RADARSOLO.COM-Persatuan Orang Tua Murid Al Abidin (Portal) kembali menggelar aksi pernyataan sikap.
Mereka menuntut transparansi Yayasan Al Abidin, Jumat (31/1).
Namun, audiensi yang mereka harapkan gagal karena ketua yayasan tidak hadir menemui mereka.
Puluhan orang tua murid mengawali aksi dengan longmarch dari Masjid Mujahidin Banyuanyar menuju Kantor Yayasan Al Abidin Solo.
Mereka membawa berbagai poster. Di antaranya bertuliskan “Dana Organisasi Siswa Harus Optimal,”.
“Maksimalkan Fasilitas Siswa Bukan untuk Yayasan,”.
“Tolak Uang Air Galon,” serta “Pengurangan SPP Karena MBG," dan lainnya.
Koordinator Portal Iman Buhairi Santoso menjelaskan, aksi ini merupakan yang kali ketiga.
Sebelumnya mereka menggelar audiensi dengan DPRD Solo dan Dinas Pendidikan Solo.
Namun, ketua yayasan selalu tidak hadir.
“Pernyataan sikap Portal yaitu meminta Yayasan Al Abidin transparan dalam pengelolaan dana dari negara,” tegas Buhairi.
“Kami ingin melihat secara terang-benderang bahwa uang negara melalui dana BOS atau dana lain benar-benar disalurkan sesuai peruntukannya,” lanjutnya.
Menurut Buhairi, sekolah di bawah Yayasan Al Abidin telah menerima dana BOS sejak 2005.
Tetapi para orang tua tidak pernah mendapatkan kejelasan terkait penggunaannya.
Transparansi dianggap penting agar tidak terjadi duplikasi anggaran.
"Sudah dibayar dengan duit negara, masih dibayarkan juga oleh orang tua murid," imbuhnya.
Portal juga menuntut Yayasan Al Abidin untuk menghentikan praktik profit taking yang dianggap berlebihan.
Salah satu contoh yang disoroti adalah biaya air galon Rp 90 ribu per semester, sedangkan kualitas air dinilai tidak layak minum.
Selain itu, kondisi kendaraan sekolah yang digunakan untuk kegiatan seperti outing class, juga dikeluhkan.
“Outing class selalu mendapat yang mati atau yang macet AC-nya, bahkan yang terakhir yang viral yaitu truk dengan pelat nomornya mati,” tambah Buhairi.
Portal juga meminta pemerintah menunda program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah Yayasan Al Abidin hingga ada transparansi keuangan.
“Sebelumnya, pihak yayasan menyatakan bahwa katering makan siang adalah sedekah yayasan, tapi kemudian dinyatakan diambil dari SPP,” ungkap Buhairi.
“Jika memang demikian, lebih baik MBG dialihkan ke sekolah lain yang lebih membutuhkan,” tegasnya.
Tuntutan lain yang disampaikan adalah agar guru dibebaskan dari kewajiban mengelola dana sedekah siswa.
Seperti Peduli Kawan (Peka) dan Tabungan Sedekah Subuh Keluarga (TSSK), sehingga mereka bisa lebih fokus mengajar.
Baca Juga: Seleksi Sangat Ketat, Tren Warga Boyolali Bekerja di Jepang Malah Meningkat: Ini Alasannya
Menanggapi aksi ini, Humas Yayasan Al Abidin Imam Samodra menuturkan, pihaknya yayasan terus berbenah dan berkomitmen memberikan pelayanan terbaik bagi siswa dan orang tua.
“Pada intinya, Yayasan Al Abidin terus berbenah, memperbaiki diri dan berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada orang tua, siswa, dan semuanya,” ujarnya.
Imam berharap orang tua bisa menerima niat baik yayasan demi kelancaran proses belajar siswa.
“Semoga niatan baik kami bisa diterima oleh orang tua siswa dan semoga juga orang tua juga menerima dengan baik sehingga nanti proses belajar anak bisa lebih baik,” katanya. (zia/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono