RADARSOLO.COM - Di tengah perkembangan teknologi ramah lingkungan, tiga mahasiswa Program Studi (Prodi) Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo hadirkan inovasi alat pemadam api.
Bukan dengan air atau zat kimia, api dipadamkan dengan gelombang suara frekuensi rendah.
Alat pemadam api dengan gelombang suara ini dinamai Sonic Fire Seal, yang dipamerkan di ajang Krenova 2026.
Alat ini dikreasi tiga mahasiswa Fisika UNS, yakni Maestro Indar Utomo, Panji Ario Putra, serta Ndaru Wildan Satria Yuda.
Baca Juga: Hari Media Sosial Nasional, Anak Rentan Jadi Korban Predator Digital dan Gangguan Mental
Ide pembuatan Sonic Fire Seal berawal dari keresahan mereka terhadap penggunaan alat pemadam kebakaran konvensional. Terutama yang masih mengandalkan air dan bahan kimia.
Menurut Panji, metode tersebut berpotensi menimbulkan kerusakan tambahan. Terutama ketika digunakan pada lokasi yang banyak terdapat perangkat elektronik maupun instalasi kelistrikan.
“Saat terjadi kebakaran di area yang banyak perangkat elektronik, penggunaan air atau bahan kimia justru menimbulkan kerusakan tambahan. Dari situ kami mencoba mencari alternatif lain,” jelas Panji, Jumat (12/6).
Melalui berbagai diskusi dan kajian ilmiah, ketiganya akhirnya menggagas Sonic Fire Seal.
Dalam proses pembuatannya, tim memulai dengan menyusun konsep dan merancang sistem kerja alat.
Mereka kemudian memanfaatkan berbagai komponen bekas untuk membuat prototipe.
Mulai dari subwoofer bekas, hingga sensor-sensor elektronik yang sebelumnya digunakan dalam kegiatan praktikum.
“Prototipe ini dirancang menggunakan sensor api dan mikrokontroler ESP32 sebagai pusat pengendali sistem. Ketika sensor mendeteksi adanya panas atau api, sinyal akan diteruskan ke ESP32,” imbuhnya.
Selanjutnya, sistem mengaktifkan modul pembangkit suara yang terhubung dengan subwoofer.
Sehingga menghasilkan gelombang suara berfrekuensi rendah yang diarahkan menuju sumber api.
Baca Juga: Asah Kompetensi Bahasa Inggris Siswa, Hadirkan Native Speaker Dari Uzbekistan
Menurutnya, gelombang suara tersebut mengganggu pasokan oksigen yang menjadi salah satu unsur penting dalam proses pembakaran.
“Semakin banyak oksigen, api kian besar. Dengan gelombang suara, kami berusaha mengganggu pasokan oksigen. Sehingga api bisa padam," jelasnya.
Untuk membuktikan konsep tersebut, tim melakukan sejumlah pengujian menggunakan api kecil.
Hasilnya, prototipe mampu memadamkan nyala api tersebut melalui gelombang suara yang dihasilkan.
Namun, masih ditemui salah satu kendala terbesar yang mereka hadapi. Terutama pada tahap integrasi sensor dan pemrograman sistem.
Sensor yang digunakan sempat tidak mampu mendeteksi keberadaan api secara akurat. Sehingga sistem tidak merespons sesuai yang diharapkan.
Kendala tersebut membuat Panji dkk harus berulang kali melakukan penyesuaian. Terutama saat logika program dan konfigurasi perangkat.
“Kadang saat ada api, sensornya justru tidak merespons. Tapi setelah mencari referensi dan melakukan berbagai penyesuaian, akhirnya kendala itu bisa kami atasi,” katanya.
Berbekal berbagai sumber pembelajaran di internet dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI), masalah tersebut perlahan berhasil diselesaikan. Prototipe pun dapat bekerja dengan baik.
Baca Juga: SPMB 2026 Jalur Afirmasi SD Sepi, Wali Murid Disebut Gagal Paham Kriterianya
Ke depan, mereka berharap dapat menggunakan komponen yang lebih modern dan berkualitas.
Harapannya, alat tersebut mampu menghasilkan frekuensi yang lebih optimal. Bahkan dapat digunakan untuk menangani kebakaran dengan skala lebih besar.
“Kami ingin alat ini benar-benar siap digunakan di lapangan. Tidak hanya untuk api kecil, tetapi juga mampu memadamkan api yang lebih besar dengan sistem yang lebih andal,” bebernya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto