RADARSOLO.COM – Penyebutan “disabilitas” semestinya diubah menjadi “difabilitas” atau different ability. Istilah ini dinilai lebih humanis dan mencerminkan potensi, bukan kekurangan. Seperti disampaikan Profesor Gunarhadi, dalam orasi penghormatan purnabaktinya sebagai profesor Universitas Sebelas Maret (UNS), Selasa (24/6).
Selain Gunarhadi, Prof Munawir Yusuf juga purnabakti. Keduanya merupakan guru besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS.
Gunarhadi menekankan pentingnya memandang penyandang difabilitas bukan sebagai kelompok yang kekurangan. Melainkan mereka yang memiliki potensi dengan cara berpikir, belajar, dan berperilaku tersendiri.
“Pada kenyataannya memang demikian. Mereka tidak dipandang sebagai 'dis', tetapi lebih dipandang sebagai 'dif' yang artinya different,” kata Gunarhadi.
Di balik keterbatasannya, difabel memiliki hal-hal positif dan kemampuan kognitif. Ambil contoh tokoh dunia Helen Keller, difabel netra dan tuli pertama yang lulus dari universitas. Banyak pula anak difabel yang mampu menghafal Alquran, menjadi ilmuwan, hingga menghasilkan karya luar biasa.
Mendukung karier mereka, setidaknya ada dua strategi utama. Meliputi pendidikan dasar di sekolah inklusi dan luar biasa, serta program transisi pasca-SMA yang membuka jalur akademik maupun vokasi.
“Kini makin banyak difabel yang bisa kuliah. Sementara jalur vokasi berkembang alami lewat relasi dan informasi di masyarakat,” bebernya.
Di sisi lain, Munawir memaparkan enam tonggak perjalanan UNS menjadi kampus inklusif. Mulai dari pendirian Pusat Penelitian Rehabilitasi dan Remediasi (PPRR) pada 1990, penerapan mata kuliah pendidikan inklusif di FKIP sejak 2008, hingga pengakuan sebagai kampus inklusif terbaik oleh Kementerian pendidikan dan kebudayaan pada 2012.
PPRR kemudian bertransformasi menjadi Pusat Studi Disabilitas (PSD) pada 2015, disusul pengesahan UU No. 8/2016 yang mewajibkan perguruan tinggi menerima mahasiswa disabilitas dan membentuk unit layanan. Sejak 2020, UNS juga membuka jalur khusus penerimaan mahasiswa difabel.
"Program kampus inklusif itu ke depan mestinya masuk di dalam sistem penganggaran dan perencanaan universitas," kata dia.
Pelaksana harian (Plh) Rektor UNS Prof. Fitria Rahmawati menyebut, Gunarhadi dan Munawir sebagai tokoh inspiratif yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan dan pengembangan kampus inklusif.
“Terbukti darma bakti beliau sudah ikut membesarkan Pusat Studi Disabilitas dan makin mengembangkan UNS sebagai kampus inklusif. Bahkan tiap tahun ada Inclusion Metric yang diikuti seluruh fakultas,” kata Fitria. (zia/fer)
Editor : fery ardi susanto