RADARSOLO.COM-Dosen beserta Mahasiswa Program Studi DIII Teknologi Laboratorium Medis STIKES Nasional melaksanakan penyuluhan kesehatan dengan tema “Edukasi Pemanfaatan Ovitrap Dalam Mengurangi Populasi Nyamuk Vektor DBD di Soko, Kelurahan Madegondo”.
Penyuluhan ini dilaksanakan di Desa Soko, Kelurahan Madegondo.
Kegiatan ini dihadiri ibu-ibu PKK RT 5 RW 3 Soko, Kelurahan Madegondo, Grogol, Sukoharjo sebanyak 25 peserta.
Acara ini diawali dengan pembukaan oleh MC, selanjutnya materi (Bahaya Nyamuk Aedes aegypti dalam penularan penyakit demam berbdarah) yang disampaikan oleh dosen.
Kemudian dilanjutkan praktik demonstrasi praktis dalam pembuatan ovitrap sebagai alat untuk menangkap nyamuk oleh Mahasiswa DIII Teknologi Laboratorium Medis STIKES Nasional, selanjutnya sesi diskusi dan tanya jawab.
“Demam Berdarah Dengue (DBD) tetap menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang cukup serius di berbagai wilayah Indonesia," kata dosen pembimbing Ardy Prian Nirwana, M.Si.
Menurut Ardy, kasus DBD umumnya lebih banyak ditemukan di daerah dengan kepadatan penduduk yang tinggi, khususnya di kawasan perkotaan.
Faktor lingkungan seperti iklim tropis dan buruknya sistem sanitasi menjadi tempat yang ideal bagi nyamuk Aedes aegypti berkembang biak.
Selain itu, rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan turut memperburuk penyebaran penyakit ini.
Kabupaten Sukoharjo yang terletak di Provinsi Jawa Tengah masih menunjukkan angka kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) yang cukup tinggi.
Dalam tiga tahun terakhir, tren kasus DBD cenderung mengalami fluktuasi.
Pada tahun 2019 tercatat 317 kasus, menurun menjadi 185 kasus pada 2020, namun kembali naik menjadi 222 kasus pada tahun 2021.
Di Kelurahan Madegondo, kasus DBD tercatat tidak terlalu tinggi. Namun, penyebarannya bersifat merata dan ditemukan di setiap RW.
Dalam satu bulan terakhir, kasus DBD di Kelurahan Madegondo terdapat 10 kasus di setiap RW dengan masing-masing RW terdapat satu kasus.
Hal ini menunjukan bahwa penularan penyakit ini sudah meluas dan tidak terfokus di satu wilayah saja.
Penyuluhan ini memberikan edukasi kepada mayarakat akan pentingnya pengendalian vektor DBD melaui penggunaan ovitrap.
“Ovitrap merupakan alat yang dirancang menyerupai tempat alami yang biasa digunakan nyamuk Aedes aegypti untuk bertelur, seperti genangan air dalam wadah," terang dosen pembimbing Dewi Saroh, M.Sc.
"Namun, berbeda dari tempat alami tersebut, ovitrap dilengkapi dengan bahan insektisida atau sistem fisik tertentu yang mampu membunuh telur maupun larva nyamuk sebelum berkembang menjadi dewasa," imbuhnya.
Dengan mekanisme ini, ovitrap tidak hanya efektif dalam mendeteksi keberadaan populasi nyamuk di suatu wilayah, tetapi juga berfungsi sebagai metode pengendalian biologis yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Kegiatan penyuluhan ini diikuti oleh 5 mahasiswa yakni Erika Wulandari, Diah Ayu Pramudya, Fadhilah Nur Amalia, Fina Laila Rahma, dan Kristina Army.
Tim mahasiswa melakukan Praktek Demostrasi Pembuatan Ovitrap dengan menggunakan melarutkan gula merah pada air 200 mL kemudian ditambahkan bubuk ragi dan diletakkan pada botol plastik.
Manfaat penggunaan air gula merah dan ragi dalam pembuatan ovitrap yaitu sebagai atraktan yang akan menarik nyamuk untuk terbang dan terperangkap di dalam ovitrap.
“Tujuan penggunaan gula dan ragi dalam ovitrap adalah untuk menciptakan dan menghasilkan gas karbon dioksida (CO2) melalui proses fermentasi, yang berfungsi sebagai atraktan atau daya tarik utama bagi nyamuk untuk masuk ke dalam perangkap," beber dosen pembimbing Dwi Haryatmi, M.Si.
"Nyamuk tertarik pada aroma CO2 hasil fermentasi gula dan ragi, sehingga mereka terbang menuju sumber aroma tersebut dan terperangkap di dalam ovitrap,” lanjutnya.
Masyarakat sebelumnya belum banyak yang mengenal dan menggunakan ovitrap sebagai agen pengendali biologi vector nyamuk DBD.
Harapannya dari kegiatan ini Masyarakat dapat menerapkan penggunaan ovitrap tersebut disetiap sudut-sudut rumah sehingga dapat memutus tali penularan DBD.
Penyuluhan ini juga mendukung tujuan dari SDGs yaitu SDGs 3 tantang Kehidupan Sehat dan Sejahtera. (*)