RADARSOLO.COM - Solo dikenal sebagai kota budaya, hal inilah yang membutuhkan pemahaman dan komitmen kolaboratif antarlembaga untuk mengelola arsip warisan budaya perlu dikembangkan dan dimatangkan.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Umum ISI Surakarta Isa Ansari menyatakan, Solo Raya memiliki banyak kekayaan seni budaya yang berpotensi menjadi warisan budaya nasional.
“Pengelolaan arsip seni budaya secara kolaboratif antara berbagai pihak pengelola merupakan kebutuhan penting untuk penyelamatan kekayaan budaya nusantara,” terangnya dalam kegiatan Bincang Arsip #4 yang digelar oleh Unit Penunjang Akademik Dokumentasi dan Koleksi ISI Surakarta di Ruang Mini Cinema, Laboratorium Multimatra SBSN ISI Surakarta.
Acara ini dihadiri perwakilan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Surakarta, Sukoharjo, Sragen, Klaten, dan Boyolali, Taman Budaya Jawa Tengah, Museum Samanhudi, Museum Keris, dan Museum Reksopustaka Puro Mangkunegaran.
Termasuk wakil dari UPA Perpustakaan ISI Surakarta, dan Kearsipan ISI Surakarta, Universitas Sahid, dan Universitas Sebelas Maret.
Acara ini tujuannya untuk mengidentifikasi tantangan dan praktik terbaik pengelolaan arsip warisan budaya di masing-masing institusi.
Termasuk merumuskan model atau mekanisme kolaborasi yang efektif (berbagi sumber daya, expertise, dan informasi) dalam penyelamatan arsip warisan budaya. Mendorong juga terciptanya jejaring kerja (networking) antar unit yang mengelola warisan budaya di Solo Raya.
Sesi sharing session dipandu oleh Arsiparis ISI Surakarta Lipursari. Peserta saling bertukar pengalaman dalam pengelolaan arsip seni budaya. Perwakilan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Klaten dan Sragen mengungkapkan bantangan untuk mengakuisisi arsip seni budaya yang dikelola perorangan menjadi dinamika unik dan menarik.
Pengalaman tersebut kemudian mendapatkan tanggapan dari peserta lainnya, sehingga bisa saling memberikan masukan tentang bagaimana mengedukasi masyarakat untuk berkenan menyerahkan arsip seni budaya perorangan kepada lembaga kearsipan daerah atau perguruan tinggi.
Salah satu yang bisa dilakukan bersama adalah terus menggabungkan sadar arsip dan memahamkan masyarakat bahwa penyerahan arsip merupakan salah satu langkah untuk penyelamatan arsip dari kerusakan.
Para peserta bincang arsip bersepakat bahwa Solo Raya memang memiliki banyak warisan seni budaya. Kolaborasi antara pemerintah kota/kabupaten, museum, perpustakaan, dan perguruan tinggi akan menjadi kekuatan dalam pengelolaannya.
Kegiatan bincang arsip diharapkan dapat diselenggarakan secara berkelanjutan untuk membangun kesepahaman dan sinergi, bukan hanya dalam penelusuran dan penyelamatan arsip seni budaya, melainkan juga dalam aktivasi arsip seni budaya.
Arsip seni budaya perlu dikelola dengan pendekatan aktif, bukan pasif sehingga dapat meningkatkan literasi budaya bagi masyarakat. (nik)
Editor : Niko auglandy