RADARSOLO.COM - Gaplek, makanan khas Wonogiri biasanya digunakan untuk membuat jajanan tradisional seperti tiwul, gatot, dan kerupuk opak.
Tapi di tangan siswa SMAN 1 Solo, gaplek disulap jadi kue yang cocok dikonsumsi penderita diabetes.
Inovasi camilan sehat berbahan dasar tepung gaplek dan daun matoa ini dinamai kue Satria.
Dikembangkan oleh lima siswa SMAN 1 Solo, yakni Lourensius Rakha Widyadhana, Tara Syaretha Hardeva, Maulana Al Bukhori Danadyaksa, Eisha Shazma Atha Abqari, dan Nismara Putri Anindita.
Siapa sangka, camilan ini meraih medali emas ajang Asean Innovative Science Environmental and Entrepreneur Fair (AISEEF) 2026 yang digelar Indonesia Young Scientist Association (IYSA) di Universita Diponegoro (Undip) Semarang.
Karena kue Satria diklaim bisa membantu menstabilkan kadar gula darah.
Tara Syaretha Hardeva menjelaskan, inovasi ini tidak hanya menghadirkan produk kue, tetapi juga oven dan kemasan ramah lingkungan.
Dari sisi kesehatan, kue ini dapat membantu menstabilkan kadar gula darah.
“Tapi selain itu, dalam prosesnya kami juga sudah membuat oven dan kemasannya sendiri dari singkong,” jelas Tara, Jumat (6/3).
Proses pembuatan kue dimulai dengan tepung singkong yang disangrai menggunakan api kecil hingga ringan, kemudian digiling.
Selanjutnya, gula aren digiling hingga halus. Berikutnya, daun matoa disangrai sekira lima menit hingga kering, lalu dihaluskan menjadi bubuk.
“Semua bahan kemudian dicampur dengan bubuk vanili dan ditambahkan air sedikit demi sedikit, hingga menjadi adonan,” imbuhnya.
Adonan yang sudah tercampur, dicetak dan dipanggang menggunakan oven Satria dengan suhu yang telah diatur. Setelah matang, kue didinginkan sebelum disimpan dalam toples.
Memastikan kualitas produk, Tara dkk juga melakukan uji kandungan di Balai Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB).
“Hasil pengujian menunjukkan kadar gula dalam kue tergolong rendah dan masih dalam batas aman,” ujarnya.
Di sisi lain, oven Satria dibuat dari kombinasi logam dan marmer, agar panas terserap dan dipantulkan secara merata. Alat ini juga dilengkapi thermostat agar suhu tetap stabil.
Selama proses pembuatannya, Tara dkk bekerja sama dengan perajin lokal Pasar Kabangan.
“Kami menggandeng perajin untuk membuat desain alat yang dibutuhkan. Sehingga secara tidak langsung, juga membantu perekonomian UMKM,” bebernya.
Selain produk kue dan alat pemanggang, Tara dkk juga mengembangkan kemasan ramah lingkungan berbahan plastik singkong.
Kemasan ini dibuat dalam ukuran kecil seperti permen, dengan berat 5-10 gram per kemasan.
“Kemasannya tidak disarankan untuk dimakan, tetapi dapat terurai jika terkena air panas,” jelasnya.
Kemasan tersebut dapat bertahan hingga satu tahun. Sedangkan kue Satria memiliki masa simpan sekira satu bulan.
Proses penelitian dan pengembangan inovasi ini berlangsung selama dua bulan.
“Kami berharap kue Satria dapat dikembangkan oleh UMKM di Indonesia. Selain membantu petani singkong, kiha menjadi alternatif camilan yang lebih sehat bagi penderita diabetes,” paparnya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto