Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

87 Persen Mahasiswa Salah Pilih Jurusan Kuliah, Menurut Ketua SPMB UNS Solo Ini Penyebabnya

Fauziah Akmal • Kamis, 30 Januari 2025 | 03:41 WIB

 

Mahasiswa baru mengikuti PKKMB UNS 2024 lalu (M Ihsan/Radar Soilo)
Mahasiswa baru mengikuti PKKMB UNS 2024 lalu (M Ihsan/Radar Soilo)

RADARSOLO.COM – Sebanyak 87 persen mahasiswa di Indonesia mengalami salah jurusan. Fakta ini diungkap oleh ahli Educational Psychologist dari Integrity Development Flexibility (IDF) Irene Guntur. Fenomena ini terus terjadi akibat kurangnya pemahaman calon mahasiswa dalam memilih program studi (prodi).

Menyikapi hal ini, Kantor Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) UNS Sutarno mengimbau para calon mahasiswa agar lebih cermat dalam menentukan pilihan jurusan sesuai dengan minat dan prospek karier di masa depan.

Sutarno mengatakan, momen ini menjadi krusial, mengingat saat ini tengah berlangsung proses pembuatan akun seleksi nasional penerimaan mahasiswa baru (SNPMB), salah satunya jalur seleksi nasional berdasarkan prestasi (SNBP).

“Pemilihan jurusan yang tidak matang dapat berakibat pada ketidakcocokan saat kuliah, sehingga banyak mahasiswa yang kehilangan motivasi belajar atau bahkan memilih pindah jurusan di tengah jalan,” ujar Sutarno, Rabu (29/1/2025).

Sutarno menegaskan bahwa pemilihan prodi harus dilakukan secara matang, terutama karena kurikulum pendidikan saat ini mengalami banyak perubahan. Ia mengingatkan calon mahasiswa untuk tidak hanya mengikuti tren atau tekanan lingkungan sekitar.

"Pada kurikulum sekarang, mata pelajaran yang dapat dijadikan dasar untuk menentukan prodi berbeda dengan kurikulum sebelumnya. Maka adik-adik SMA ini perlu mempelajari dulu jurusan atau prodi apa yang diminati," paparnya.

Mantan dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNS itu menekankan, pilihan jurusan harus berdasarkan keinginan pribadi, bukan tekanan dari orang tua, guru, atau lingkungan sekitar.

"Yang nantinya kuliah kan adik-adik semua, bukan orang tua, bukan tetangga. Saran bisa dipertimbangkan, tetapi keputusan final tetap ada di tangan kalian masing-masing," tegasnya.

Selain minat, Sutarno menekankan pentingnya melihat prospek karier dari jurusan yang dipilih, termasuk dampaknya di era kemajuan teknologi informasi. Menurutnya, banyak bidang pekerjaan yang saat ini berkembang pesat, namun ada juga yang berisiko tergeser oleh digitalisasi dan kecerdasan buatan.

Sutarno juga menyoroti peran penting guru bimbingan konseling (BK) dalam memberikan arahan kepada siswa SMA yang masih bingung menentukan jurusan. Guru BK bisa membantu calon mahasiswa menggali potensi diri, memahami minat dan bakat, serta memberi gambaran tentang dunia kerja sesuai prodi yang diminati.

"Peran guru BK sangat penting untuk mengarahkan adik-adik SMA dalam memilih jurusan. Harapannya, setelah lulus, mereka bisa menggunakan ilmu yang diperoleh dengan baik karena telah memilih prodi yang tepat dan sesuai minat," imbuhnya.

Bagi calon mahasiswa yang memiliki keterbatasan finansial, dia juga mendorong agar aktif mencari informasi terkait beasiswa. Banyak jalur beasiswa yang bisa dimanfaatkan, baik dari pemerintah, swasta, maupun internal kampus.

“Untuk adik-adik yang kurang beruntung dalam finansial, jangan khawatir. Jika memiliki prestasi akademik atau non-akademik seperti olimpiade dan olahraga, bisa mendaftar berbagai beasiswa yang tersedia,” tandasnya.

Kesalahan dalam memilih jurusan bukan hanya berdampak pada semangat belajar selama kuliah, tetapi juga bisa memengaruhi prospek karier di masa depan. Dengan pemilihan yang tepat dan perencanaan yang matang, mahasiswa tidak hanya menikmati proses belajar, tetapi juga memiliki masa depan yang lebih jelas sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. (zia/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#spmb #jurusan #SNPMB #uns #mahasiswa