RADARSOLO.COM – Festival dan Lomba Seni Sastra Siswa Nasional (FLS3N) 2026 jenjang SMP berlangsung meriah di SMPN 1 Solo, Rabu (13/5).
Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi pelajar untuk unjuk gigi di bidang seni dan sastra.
Tercatat berbagai cabang lomba digelar dalam kegiatan yang dihadiri Wakil Wali Kota (Wawali) Solo Astrid Widayani tersebut.
Mulai dari seni tari, musik tradisi, pantomim, solo vokal, dan musik ansambel. Termasuk cabang sastra seperti ilustrasi, mendongeng, dan menulis cerita.
Baca Juga: Seminar Hardiknas, Dorong Pembelajaran Inovatif dan Berkesadaran
Antusiasme peserta terlihat dari semangat 703 siswa saat menampilkan karya dan pertunjukan di hadapan dewan juri serta penonton.
Astrid menjelaskan, FLS3N merupakan ruang kreativitas sekaligus panggung bagi siswa untuk mengembangkan bakat seni dan sastra sejak dini.
Ia mengaku terkesan melihat semangat para peserta dan berbagai pendekatan budaya yang ditampilkan.
Baca Juga: 70 Persen Lulusan SMPN 25 Solo Terlempar Zonasi SMA/SMK Negeri, Sekolah Swasta Jadi Solu
“Ini pertama kali saya hadir di FLS3N tingkat SMP. saya melihat antusiasme siswa sangat bagus. Banyak pendekatan baru berbasis budaya yang ditampilkan. Mulai dari musik tradisi, tari, sampai kreativitas kostum, dan make-up,” jelas Astrid.
Astrid juga mengapresiasi SMPN 1 Solo sebagai host. Menurutnya, kegiatan seperti ini penting untuk memberikan ruang bertumbuh bagi anak-anak, agar potensi mereka berkembang secara positif.
Sebagai kota Budaya, lanjut Astrid, Solo harus terus memperkuat pendidikan berbasis muatan lokal.
Menurutnya, dunia pendidikan, komunitas seni, dan masyarakat harus berjalan beriringan untuk menjaga sekaligus menghidupkan budaya daerah.
“Sebagai Kota Budaya, Solo harus selaras dengan gerakan masyarakat dan pendidikan berbasis muatan lokal. Ini modal untuk menggerakkan Spirit of Java,” bebernya.
Sementara itu, Koordinator Pelaksana FLS3N Sri Wuryanti mengaku ratusan peserta berasal dari SMP negeri dan swasta.
Kepanitiaan melibatkan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya Solo. Sedangkan dewan juri dari praktisi berkompeten di bidang masing-masing, agar penilaian objektif dan independen.
“Kami tidak melibatkan orang dalam untuk penjurian. Harapannya, hasil yang diperoleh benar-benar independen dan objektif,” ujarnya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto