Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Kasus Kekerasan Terhadap Anak Di Solo Menurun, Ada Andil Orang Tua Dan Keluarga

Alfida Nurcholisah • Kamis, 8 Januari 2026 | 17:45 WIB

 

Ilustrasi perundungan.
Ilustrasi perundungan.

RADARSOLO.COM – Dinas Pendidikan Kota (Disdik) Solo menegaskan pentingnya kolaborasi erat antara sekolah dan orang tua dalam mencegah sekaligus menangani berbagai persoalan yang melibatkan peserta didik. Sinergi tersebut dinilai menjadi kunci dalam menjaga kesehatan mental siswa serta meminimalkan kasus kekerasan di lingkungan pendidikan.

Kasi Manajemen Peningkatan Mutu SMP Dinas Pendidikan Kota Solo Anik Indriyani mengungkapkan, sebagian besar persoalan anak yang muncul di sekolah berakar dari kondisi keluarga. Karena itu, keterlibatan orang tua tidak bisa ditawar dalam proses pembinaan siswa.

Sepanjang tahun lalu, lanjut Anik, banyak sekolah di Surakarta telah menginisiasi kegiatan parenting. Program ini dinilai efektif untuk membangun kesadaran orang tua terhadap peran penting mereka dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

“Karena memang permasalahan yang muncul itu kebanyakan dari keluarga. Jadi harus ada kolaborasi antara siswa, sekolah, dan juga orang tua,” ujarnya.

Menurut Anik, upaya pencegahan dan penanganan berbagai kasus, termasuk kekerasan di sekolah, tidak bisa dibebankan hanya kepada satu pihak. Sekolah dan orang tua harus berjalan beriringan agar kasus serupa tidak terus berulang.

Dia menyontohkan, beberapa waktu lalu sempat terjadi kasus perundungan di salah satu sekolah. Namun, kasus tersebut berhasil ditangani dengan baik melalui pendekatan persuasif dan pendampingan intensif.

Selain itu, terdapat pula kasus anak yang terindikasi melakukan tindakan asusila. Dalam penanganannya, dinas pendidikan bekerja sama dengan DP3P2KB serta dinas sosial untuk melakukan karantina dan pendampingan terhadap siswa yang bersangkutan.

Alhamdulillah, pihak sekolah juga bersedia menerima kembali siswa tersebut setelah proses pendampingan dilakukan,” jelasnya.

Kasus lain yang tak kalah penting menjadi perhatian adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang melibatkan anak. Anik menyebutkan, dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah kasus yang ditangani mengalami penurunan.

Meski demikian, masih tercatat empat kasus yang masuk dalam aplikasi KAKAK untuk seluruh jenjang pendidikan di Kota Solo.

“Angkanya memang turun, tapi tetap harus menjadi perhatian bersama,” tegas Anik.

Dia pun mengimbau para wali murid untuk terus mengawasi perkembangan anak serta menjalin komunikasi yang intensif dengan pihak sekolah. Menurutnya, kondisi kesehatan mental siswa saat ini menjadi aspek yang sangat krusial.

“Kami mengajak seluruh satuan pendidikan untuk melibatkan orang tua dalam proses perkembangan anak, baik akademik maupun nonakademik,” pungkasnya. (alf/nik)

Editor : fery ardi susanto
#kasus kekerasan di solo 2025 #dinas pendidikan kota solo #disdik kota solo