RADARSOLO.COM-Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyoroti krisis kualitas pendidikan di Indonesia.
Fenomena schooling without learning, di mana siswa bersekolah tetapi gagal memahami esensi pembelajaran, masih menjadi tantangan utama.
Dalam peresmian SD Muhammadiyah Internasional UMS pada Jumat (14/3), Abdul Mu'ti menegaskan bahwa infrastruktur pendidikan yang baik harus dibarengi dengan peningkatan mutu pengajaran.
“Tanpa metode pengajaran yang efektif, sekolah hanya akan mencetak lulusan berijazah tanpa keterampilan yang mumpuni,” tegasnya.
Selain itu, kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia masih memprihatinkan.
Banyak siswa yang mampu membaca kata demi kata tetapi gagal menangkap makna.
Hal serupa terjadi pada pemahaman matematika yang masih menjadi momok bagi banyak pelajar.
Berdasarkan Rapor Pendidikan Indonesia 2024 yang dirilis Kementerian Pendidikan, kemampuan literasi dan numerasi sebagian besar siswa berada dalam kategori sedang, di mana hanya 40–70 persen siswa yang mencapai kompetensi minimum.
Hasil ini beragam di berbagai jenjang:
- Literasi: Hanya siswa SD umum, SMA umum, dan SD Luar Biasa (SDLB) yang masuk kategori baik (>70 persen).
Sementara jenjang lain masih berada dalam kategori sedang, bahkan SMA kesetaraan masuk kategori kurang (<40 persen).
- Numerasi: Hanya SDLB yang masuk kategori baik (70,93 persen), sementara jenjang lainnya masuk kategori sedang, dengan skor antara 42,86 persen hingga 66,3 persen.
Krisis ini semakin diperparah dengan hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2022:
- 82 persen siswa Indonesia berusia 15 tahun tidak memahami matematika.
- 75 persen siswa tidak memahami bacaan.
- 66 persen siswa tidak menguasai sains.
Dalam skor PISA 2022, Indonesia masih tertinggal jauh dari rata-rata global:
- Matematika: 366 (rata-rata global 472)
- Literasi: 359 (rata-rata global 476)
- Sains: 383 (rata-rata global 485)
“Selama lebih dari 20 tahun sejak Indonesia mengikuti PISA pada 2000, capaian siswa kita tidak mengalami perubahan signifikan,” tambah Abdul Mu’ti.
Krisis literasi dan numerasi ini berisiko memperburuk daya saing generasi muda Indonesia di kancah global. Untuk mengatasi ini, Mendikdasmen menekankan perlunya:
Reformasi metode pembelajaran dengan pendekatan yang lebih interaktif dan berbasis keterampilan.
Peningkatan kompetensi guru agar mampu mengadaptasi metode pengajaran yang lebih efektif.
Penggunaan teknologi dan digitalisasi pendidikan untuk meningkatkan akses dan kualitas pembelajaran.
Penanaman kecakapan hidup (life skills), termasuk pemahaman numerik dan analitis yang aplikatif.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan sekolah di Indonesia tidak hanya sekadar mencetak lulusan berijazah, tetapi juga menghasilkan generasi yang kompeten dan siap bersaing. (zia/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono