RADARSOLO.COM – Dunia pendidikan dan industri dinilai harus berjalan beriringan untuk menciptakan sumber daya manusia yang tangguh dan siap menghadapi persaingan kerja. Hal itu menjadi fokus dalam talkshow peringatan Hari Pendidikan Nasional sekaligus HUT ke-23 PT Metropolitan Golden Management (MGM) yang digelar di Arafah Grand Ballroom Horison Aziza Solo, Senin (25/5).
Kegiatan bertema “Dari Pendidikan ke Dunia Kerja: Mencetak Sumber Daya Manusia Tangguh dan Siap Kerja di Surakarta” itu dihadiri unsur pemerintah, dunia pendidikan, hingga pelaku industri pariwisata.
Di antaranya Direktur PT Metropolitan Golden Management Basari Bachri, Ketua DPC ASITA Surakarta Vitara Aryani, Kepala Dinas Pendidikan Solo Dwi Ariyatno, dan Ketua PHRI Surakarta Joko Sutrisno.
Baca Juga: Bukber Ala Mudik ke Rumah Nenek, Konsep Baru RAIZA di Horison Aziza Solo
Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani juga turut memberikan sambutan secara virtual karena berhalangan hadir langsung dalam kegiatan tersebut. Sementara sesi materi talkshow yang semula menghadirkan wawali, lalu disampaikan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja Solo Pramutedy Sukoco.
General Manager Horison Aziza Solo Marcelina mengatakan, peringatan HUT ke-23 MGM menjadi momentum untuk memperkuat kontribusi industri hospitality terhadap pengembangan sumber daya manusia. Menurutnya, dunia pendidikan dan industri harus saling terkoneksi agar lulusan siap menghadapi kebutuhan kerja yang terus berkembang.
“Tagline Shaping Future bukan sekadar slogan, tetapi komitmen kami untuk ikut membentuk masa depan industri pariwisata melalui pengembangan sumber daya manusia yang unggul. Kolaborasi antara pendidikan, pemerintah, dan industri menjadi kunci mencetak generasi yang siap kerja dan berdaya saing,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Solo, Senin (25/5/2026).
Baca Juga: 12 Tahun Horison Aziza Solo, Mengakar Kuat dan Terus Berinovasi
Direktur PT MGM Basari Bachri menjelaskan, hingga usia ke-23, jaringan Horison Hotels Group kini telah mengelola 71 hotel di berbagai daerah. MGM juga memiliki segmentasi hotel mulai dari Grand Horison untuk bintang lima, Horison Ultima untuk bintang empat, hingga Horison Express yang menyasar kelas ekonomis.
Basari mengungkapkan, industri hospitality juga mengalami perubahan tren pascapandemi Covid-19. Menurutnya, masyarakat kini mulai mencari pengalaman menginap yang lebih dekat dengan alam dibanding konsep hotel konvensional dalam satu gedung besar.
Karena itu, MGM mulai mengembangkan konsep glamping premium bernama LuxCamp di sejumlah kawasan dataran tinggi dan area wisata alam. Konsep tersebut dinilai lebih fleksibel dengan nilai investasi yang lebih rendah namun memiliki potensi keuntungan lebih cepat dibanding hotel konvensional.
“Kalau hotel biasa investasi per kamar bisa Rp 500 juta dengan pengembalian tujuh sampai delapan tahun. Tapi LuxCamp investasinya sekitar Rp 300 juta per unit, sementara harga sewanya bisa Rp 1,5 juta per malam. Payback period-nya tentu lebih cepat,” jelasnya.
Selain membahas perkembangan bisnis hospitality, Basari juga menyinggung perubahan besar di industri perhotelan akibat perkembangan teknologi. Jika dahulu hotel dikenal sebagai sektor padat karya dengan rasio empat karyawan untuk satu kamar, kini efisiensi membuat jumlah tenaga kerja jauh berkurang.
Meski demikian, dia menilai sentuhan manusia tetap menjadi unsur penting dalam industri jasa. Kehadiran teknologi dan robot dinilai tidak sepenuhnya bisa menggantikan interaksi langsung antara manusia dengan pelanggan dalam layanan hospitality.
Baca Juga: 105 Mobil Ambil Bagian Horison Aziza Solo Wisata Rally 2025
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja Solo Pramutedy Sukoco menyoroti tantangan generasi muda dalam menghadapi dunia kerja. Dia menilai konsistensi, disiplin, dan sikap kerja masih menjadi persoalan utama yang banyak ditemui di kalangan pencari kerja muda.
Pramutedy bahkan menyinggung fenomena meningkatnya pemutusan hubungan kerja terhadap generasi Z yang dinilai kurang mampu beradaptasi dengan aturan perusahaan. Menurutnya, kemampuan teknis saja tidak cukup tanpa diimbangi sikap kerja yang baik.
“Ijazah saja tidak cukup. Yang dibutuhkan sekarang adalah skill, kompetensi, dan personal branding. Soft skill juga menentukan karena banyak yang gagal diterima kerja bukan karena kemampuan teknis, tetapi cara komunikasi dan sikap saat wawancara,” katanya.
Baca Juga: Horison Aziza Solo Ultah, Rayakan dengan Beri Santunan ke Anak Yatim
Dia menambahkan, perkembangan digital membuat kebutuhan dunia kerja ikut bergeser. Berdasarkan data BPS dan Kementerian Ketenagakerjaan, keterampilan digital, komunikasi, dan kemampuan adaptasi kini menjadi kompetensi paling dibutuhkan industri.
Melalui kegiatan tersebut, siswa-siswa SMK di Surakarta diharapkan memperoleh gambaran nyata mengenai dunia kerja, pentingnya penguatan kompetensi, hingga kesiapan mental menghadapi persaingan industri.
Talkshow ini sekaligus menjadi bentuk sinergi antara dunia pendidikan, pemerintah, dan industri perhotelan dalam menyiapkan generasi muda yang adaptif dan siap bersaing di era global. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy