Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Catulla, Tabir Surya dari Kulit Delima dan Jintan Hitam Karya Pelajar Di Solo

Alfida Nurcholisah • Jumat, 16 Januari 2026 | 18:20 WIB

 

Produk Catulla, tabir surya dari bahan kulit delima dan biji jintan hitam karya siswa SMAN 1 Solo.
Produk Catulla, tabir surya dari bahan kulit delima dan biji jintan hitam karya siswa SMAN 1 Solo.

RADARSOLO.COM - Banyak sekali produk tabir surya yang beredar di pasaran. Namun, hanya segelintir yang diproduksi dari bahan alami. Salah satunya Catulla, tabir surya dari bahan kulit buah delima dan biji jintan hitam.

Catulla diproduksi oleh dua siswa kelas XII SMAN 1 Solo, yakni Dimitria Nareswari dan Indira Pramesthi. Melalui riset ilmiah, mereka berhasil mengembangkan produk tabir surya berbahan alami.

Produk ini memanfaatkan ekstrak kulit buah delima dan biji jintan hitam sebagai bahan utama. Tidak hanya berfungsi melindungi kulit dari paparan sinar UV, tetapi juga kaya antioksidan.

Catulla diformulasikan dengan masing-masing 5 persen ekstrak kulit buah delima dan ekstrak biji jintan hitam. Kulit buah delima dipilih, karena kaya akan senyawa fenolik, flavonoid, dan tanin yang memiliki aktivitas antioksidan tinggi, serta bersifat fotoprotektif.

Sedangkan biji jintan hitam mengandung timokuinon dan flavonoid yang berperan sebagai antioksidan dan anti-inflamasi. Menurut Dimitria, ide pembuatan tabir surya ini berangkat dari keprihatinan terhadap masih banyaknya produk tabir surya yang menggunakan bahan kimia sintetis.

“Kami ingin menghadirkan alternatif tabir surya berbahan alami yang tetap efektif, aman bagi kulit, dan mudah dikembangkan dari bahan yang tersedia di sekitar kita,” ujar Dimitria, Jumat (16/1).

Selain faktor keamanan, inovasi ini juga bertujuan memanfaatkan potensi bahan alam lokal. Menurut Dimitria, kulit buah delima selama ini dianggap limbah. Namun memiliki kandungan antioksidan tinggi yang sangat potensial untuk produk perawatan kulit.

Dimitria Nareswari dan Indira Pramesthi terima penghargaan dalam AMSA Youth Project 2025.
Dimitria Nareswari dan Indira Pramesthi terima penghargaan dalam AMSA Youth Project 2025.

“Melalui penelitian ini, kami berharap limbah kulit buah delima bisa memiliki nilai tambah dan tidak hanya dibuang,” imbuhnya.

Selama proses pembuatannya, lanjut Indira Pramesthi, tabir surya diformulasikan dalam bentuk krim. Beserta bahan pendukung lainnya seperti asam stearat, beeswax, petrolatum putih, minyak kelapa murni, serta sistem emulsifier.

Proses pembuatannya dilakukan secara bertahap. Mulai dari ekstraksi bahan aktif, pembuatan fase minyak dan fase air, hingga proses emulsifikasi untuk menghasilkan krim yang stabil dan homogen.

Berdasarkan hasil pengujian laboratorium, produk ini memiliki nilai sun protection factor (SPF) sebesar 35,3 persen. Angka ini masuk kategori proteksi ultra. Selain itu, hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan nilai antioksidan sedang.

Menurut Indira, tantangan terbesar dalam proses pengembangan adalah menjaga stabilitas sediaan krim berbahan alami.

“Terutama menentukan konsentrasi ekstrak yang tepat agar efektif, namun tetap stabil. Itu paling menantang. Apalagi bahan alami lebih sensitif dibandingkan bahan sintetis,” beber Indira.

Sementara itu, Catulla sudah memperoleh paten sederhana formulasi tabir surya dengan kulit buah delima dan biji jintan hitam. Ke depan, mereka berharap inovasi ini terus dikembangkan dan dimanfaatkan secara luas.

“Kami berharap produk ini bisa menjadi inspirasi bagi pelajar lain, agar berani melakukan riset dan menciptakan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Dimitria. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
#tabir surya karya siswa sman 1 solo #tabir surya biji jintan hitam dan kulit delima #tabir surya kulit delima