunia industri.
Nah, penyelarasan kurikulum ini juga dibarengi peningkatan kompetensi tenaga pendidik. Para tenaga pendidik dilatih, agar kompetensinya sesuai kebutuhan industri. Kolaborasi antara industri dan tenaga pendidik inilah yang digenjot untuk memaksimalkan penyelarasan kurikulum di SMK.
“Jadi dalam proses penyusunan kurikulum, kami mengundang praktisi dari industri. Penyesuaian kurikulum SMk juga dilakukan secara kontinyu. Sewaktu-waktu bisa berubah mengikuti perkembangan industri,” ujar Kepala SMKN 4 Surakarta Sri Ekowati.
Melalui program teaching factory, para siswa SMK dilatih untuk memiliki soft skills dan hard skills yang nyata. Sehingga langsung bisa dinilai langsung dunia industri.
“Kami sering mendatangkan praktisi dari industri. untuk memberikan materi secara langsung kepada siswa. Juga membuka kegiatan magang di perusahaan. Agar siswa memiliki pengalaman dan pemahaman nyata tentang dunia industri,” katanya. (ian/fer/dam) Editor : Damianus Bram