“SLB negeri di Solo ini terdiri dari SDLB, SMPLB, dan SMALB. Kuota tahun ini cukup besar karena kami menambah delapan ruang kelas baru,” ujar Ketua PPDB SLB Negeri Solo Musowir, Rabu (21/6/2023).
Satu rombongan belajar (rombel) SD terdiri dari lima anak, untuk SMP dan SMA delapan anak. Jika biasanya menampung 40 anak, tahun ini bisa 80 anak. Pelaksanaan PPDB SLB negeri di Solo dilaksanakan secara online dan offline. Pendaftaran online dimulai sejak 27 Mei hingga 7 Juni 2023. Sedangkan untuk pendaftaran offline dimulai sejak 12-23 Juni. Sedangkan untuk asesmen akan dilaksanakan pada 26 Juni.
Bagi siswa yang tidak mampu dan memiliki IQ di bawah 25, akan diarahkan untuk mendaftar di balai atau yayasan khusus untuk menjalani terapi. Anak yang memiliki IQ 25 ke bawah masuk dalam kategori berat. Sedangkan bagi siswa yang memiliki IQ diatas 70 akan diarahkan untuk mendaftar ke sekolah reguler berpredikat sekolah inklusi.
“Asesmen itu untuk mengelompokkan anak-anak yang berkebutuhan khususnya. Anak-anak yang mampu didik semuanya bisa diterima. Tetapi kalau ada yang hanya mampu rawat, itu tidak bisa,” imbuhnya.
Kasi SMA/SLB Cabang Wilayah VII Jawa Tengah Edi Purwanto menjelaskan, pelaksanaan PPDB SLB sedikit berbeda dengan PPDB SMA/SMK. Pelaksanaan PPDB tidak seketat SMA/SMK. Hal tersebut untuk memfasilitasi dan mempermudah anak berkebutuhan khusus untuk mendapatkan pendidikan yang setara.
“Sebenarnya kami membuka terus untuk siswa SLB. Bagi yang mau bersekolah kami tetap melayani. Ini salah satu bentuk untuk memberikan kesempatan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus,” ujarnya.
Selain di SLB negeri, anak berkebutuhan khusus juga dapat melanjutkan pendidikan di SMA/SMK inklusi di Solo. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jateng telah menyiapkan jalur tertentu bagi siswa berkebutuhan khusus tersebut. Sebelum anak mendaftar ke sekolah inklusi mereka diwajibkan untuk mengikuti asesmen dari dinas pendidikan. Maka tidak semua anak bisa masuk ke sekolah inklusi.
“Bukan kami tidak boleh, karena ada faktor lain. Takutnya tidak siap malah kasihan. Di sisi lain sekolah juga belum siap melakukan proses pembelajaran,” ungkapnya.
Terdapat beberapa SMA dan SMK inklusi di Solo. Di antara SMAN 8 Surakarta, SMKN 8 Surakarta, dan SMKN 9 Surakarta. Serta beberapa SMA/SMK swasta lainnya. Pelaksanaan pendidikan SLB negeri maupun swasta tetap mendapat pengawasan dari Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Jawa Tengah.
“Secara prinsip anak-anak kami yang berkebutuhan khusus, kami usahakan juga memiliki hak pendidikan yang sama. Hingga bisa mengembangkan diri sampai mendapatkan profesi,” tandasnya. (ian/bun/dam) Editor : Damianus Bram