RADARSOLO.COM – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo menyiapkan berbagai langkah strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan sekaligus capaian hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa SD dan SMP. Salah satu fokus utama tahun ini adalah peningkatan kompetensi guru melalui program pendidikan dan pelatihan (diklat) berbasis daring.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Solo Dwi Aryatno mengatakan, peningkatan kualitas guru menjadi kunci utama dalam mendongkrak hasil TKA siswa di masa mendatang.
“Tahun ini kami sudah menyiapkan beberapa hal terkait peningkatan mutu dan capaian hasil TKA anak-anak SD dan SMP. Untuk guru, selain pemenuhan kebutuhan, kita juga meningkatkan kualitas pendidikannya,” ujar Dwi saat ditemui di ruangannya, belum lama ini.
Disdik Solo menyiapkan program Diklat 100 JP (jam pelajaran) yang berfokus pada pembelajaran digital, pembelajaran mendalam, serta penguatan growing mindset. Program ini akan terdiri dari enam modul yang dilaksanakan selama dua bulan.
“Kami punya program Diklat 100 JP yang nanti dilaksanakan selama dua bulan. Targetnya 4.000 guru secara bertahap, namun untuk tahun ini kami targetkan 200 guru SD dan 200 guru SMP,” jelasnya.
Pelaksanaan diklat dilakukan secara daring untuk meminimalisir pengurangan jam mengajar di kelas sekaligus menekan biaya pelatihan.
“Kalau dilakukan secara luring penuh, konsekuensinya guru harus meninggalkan kelas dan biayanya juga tinggi. Karena itu kami siapkan metode daring, satu kelas diisi 30 sampai 40 orang dengan pendamping dan mentor yang berkualitas,” tambah Dwi.
Setelah menyelesaikan tahapan daring, peserta akan melanjutkan ke tahap klasikal secara luring untuk mempraktikkan metode pembelajaran yang telah dipelajari.
“Proses luring ini untuk menguji coba metode pembelajaran yang sudah diberikan secara daring, mana yang bisa diterapkan di kelas masing-masing,” terangnya.
Menurut Dwi, tantangan terbesar dalam pelaksanaan diklat daring adalah membangun kesadaran dan kemandirian guru.
“Tantangan paling besar adalah membangun kesadaran diri karena proses diklat ini dilakukan secara mandiri. Tapi kami siapkan pre-tes dan post test untuk mengukur capaian kemampuan guru,” ungkapnya.
Program diklat ini akan diintervensi sepanjang Januari hingga Desember dan diharapkan berdampak pada peningkatan hasil TKA tahun berikutnya.
“Harapannya ini berpengaruh pada hasil TKA tahun depan, 2027. Meski kami juga realistis, tidak mudah meng-cover 4.000 guru dalam satu tahun penuh karena prosesnya panjang,” ujarnya.
Selain peningkatan kualitas guru, Dwi juga menaruh perhatian pada revitalisasi sarana dan prasarana sekolah yang pendanaannya bersumber dari APBN.
“Kami sudah mengimbau sekolah melaporkan kondisi sarana prasarana. Jika ada ruang kelas atau fasilitas yang perlu diperbaiki, akan kita ajukan ke pusat agar segera ditindaklanjuti,” jelas Dwi.
Untuk kesiapan pelaksanaan TKA, Dwi meminta sekolah menginventarisasi ketersediaan komputer dan perangkat pendukung lainnya.
“Sebagian besar sekolah sebenarnya sudah punya peralatan tinggal kita pastikan sistemnya masih berjalan dengan baik. Mekanisme TKA nanti kurang lebih sama seperti UNBK, jadi seharusnya tidak mengalami kesulitan,” katanya.
Jika jumlah perangkat dinilai belum mencukupi, pelaksanaan TKA akan dibagi dalam beberapa sesi menyesuaikan sarana yang tersedia.
"Saya yakin dengan materi dan metode pembelajaran yang tepat, anak-anak bisa mencapai hasil TKA yang lebih tinggi,” tegasnya.
Terkait pola soal TKA, dia menyebut kemungkinan besar masih mengikuti pola yang sama seperti sebelumnya karena disusun oleh tim pusat.
“Untuk soal, polanya kemungkinan masih sama. Tim pusat yang menyusun, memang ada guru yang dilibatkan tapi tidak banyak. Untuk SD dan SMP kemungkinan tipe soalnya tidak jauh berbeda,” pungks Dwi. (alf/nik)
Editor : fery ardi susanto