RADARSOLO.COM – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surakarta terus berupaya mengentaskan masalah anak rentan putus dan tidak sekolah. Melibatkan seluruh guru, melalui penyisiran di wilayah yang terdapat anak putus sekolah. Hasilnya, terjaring 98 anak putus sekolah di Kota Bengawan.
Kepala Disdik Kota Surakarta Dian Rineta menjelaskan, pemnyisiran ini wajib dan dibebankan kepada para guru. Karena anak tidak sekolah mendapat kuota khusus di sekolah negeri. Sayangnya, dari 98 anak putus sekolah yang terjaring, hanya beberapa yang mau kembali.
Mayoritas memilih tidak mau kembali ke sekolah formal. Alasannya beragam. Terutama tidak cocok dengan teman sebayanya. Biasanya mereka adalah para korban bullying. Kebanyakan siswa jenjang SMP dan SMA.
“Alasanya kerena punya masalah di sekolah formal. Secara psikologis mereka tidak siap kembali ke sekolah formal. Hanya satu, dua, tiga anak yang mau kembali,” kata Dian, kemarin (18/7).
Beberapa anak diketahui memilih melanjutkan pendidikan di sekolah nonformal. “Sudah kami coba tarik kembali ke sekolah. Gratiskan tanpa biaya. Ternyata ada yang tidak mau. Biasanya kami arahkan ke sekolah terdekat dengan rumah si anak,” imbuh Dian.
Tak hanya para guru di sekolah formal. Penyisiran juga dibebankan ke tenaga pendidik sekolah nonformal. Mengingat peran sekolah nonformal cukup strategis. Terutama dalam penanganan anak putus sekolah.
“Kami mendukung. Kami sisir satu per satu wilayah di Kecamatan Banjarsari. Kami juga home visit ke rumah yang ada anak putus sekolah, kemudian kami tampung di sini,” beber Sekretaris Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Berdikari Didik Hartanto.
Sementara itu, mendukung zero anak putus dan tidak sekolah, penerimaan peserta didik baru (PPDB) di sekolah nonformal cukup fleksibel. Mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA. Masyarakat diperkenankan menyekolahkan anaknya sewaktu-waktu.
Bagi anak usia sekolah, bahkan mendapatkan bantuan operasional pendidikan (BOP).
“Kami punya 286 siswa. Mulai dari jenjang kejar paket A (setara SD), paket B (setara SMP), dan paket C (setara SMA). Pemerintah juga membantu sarana-prasarana sekolah dan lainnya,” ujar Didik. (ian/fer)
Editor : Damianus Bram