RADARSOLO.COM – Maraknya pencemaran air akibat pewarna sintetis di sejumlah aliran sungai wilayah Mojogedang, Karanganyar, mendorong warga Desa Pendem untuk berinovasi.
Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Pendem bekerja sama dengan Tim Program Ormawa Membangun Negeri (POMN) dari Badan Eksekutif Mahasiswa Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (UNS) mengembangkan batik dengan motif Toya Wening.
Produk batik ini berbasis green marketing sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan.
Ketua Pokdarwis Desa Pendem Sunarso menjelaskan, pengembangan batik Toya Wening tidak hanya untuk melestarikan kearifan lokal, tetapi juga sebagai respons terhadap masalah pencemaran air yang kerap terjadi akibat penggunaan pewarna sintetis.
“Kami berharap batik motif Toya Wening ini bisa memperluas wawasan masyarakat sekaligus mendorong kreativitas mereka dalam menciptakan produk fesyen yang ramah lingkungan. Selain itu, ini juga dapat meningkatkan motivasi warga untuk mengembangkan usaha bisnis,” ujar Sunarso, Selasa (15/10/2024).
Sementara itu, Ketua Tim POMN dari Kemendikbud RI Restu Astuti menambahkan, sosialisasi mengenai pembuatan batik ramah lingkungan ini bertujuan membantu kelompok suvenir di Desa Pendem agar berkembang.
Baik dari sisi ilmu pengetahuan maupun keterampilan membatik dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada.
“Pelatihan ini menginspirasi peserta untuk meningkatkan keterampilan dalam teknik pencelupan dan pewarnaan. Selain memajukan Desa Pendem sebagai destinasi unggulan, ini juga membuka peluang bisnis baru yang menguntungkan bagi perempuan di desa,” jelas Restu.
Restu juga menekankan bahwa minimnya pengetahuan masyarakat tentang penggunaan pewarna alami dalam pembuatan batik menjadi alasan utama Tim POMN melaksanakan program pemberdayaan ini.
Selain itu, kurangnya keterampilan dalam memanfaatkan sampah kardus kemasan juga menjadi fokus program.
“Penggunaan pewarna alami tidak hanya mendukung upaya pencegahan pencemaran lingkungan, tetapi juga lebih aman untuk kulit sensitif. Tim kami berhasil menciptakan motif batik khas bernama Toya Wening, yang terinspirasi dari filosofi Sendang Bulu sebagai sumber mata air di Desa Pendem,” jelasnya.
Dosen pembimbing Rysca Indreswari menyampaikan, pelatihan membatik ini diharapkan dapat menjadi fondasi awal bagi kelompok suvenir untuk mengembangkan produk-produk turunan batik yang inovatif.
"Dengan memanfaatkan keterampilan yang diperoleh, diharapkan menciptakan solusi kreatif dan berkelanjutan dalam industri batik," tutur Rysca. (rud/adi)
Editor : Adi Pras