Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Dari Limbah Jadi Energi, Inovasi Kompor Berbahan Oli Bekas Karya Guru dan Siswa Solo

Fauziah Akmal • Selasa, 11 Februari 2025 | 03:52 WIB
Guru IPA Nurul Fitria bersama siswanya mempraktikkan cara menghidupkan kompor dari bahan oli bekas. (Fauziah Akmal/Radar Solo)
Guru IPA Nurul Fitria bersama siswanya mempraktikkan cara menghidupkan kompor dari bahan oli bekas. (Fauziah Akmal/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Di saat kebanyakan orang masih bergantung pada kompor gas atau listrik untuk memasak, inovasi unik justru lahir dari sebuah laboratorium sekolah di Kota Solo. Seorang guru IPA Nurul Fitria bersama para siswanya berhasil menciptakan kompor berbahan bakar oli bekas dan minyak jelantah—sebuah alternatif ramah lingkungan yang mengubah limbah menjadi energi.

Pagi kemarin, suasana di lobi SMP Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat tampak lebih ramai dari biasanya. Nurul dan para siswa karta ilmiah remaja (KIR) serius mendemonstrasikan cara kerja kompor inovatif mereka di hadapan para guru dan siswa lainnya.

Oli bekas yang ditampung dalam botol plastik mengalir perlahan melalui selang infus ke dalam tungku. Sumbu kompor yang terbuat dari kapas menyerap tetesan oli, lalu dipantik dengan korek api.

Secara perlahan, nyala api mulai membesar. Awalnya berwarna kuning, namun begitu blower 18 watt dinyalakan, api berubah menjadi biru—menandakan proses pembakaran yang lebih sempurna. Bodi kompor yang berbentuk kubus terbuat dari kaleng biskuit bekas, dimodifikasi agar lebih kokoh dan aman digunakan.

Minyak jelantah dan oli bekas sering kali dianggap sebagai limbah yang tak berguna, bahkan dapat mencemari lingkungan jika dibuang sembarangan. Nurul menjelaskan, limbah minyak yang mencemari air dapat membentuk lapisan yang menghambat pertukaran oksigen, merusak ekosistem perairan, hingga menurunkan kualitas air tanah.

Dari sinilah muncul ide untuk mengolah limbah tersebut menjadi energi yang lebih bermanfaat.

"Kami ingin mengatasi dua masalah sekaligus—pengelolaan limbah dan krisis energi. Gas sekarang makin langka, sementara oli bekas dan minyak jelantah melimpah. Jadi, kenapa tidak dimanfaatkan?" ujar Nurul.

Tak hanya berfungsi sebagai sumber energi alternatif, tim KIR juga berupaya menjadikan kompor ini lebih praktis dan portabel. Desainnya dibuat lipat, sehingga mudah dibawa dan disimpan.

"Kami memodifikasi desainnya agar lebih efisien, sehingga oli dan minyak jelantah bisa mengalir dengan baik ke tungku tanpa campuran bahan lain. Jadi, bisa langsung digunakan sebagai bahan bakar," jelasnya.

Meskipun masih dalam tahap pengembangan, kompor ini telah diuji coba dalam edukasi ke masyarakat di Simo, Boyolali. Hasilnya? Kompor ini mampu digunakan untuk memasak empat kali penggorengan dengan konsumsi bahan bakar yang sangat irit—hanya berkurang 10 hingga 20 mililiter dalam setiap kali penggunaan.

"Bisa untuk memasak sop, menggoreng tempe, hingga memanaskan air. Sangat hemat dibandingkan bahan bakar lainnya," tambahnya.

Dari segi biaya produksi, prototipe awal kompor ini membutuhkan dana sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu, terutama untuk komponen besi dan alat pemotongan. Namun, biaya ini masih bisa ditekan jika produksi dilakukan dalam skala lebih besar.

Melihat potensi besar dari inovasi ini, Nurul dan timnya kini tengah menyiapkan pendaftaran hak paten serta menyempurnakan desainnya bersama dosen-dosen Pendidikan Fisika Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogjakarta.

"Kami ingin kompor ini lebih praktis digunakan. Saat ini, kami sedang mengembangkan sistem pemantik agar bisa lebih mudah dinyalakan, seperti kompor gas dengan knop pemutar," ungkapnya.

Inovasi ini bukan hanya sekadar eksperimen di sekolah, tetapi bisa menjadi solusi nyata dalam pengelolaan limbah dan kemandirian energi. (*/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#siswa #limbah #inovasi #guru #kompor gas