RADARSOLO.COM – Pemenuhan hak anak di Kota Solo masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Berbagai permasalahan, mulai dari pendidikan hingga gizi, terus menjadi tantangan besar bagi pemerintah kota dan masyarakat setempat.
Plt. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Solo Purwanti menyoroti sejumlah isu utama yang menghambat pemenuhan hak anak.
“Kita tidak hanya fokus pada stunting, tapi juga pada masalah gizi kurang dan gizi lebih. Masih ada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi, serta kelompok rentan seperti anak-anak yang hidup dengan HIV. Semua ini membutuhkan perhatian dan perlindungan khusus,” ujarnya.
Purwanti juga mengungkapkan bahwa selain masalah gizi, akses pendidikan bagi anak-anak di Solo masih belum merata. Hal ini ditambah dengan meningkatnya kasus pernikahan usia anak yang memperparah situasi.
“Anak-anak yang berhadapan dengan hukum juga menjadi salah satu isu serius yang perlu penanganan lebih baik,” tambahnya.
Pengasuhan positif oleh keluarga menjadi salah satu kunci dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Namun, menurut Purwanti, hal ini masih menjadi tantangan besar di Kota Solo.
“Pengasuhan positif di Solo perlu ditingkatkan. Peran keluarga sangat penting untuk membangun generasi masa depan yang sehat secara fisik dan mental,” imbuhnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pengasuhan yang mendukung hak-hak anak, termasuk membangun komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak.
Di sisi lain, staf pendamping hukum Yayasan Kakak, Intan Hadiah Rastiti, menyoroti bahwa kekerasan terhadap anak sering kali tidak disadari, baik oleh anak maupun orang tua.
Masih banyak anak-anak yang merasa tidak mengalami kekerasan, padahal mereka sebenarnya sudah menjadi korban. Misalnya, tidak diberikan uang saku padahal orang tua mampu, itu sudah masuk kategori penelantaran.
"Hal kecil seperti memanggil dengan nama julukan yang tidak pantas juga bisa dianggap sebagai bullying, apalagi jika dilakukan berulang kali,” jelas Intan.
Ia menambahkan bahwa kesadaran akan pentingnya pencegahan kekerasan harus ditingkatkan di semua lapisan masyarakat. Kekerasan, dalam bentuk apa pun, dapat berdampak buruk pada perkembangan mental dan emosional anak.
"Kami berharap anak-anak di Solo semakin bebas dari kekerasan, semakin banyak yang mendapatkan edukasi, dan angka kekerasan di kota ini dapat terus ditekan," tuturnya.
Pemenuhan hak anak bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan kerja sama dari masyarakat, keluarga, dan berbagai pihak terkait. Pemerintah Kota Solo, melalui DP3AP2KB, terus menggencarkan program-program untuk meningkatkan kualitas hidup anak, seperti imunisasi, program gizi, dan pendidikan inklusif.
Namun, Purwanti mengingatkan bahwa dukungan dari keluarga dan masyarakat sangat penting untuk keberhasilan program ini.
“Anak-anak adalah generasi masa depan kita. Mereka membutuhkan perhatian, perlindungan, dan dukungan dari semua pihak agar bisa tumbuh menjadi individu yang sehat, kuat, dan berdaya,” pungkasnya. (zia/nik)
Editor : Niko auglandy