RADARSOLO.COM – Pondok Pesantren Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen (Ponpes DIMSA) menunjukkan kepedulian mendalam terhadap para korban terdampak banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah Aceh dan Sumatera.
Melalui rangkaian kegiatan keagamaan dan kemanusiaan, ponpes ini berhasil mengumpulkan donasi sementara sebesar Rp 19.602.600.
Kepala MA DIMSA, Ustadz Fuad Ibrahim menyampaikan, kegiatan ini merupakan upaya nyata untuk melatih empati dan solidaritas para santri.
"Kami ingin menanamkan bahwa kepedulian tidak hanya diajarkan, tetapi dipraktikkan. Semua donasi yang terkumpul insyaAllah akan disalurkan melalui Kantor Layanan LAZISMU Kabupaten Sragen," jelas Ustadz Fuad.
Ponpes DIMSA berharap, kontribusi yang mereka berikan meski dari jauh dapat meringankan beban dan menjadi bagian dari upaya pemulihan bagi masyarakat Aceh dan Sumatera yang terdampak bencana.
Hal yang menarik dari kegiatan penggalangan dana kali ini adalah penggunaan metode modern.
Alih-alih menggunakan kotak donasi konvensional, proses donasi dilakukan melalui kartu cashless milik santri.
Sistem digital ini tidak hanya menjamin kemudahan pendataan dan transparansi, tetapi juga menjadi sarana edukasi praktis bagi santri agar terbiasa dengan ekosistem keuangan digital yang aman.
Donasi sebesar lebih dari Rp19 juta ini berhasil dihimpun dari partisipasi aktif seluruh elemen pesantren.
Mulai dari santriwan-santriwati, wali santri, hingga ustadz dan ustadzah.
Lantas kegiatan solidaritas ini diawali dengan pelaksanaan sholat Ghaib berjamaah yang diikuti oleh seluruh santri, ustadz, dan ustadzah beberapa waktu lalu.
Sholat ini bertujuan mendoakan saudara-saudara yang meninggal dunia dan yang masih berjuang di lokasi bencana.
Ustadz Ahmad Ghozali (Usgo) mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat rasa aman yang masih dirasakan.
Sekaligus merenungkan makna di balik fenomena bencana. Dia menyoroti dua faktor utama penyebab bencana banjir.
Merujuk pada sejarah umat terdahulu, faktor teologis yakni adanya penolakan terhadap ajaran tauhid.
Selanjutnya faktor ekologis, Kerusakan lingkungan yang diakibatkan kelalaian manusia dalam menjaga alam.
"Musibah adalah pengingat agar kita kembali mendekat kepada Allah dan memperbaiki hubungan dengan lingkungan," tegasnya. (din/adi)
Editor : Adi Pras