Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Muhammad Rohmadi, Mengintegrasikan Literasi dengan Pragmatik untuk Generasi Muda

Fauziah Akmal • Selasa, 17 Desember 2024 | 04:09 WIB
Muhammad Rohmado konsen di pembelajaran pragmatik. (Fauziah Akmal/Radar Solo)
Muhammad Rohmado konsen di pembelajaran pragmatik. (Fauziah Akmal/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Di tengah hiruk-pikuk Kota Solo, sebuah taman baca bernama Arfuzh Ratulisa berdiri di Jalan Kalingga Utara I, Jetis, Kadipiro. Lebih dari sekadar perpustakaan, tempat ini menjadi oase bagi masyarakat untuk membaca dan belajar bersama.

Bagi Muhammad Rohmadi, pendiri Arfuzh Ratulisa, literasi bukan hanya tentang membaca buku tetapi juga membangun pola pikir kritis dan komunikasi yang santun melalui pembelajaran pragmatik.

“Arfuzh Ratulisa biasanya dijadikan taman baca anak-anak dan masyarakat setempat. Bisa juga menjadi tempat belajar bersama,” ujar Rohmadi, Senin (16/12).

Namun, kontribusi Muhammad Rohmadi tidak berhenti di sana. Dia akan dikukuhkan sebagai profesor di bidang pragmatik dan pembelajaran pragmatik pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Rabu besok (18/12).

Rohmadi memilih pragmatik sebagai fokus keilmuannya karena melihat potensi besar bidang ini dalam memitigasi ujaran kebencian di era digital. Pragmatik, cabang linguistik yang mempelajari maksud tersirat di balik tuturan, menjadi alat penting untuk memahami konteks komunikasi.

“Belajar pragmatik berarti belajar memahami maksud dan tujuan tuturan penutur kepada lawan tutur dengan memerhatikan konteks,” jelasnya.

Dia menambahkan, dengan memahami pragmatik, kesalahpahaman dapat diminimalisasi, ujaran kebencian dicegah, dan komunikasi menjadi lebih santun. Ambil contoh bagaimana pragmatik mengajarkan kita untuk menjaga rasa dan muka dalam berkomunikasi.

“Misalnya, ketika simbah menerima seorang tamu datang dan kita tidak boleh mendengarkan pembicaraannya, maka dikatakan, ‘Sana, bikinkan minum untuk tamu.’ Ujaran tersebut secara halus menyampaikan maksud tanpa menyakiti,” tuturnya.

Bersamaan dengan kiprahnya sebagai akademisi, Rohmadi juga menggagas gerakan Ratulisa atau rajin menulis dan membaca. Diluncurkan pada 2015, Ratulisa bertujuan meningkatkan minat baca masyarakat dengan pendekatan pragmatik kontekstual. Gerakan ini selaras dengan literasi abad 21 yang menuntut kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif.  

Rohmadi juga mengintegrasikan Ratulisa dengan enam literasi dasar, yakni literasi baca-tulis, keuangan, digital, sains, budaya, dan kewargaan. Melalui pendekatan ini, dia mengajarkan bagaimana literasi tidak hanya menjadi alat pengembangan pribadi, tetapi juga membangun masyarakat yang inklusif dan berwawasan luas.

Bagi Rohmadi, pembelajaran pragmatik tidak hanya relevan di ruang akademik, tetapi juga di kehidupan sehari-hari. Dia menyebutkan bahwa masyarakat Jawa, misalnya, sudah menerapkan prinsip pragmatik melalui kode-kode bahasa yang santun dan kontekstual.  

“Pragmatik mengajarkan kita untuk memanusiakan manusia, menghargai perasaan orang lain, dan menjaga harmoni dalam komunikasi,” ungkapnya.

Dia menekankan pentingnya mengajarkan pragmatik sejak dini. Mulai dari keluarga hingga perguruan tinggi agar generasi muda mampu berkomunikasi dengan baik dan santun.

Dengan pengukuhan jabatan profesornya, Rohmadi berkomitmen untuk terus mengembangkan pragmatik sebagai bidang ilmu yang interdisipliner.

"Jadi belajar pragmatik ini bisa memanusiakan manusia, santun, lebih menghargai orang lain. Maka orang yang menguasai pragmatik, pembelajarannya menyenangkan efektif inovatif dan kreatif," tandasnya. (zia/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#literasi #generasi muda #kota solo #membaca buku