RADARSOLO.COM – Mengenyam pendidikan di SMP negeri di Solo, belum jaminan bisa diterima di SMA negeri setelah lulus.
Kondisi ini dialami lulusan SMPN 25 Solo. Mayoritas lulusannya terpaksa lanjut sekolah di SMA/SMK swasta karena terlempar zonasi.
Waka Humas SMPN 25 Solo Deri Hantoro menjelaskan, sekira 70 persen lulusannya terpaksa sekolah di SMA atau SMK swasta. Artinya, hanya sebagian kecil yang diterima di sekolah negeri.
“Kalau dulu kan seleksi (SMA/SMK negeri) berdasarkan nilai. Sekira 60 persen siswa kami bisa masuk negeri. Begitu ada aturan zonasi, anak-anak kami kalah oleh jarak,” jelas Deri, Rabu (13/5).
Baca Juga: Seminar Hardiknas, Dorong Pembelajaran Inovatif dan Berkesadaran
Deri mengakui, banyak siswa SMPN 25 yang berdomisili di luar Solo. Sehingga mereka tidak diuntungkan dalam sistem penerimaan murid baru (SPMB) jenjang SMA/SMK negeri di Kota Bengawan.
Solusinya, SMPN 25 coba menghadirkan sejumlah sekolah swasta dalam ajang Edufair.
Melalui event ini, siswa dan orang tua dikenalkan dengan SMA/SMK swasta. Terutama terkait informasi jurusan, fasilitas, hingga peluang pendidikannya.
Baca Juga: Perkuat Peran Guru Olahraga, Nutrifood Gelar Pelatihan tentang Pola Hidup Sehat
Deri menegaskan, ajang ini bukan bentuk persaingan dengan SMA/SMK negeri. “Semua lulusan SMP dan MTs negeri di Solo, tidak mungkin tertampung di SMA/SMK negeri.
Jumlah lulusannya terlalu besar. Maka sekolah swasta punya peran penting,” bebernya.
Kali ini, 18 SMA/SMK swasta jadi mitra Edufair SMPN 25. Di antaranya SMK Batik 1, SMK Bhinneka Karya, dan SMK Sahid.
“Kalau tidak diterima di sekolah negeri, mungkin ke swasta. Edufair ini memberi saya gambaran sekolah-sekolah swasta di Solo,” ujar Wiwit, salah seorang wali murid asal Kelurahan Manahan, Banjarsari. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto