RADARSOLO.COM - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Surakarta (UNSA) menggelar mimbar bebas dan doa bersama di halaman depan auditorium Prof Dr H.S Brodjosujono SH, MS pada Jumat (22/9). Kegiatan ini digelar dalam rangka peringatan peristiwa September Hitam.
Ketua BEM UNSA Muhammad Matnor mengatakan, bulan September telah menjadi saksi bagi serangkaian tragedi tragis yang mengguncang tanah air, meninggalkan luka yang mendalam dalam sejarah Indonesia.
Rentetan peristiwa itu di antaranya dari Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30SPKI) 1965, tragedi Tanjung Priok 1984, tragedi Semanggi II 1999, pembunuhan Munir 2004, terbunuhnya Salim Kancil 2015, tragedi reformasi dikorupsi 2019.
"Dan, belum lama ini terjadi tragedi Pulau Rempang 2023 yang menambah rentetan daftar September Hitam," kata Matnor.
Kegiatan mimbar bebas dan doa bersama juga dihadiri perwakilan dari BEM Solo Raya, perwakilan dari HMI Solo, Uniba, Unisri, Usahid, UMS, Umuka, dan Stikes Mitra Husada.
Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia raya dan Hymne Mahasiswa. Dilanjutkan dengan mimbar bebas. Acara ditutup dengan menggelar doa bersama dengan diterangi cahaya lilin yang dibawa masing-masing mahasiswa. Selanjutnya lilin ditiup dengan harapan berhentinya permasalahan yang ada di Indonesia.
Para peserta kemudian menaburkan bunga pada foto tokoh-tokoh yang telah gugur dalam September Hitam. Ini sebagai simbol duka cita dengan tidak melupakan perjuangan mereka.
"Lewat aksi ini kami ingin membangun iklim peduli terhadap sesama," tegas Matnor.
"Kami ingin membangun iklim peduli terhadap sesama, terhadap kasus-kasus yang belum terselesaikan dan tindakan yang seharusnya tidak dilakukan oleh negara terhadap masyarakatnya," imbuh dia. (*/ria)
Editor : Syahaamah Fikria