Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Tari Englang Usung Konsep Mendalam: Ingatkan Permainan Engklek Zaman Dahulu

Mannisa Elfira • Minggu, 10 November 2024 | 16:10 WIB

 

Pementasan tari Englang di Taman Balekambang Solo, Sabtu (26/10) sore.
Pementasan tari Englang di Taman Balekambang Solo, Sabtu (26/10) sore.
 

RADARSOLO.COM - Masih ingat engklek atau engkleng? Ini adalah salah satu permainan tradisional yang mengandalkan keseimbangan kaki. Untuk terus mengingatnya, anak-anak murid Maheswari Art Yogyakarta mempersembahkan tari Englang di Taman Balekambang Solo, Sabtu (26/10) sore.

Seorang anak perempuan menggenakan kebaya dongker naik ke atas panggung. Dengan centilnya, bocah tersebut menari-nari dengan wajah yang berseri. Belum lagi ditambah lantunan gamelan yang kian menghidupkan suasana sore itu.

Tak lama kemudian, empat anak perempuan lainnya menyusul. Lima di antara mereka mulai menari dengan irama yang sama. Begitu pula gerakannya. Cukup cepat, menggandalkan kaki dengan cara melompat-lompat. Gerakannya tak asing bukan?

Ya, gerakan-gerakan tersebut menggambarkan bagaimana anak-anak bermain engkleng atau engklek. Permainan tradisional yang bisa dimainkan banyak orang.

"Engkleng itu semacam permainan dengan alat peraga menggambar di tanah seperti bentuk pesawat. Terus mereka nanti berjalannya dengan engklek dengan kaki satu diangkat. Mereka menggunakan propertinya dari kreweng atau pecahan genteng. Nanti dilempar untuk mencari tempat mereka untuk singgah," jelas pelatih Maheswari Art Yogyakarta Nanik Marsudi kepada Jawa Pos Radar Solo.

Baca Juga: Tari Selendang Dewi Sri, Pesan untuk Cintai Bumi Pertiwi

Permainan ini sendiri memiliki manfaat positif bagi anak-anak. Nanik menyebutkan, selain membawa kebahagiaan saat bermain, Engkleng juga berdampak untuk motorik anak.

"Dengan permainan ini anak-anak bisa mensinkronkan antara otak kanan dan otak kiri," sambung Nanik.

Nanik mengangkat tarian ini juga bukan tanpa alasan. Dia mengaku terinspirasi karena sekarang ini anak-anak sering bermain gadget. Alhasil, mereka sudah lupa dengan permainan tradisi yang sudah ada di masa lalu.

"Kami mencoba supaya anak ingat kembali kalau mereka punya permainan tradisional, yang bukan hanya bisa dimainkan bersama-sama tapi juga bisa ditarikan," tegas Nanik.

Menariknya lagi, lima penari cilik ini tergolong baru. Nanik menyebutkan mereka berasal dari kelas anyar yang baru berlatih tiga bulan belakang ini. "Perkembangannya mereka pesat, karena mereka awal ketemu saya itu belum tahu tari sama sekali. 3 bulan lalu mereka intens dan menjelang keberangkatan ke Solo 2 minggu latihan terus," tambahnya.

Membimbing anak anak di seni tari bukan tanpa tantangan. Nanik mengaku ada banyak rintangan yang dihadapinya. Termasuk bagaimana orang tua dan lingkungan yang cukup berpengaruh.

"Saya berharap akan muncul bibit-bibit baru yang bukan hanya akan melestarikan. Namun juga mengembangkan seni tari supaya bisa diterima semua zaman dan generasi," tuturnya. (nis/nik)

 

Editor : Niko auglandy
#engklek #tari