RADARSOLO.COM-Model pembelajaran memainkan peran vital dalam mencapai hasil belajar yang optimal.
Salah satu pendekatan yang banyak digunakan dan terbukti efektif adalah Cooperative Learning.
Ada berbagai jenis model dalam metode ini. Salah satunya yang diterapkan di banyak sekolah adalah Peer Tutoring atau Teman Sebaya.
Metode ini memberi kesempatan kepada siswa dengan kemampuan akademik lebih tinggi untuk membantu teman sekelas memahami materi yang diajarkan.
Namun, tim peneliti dari Program Studi Bahasa Inggris Universitas Duta Bangsa (UDB) Surakarta yang diketuai oleh Ratini Setyowati, S.Pd., M.A. melihat bahwa model Peer Tutoring ini masih memiliki beberapa kekurangan.
Selain menguasai materi, siswa yang ditunjuk sebagai mentor harus memiliki keterampilan lain.
Seperti rasa percaya diri yang tinggi, tanggung jawab, dan kemampuan komunikasi yang baik.
Oleh karena itu, tim peneliti memperkenalkan model pembelajaran baru yang dinamakan Co-Trainers.
Model ini mirip dengan Peer Tutoring namun lebih difokuskan pada peningkatan kualitas mentor sebelum mereka membimbing siswa lainnya.
Dalam Co-Trainers, siswa yang dipilih sebagai mentor dilatih untuk mengembangkan keterampilan public speaking, tanggung jawab, dan kepercayaan diri, sehingga mereka lebih siap dalam membimbing teman-temannya.
Saat ini, model Co-Trainers tengah diuji coba di SMK Kesehatan Citra Medika Sukoharjo dan SMK Kesehatan Mandala Bhakti Surakarta oleh tim peneliti UDB Surakarta.
Diharapkan, dengan pendekatan ini, hasil pembelajaran akan lebih maksimal dan dapat berkontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.
"Dengan pelatihan yang kami berikan, kami yakin siswa dapat menjadi mentor yang lebih baik, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan lebih lancar dan menyenangkan bagi semua pihak," beber Ratini Setyowati.
Model pembelajaran ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya di bidang pembelajaran Bahasa Inggris. (*)
Editor : Tri Wahyu Cahyono