RADARSOLO.COM - Wacana penataan ulang hingga penutupan program studi yang tidak sesuai dengan kebutuhan industri, belum lama ini disampaikan oleh Sekjen Kemendiktisaintek. Kebijakan ini bertujuan untuk menekan kesenjangan antara lulusan dan lapangan pekerjaan.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Asosiasi Program Studi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi Indonesia (APPSANTI) Nurhadi menilai, kebijakan tersebut disampaikan terlalu tergesa tanpa mempertimbangkan kompleksitas peran lulusan.
"Ini bukan solusi, seharusnya kementerian bisa melihat kembali profil lulusan satiap prodi dan menjadikannya acuan sebagai bahan pertimbangan," ungkapnya, Minggu (3/5/2026).
Baca Juga: David da Silva Akui Terkejut Malut United Menang Telak Atas Persis Solo dengan 10 Pemain
Menurutnya, upaya menghubungkan dunia perguruan tinggi dengan industri sejatinya bukan hal baru. Sejak era menteri pendidikan Wardiman Djojonegoro, konsep tersebut sudah mulai dirintis melalui berbagai kebijakan pendidikan.
“Relasi antara perguruan tinggi dan industri sudah lama diupayakan. Jadi ini bukan sesuatu yang benar-benar baru,” ungkapnya.
Meski demikian, dia menegaskan, pendekatan yang terlalu menitikberatkan pada kebutuhan industri bukanlah solusi utama. Menurutnya, kementerian seharusnya memetakan terlebih dahulu profil lulusan dari setiap program studi, termasuk kompetensi yang dimiliki alumni serta arah karier mereka setelah lulus.
“Data itu sebenarnya sudah dimiliki oleh fakultas dan universitas. Tinggal bagaimana kementerian membaca dan menggunakannya sebagai dasar kebijakan,” jelasnya.
Dia juga mengingatkan agar tidak muncul pemahaman sempit yang memposisikan perguruan tinggi hanya sebagai “mesin pencetak tenaga kerja industri”. Sebab, fungsi perguruan tinggi, kata dia, mencakup tiga pilar utama, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Nurhadi mencontohkan, lulusan sosial humaniora memiliki cakupan peran yang luas, tidak hanya di sektor industri, tetapi juga di bidang pemberdayaan masyarakat, media, riset, hingga pengambilan kebijakan.
“Banyak lulusan sosiologi dan antropologi yang bekerja sebagai peneliti, praktisi pemberdayaan, hingga HRD di perusahaan. Mereka justru membawa perspektif sosial yang kuat dalam dunia kerja,” katanya.
Di sisi lain, dia mengungkapkan adanya tren peningkatan minat terhadap program studi sosial humaniora dalam beberapa tahun terakhir, sementara sejumlah program studi lain seperti fisika justru mengalami penurunan peminat.
"Antusiasnya masih tinggi, justru yang menurun kalau di UNS itu prodi Fisika," imbuhnya.
Baca Juga: Klub Milik Prabowo Selangkah Lagi Cetak Sejarah! Garudayaksa Pede Tantang PSS Sleman
Dia menilai kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi perguruan tinggi dalam menjaga keseimbangan antarbidang keilmuan.
Ke depan, dia berharap pemerintah bisa merumuskan kebijakan pendidikan tinggi secara komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, dunia industri, hingga para pakar.
“Kementerian perlu duduk bersama semua pihak untuk merumuskan arah kebijakan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan 25 tahun ke depan,” tegasnya.
Baca Juga: Garudayaksa FC Pastikan Diri Promosi ke Liga 1, Resmikan Gantikan Posisi Wakil Papua
Dia menambahkan, setiap program studi sebenarnya telah memiliki peta jalan (roadmap) yang dapat dijadikan acuan dalam penyusunan kurikulum maupun kebijakan pendidikan.
"Setiap prodi pasti punya roadmap yang jelas, lulusannya bekerja dimana saja itu pasti ada datanya. Ini yang perlu dibaca oleh kementerian," pungkasnya. (alf/nik)
Editor : Niko auglandy