RADARSOLO.COM – Di tengah kekhawatiran akan dampak merokok terhadap kesehatan, empat mahasiswa asal Solo ini justru menemukan secercah harapan. Dari obrolan ringan tentang kebiasaan merokok di sekitar kampus, lahirlah ide membuat filter rokok alami yang akhirnya membawa mereka terbang ke panggung internasional
Hana Rahmawati, Mira Shofiah, M. Daffa Qory Maulana, dan M. Thoriq Azwar adalah nama-nama di balik inovasi tersebut. Di bawah bimbingan dosen Riza Maulana mereka menggagas filter berbahan beta-kitosan, karbon aktif, dan ekstrak daun nanas—komposisi unik yang diuji secara laboratorium dan dirancang untuk menyerap zat berbahaya dari asap rokok sebelum masuk ke dalam tubuh.
“Daun nanas tidak kami gunakan seluruhnya, hanya bagian tertentu yang memiliki potensi filtrasi tinggi,” jelas Hana, ketua tim, penuh antusias.
Inovasi ini tidak berhenti di atas kertas. Mereka melewati uji formulasi, merancang prototipe, hingga mempresentasikan karyanya dalam ajang bergengsi International Science Technology and Engineering Competition (ISTEC) di Bali. Di antara ratusan peserta dari berbagai negara, mereka berhasil mencuri perhatian hingga dinyatakan lolos dan tampil di 120 besar.
Saat membuka booth di lokasi pameran, respon tak terduga datang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). “Mereka tertarik untuk menjalin kolaborasi dengan industri dan packaging,” ujar Hana.
Daffa, yang berasal dari fakultas kedokteran menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar teknis, melainkan menyentuh aspek medis yang sangat relevan.
“Penyakit paru seperti PPOK sangat erat kaitannya dengan rokok. Inovasi ini bisa jadi salah satu upaya preventif,” tuturnya.
Ia menyoroti pula beban besar BPJS akibat penyakit pernapasan sebagai latar belakang pentingnya solusi semacam ini.
Bagi Daffa, ajang ISTEC membuka mata bahwa inovasi tidak selalu dimulai dari laboratorium besar. “Ide kecil pun bisa berdampak besar kalau digarap serius dan kolaboratif,” katanya.
Inisiatif ini juga mendapat dukungan penuh dari fakultas. Dekan Fakultas Kedokteran UMS dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, mengapresiasi inovasi mahasiswanya.
“Ini bukan proyek musiman. Ada pembinaan, ada sponsor. Kami dorong mereka jadi pionir perubahan.”
Kini, tim tengah bersiap untuk langkah berikutnya yaitu uji lanjut, penyempurnaan formula, hingga rencana komersialisasi. Mereka yakin, inovasi kecil mereka bisa menyelamatkan banyak jiwa—dari satu isapan rokok, yang difilter dengan harapan. (zia/bun)
Editor : Kabun Triyatno