RADARSOLO.COM-Program Studi Teater Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Cilacap sukses menggelar dua kegiatan utama.
Yakni Diskusi Seni dan Pementasan Karya Kolaborasi yang mengangkat potensi kesenian tradisi Menoreh sebagai bagian penting dalam pemajuan kebudayaan lokal.
Acara yang berlangsung di Pendopo Kecamatan Cipari ini melibatkan mahasiswa Prodi Teater Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta dan para seniman lokal Desa Mekarsari, Kecamatan Cipari.
Kedua pihak bersinergi dalam upaya pelestarian dan revitalisasi kesenian Menoreh melalui pendekatan akademik dan eksperimentasi kreatif.
Diskusi Seni: Menggali Nilai, Menyatukan Gagasan
Diskusi yang berlangsung pada 8 Juli 2025 menghadirkan narasumber utama Tafsir Hudha,
S.Sn., M.Sn, dengan makalah bertajuk “Upaya Pembinaan Kesenian sebagai Langkah Awal
Pemajuan Kebudayaan di Kabupaten Cilacap: Studi atas Kesenian Rakyat Menoreh.”
Diskusi berlangsung aktif dan gayeng, diikuti oleh berbagai kalangan—seniman, budayawan, guru, siswa SMA dan SMP, serta aparat pemerintah.
Para peserta tak hanya menyimak, tetapi juga terlibat dalam dialog kritis dan reflektif terhadap kondisi aktual kesenian rakyat.
“Kesenian Menoreh memiliki karakteristik unik yang mencerminkan akar tradisi agraris, spiritualitas lokal, serta nilai-nilai kolektif masyarakat Desa Cipari,” ujar Tafsir Huda.
Pernyataan ini memperkuat pentingnya pelestarian Menoreh sebagai bagian dari identitas budaya lokal yang perlu diwariskan lintas generasi.
Makalah yang disampaikan memunculkan gagasan-gagasan yang tidak hanya menggugah.
Tetapi juga membuka ruang tafsir dan diskursus baru yang memperkuat posisi kesenian rakyat dalam dinamika sosial kontemporer.
Sekaligus membuka ruang strategi partisipatif dalam menjaga keberlanjutan Menoreh sebagai warisan budaya hidup.
Pementasan Kolaborasi: “Jimat Murco” – Cermin Etika dan Kekuasaan
Baca Juga: FSP ISI Surakarta Gelar Pementasan Penghormatan untuk Dedikasi Didik Bambang Wahyudi
Puncak acara berlangsung pada 9 Juli 2025 dengan pementasan karya kolaboratif berjudul “Jimat Murco: Sebuah Hikayat tentang Nafsu Kekuasaan dan Kebijaksanaan”.
Karya ini disutradarai oleh Achmad Dipoyono, S.Sn., M.Sn dengan dramaturgi oleh Tafsir Hudha, M. Sn.
Penata gerak dan laku Yulela Nur Imama, M.Sn., penata musik dan iringan Sigit Setiawan, M.Sn dan Warsidi.
Serta melibatkan mahasiswa/i Prodi Teater ISI Surakarta dan seniman Menoreh setempat sebagai pemain.
Lakon ini menampilkan konflik moral antara ambisi kekuasaan dan nilai-nilai kebajikan. Menghadirkan kisah yang sarat makna sosial dan relevansi kontekstual.
Penonton memberikan respons sangat positif terhadap penyajian yang penuh inovasi baik dari segi bentuk, koreografi, musik, hingga kostum.
“Pementasan Menoreh akan lebih menarik jika memunculkan anak-anak muda, yang memang dididik dan dilatih secara intens sebagai generasi baru pelaku seni Menoreh,” ujar sutradara Achmad Dipoyono.
Dia menekankan urgensi regenerasi pelaku seni sebagai jalan menjaga keberlangsungan tradisi yang hidup dan adaptif di tengah tantangan zaman.
Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dan apresiasi tinggi dari masyarakat serta pemangku kebijakan setempat.
Termasuk Bupati, Camat, Forkopimcam, dan Kepala Desa yang turut hadir menyaksikan pementasan.
Ini membuktikan bahwa seni pertunjukan mampu menjadi jembatan dialog antar generasi dan antar sektor.
Kerja kolaboratif ini tidak hanya memperkuat eksistensi kesenian lokal, tetapi juga membuka jalur strategis dalam pendidikan budaya, pengembangan komunitas, serta pemanfaatan teknologi digital untuk pelestarian dan promosi kesenian rakyat.
Seni Sebagai Medium Transformasi Sosial
Baca Juga: Adaptasi Era Digital, Mahasiswa FSP ISI Surakarta Asah Skill Jurnalistik dan Kehumasan
Kolaborasi antara institusi pendidikan seni dan komunitas lokal ini menegaskan bahwa seni bukan sekadar tontonan, melainkan ruang dialog dan transformasi.
Dengan mengedepankan nilai-nilai lokal dan pendekatan partisipatif, kegiatan ini menjadi model pembinaan budaya yang patut dikembangkan lebih lanjut dalam skala yang lebih luas dan berkelanjutan. (*)
Penulis : Silvya Anggraeni Mahasiswa Prodi Teater Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta