Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Ingatkan Krisis Pangan, Dampak Penurunan Akuifer di Jateng

Alfida Nurcholisah • Senin, 22 Desember 2025 | 15:15 WIB
Dosen Fakultas Pertanian UTP Sapto Priyadi
Dosen Fakultas Pertanian UTP Sapto Priyadi

RADARSOLO.COM – Penurunan cadangan air tanah atau akuifer di Jawa Tengah berpotensi menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan jangka panjang.

Jika tidak dikelola secara bijak, kondisi tersebut dapat memicu krisis pangan lintas generasi. Peringatan ini disampaikan Dosen Fakultas Pertanian Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Sapto Priyadi.

Menurut Sapto, akuifer dalam selama ini jadi tulang punggung berbagai sistem produksi pangan. Mulai dari irigasi pertanian, hortikultura, hingga industri pengolahan pangan.

Namun, keberadaannya kerap terabaikan karena dampaknya tidak langsung terlihat.

“Akuifer dalam, terbentuk sangat lama dan laju pengisian ulangnya lambat. Jika terus dieksploitasi tanpa penghitungan ilmiah, berarti kita sedang menghabiskan cadangan air milik generasi berikutnya,” urai Sapto.

Sapto menambahkan, eksploitasi sumber daya air di Jateng terus meningkat. Seiring pertumbuhan penduduk, urbanisasi, ekspansi industri, serta kebutuhan pangan yang makin besar.

Di sisi lain, kemampuan alam untuk mengisi ulang air tanah tidak sebanding dengan laju pemanfaatannya.

Sapto menyinggung pengalaman banjir bandang di sejumlah wilayah di Sumatra sebagai pelajaran penting. Ketidakseimbangan antara curah hujan ekstrem dengan daya serap tanah, menyebabkan banjir di musim hujan. Di sisi lain, bisa berujung kekeringan saat kemarau.

“Jika daerah resapan rusak, air hujan hanya menjadi limpasan. Cadangan air tanah terus menurun. Maka wilayah resapan seperti Gunung Merapi-Merbabu, Dieng, Kendeng, hingga Rembang harus dijaga dari sekarang,” pesannya.

Dalam konteks ketahanan pangan, akuifer berperan strategis sebagai cadangan air irigasi, penopang hortikultura, hingga sumber air pertanian. Penurunan debit air tanah disebut akan berdampak langsung pada ketidakstabilan masa tanam, turunnya produktivitas, hingga kenaikan harga pangan.

“Sekira 70 persen konsumsi air dunia digunakan untuk pertanian. Tanpa air, sawah dan ladang tidak bisa berproduksi. Dampaknya, ketergantungan akan impor pangan pasti meningkat,” ujarnya.

Tantangan tersebut, lanjut Sapto, diperparah perubahan iklim dan alih fungsi lahan yang mengurangi daya resap tanah. Akibatnya, air hujan lebih banyak terbuang sebagai limpasan permukaan.

Sapto berharap isu konservasi air tanah menjadi perhatian bersama pemerintah, pelaku industri, petani, dan masyarakat. Semua demi menjaga ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan di Jateng.

Sebagai langkah antisipasi, Sapto mendorong kebijakan pengelolaan air berbasis riset dan keberlanjutan.

Di antaranya pemetaan akuifer dengan teknologi mutakhir, perlindungan daerah resapan, audit ekologis dalam perizinan, serta pengembangan pertanian hemat air seperti drip irrigation dan fertigation.

“Konservasi akuifer bukan untuk menghambat pembangunan, tetapi menata penggunaan air. Sehingga kebutuhan hari ini terpenuhi, tanpa mengorbankan generasi 30-40 tahun mendatang,” paparnya. (alf/fer)

Editor : Niko auglandy